Kenapa Orang Jerman Tidak Mandi Setiap Hari?
Suara Kalbar – Di Jerman, kebiasaan mandi tidak selalu dilakukan setiap hari seperti di negara-negara Eropa Selatan. Sebagian besar warga justru hanya mandi sekitar dua kali dalam seminggu. Kebiasaan ini bukan tanpa alasan, melainkan berkaitan dengan kesehatan kulit hingga kesadaran lingkungan.
Berdasarkan survei The Global Index 2025, frekuensi mandi di Eropa menunjukkan perbedaan mencolok. Negara-negara seperti Italia, Portugal, Spanyol, dan Yunani mencatat lebih dari 95% penduduk mandi setiap hari. Sementara itu, di Jerman, angkanya berada di bawah 65%.
Rata-rata, orang dewasa Jerman hanya mandi seluruh tubuh sekitar dua kali seminggu.
Salah satu faktor utama adalah kondisi geografis. Jerman memiliki iklim sedang yang cenderung sejuk dengan musim dingin yang panjang. Kondisi ini membuat tubuh tidak mudah berkeringat, sehingga kebutuhan mandi setiap hari menjadi lebih rendah dibandingkan wilayah Mediterania yang panas dan lembap.
Kebiasaan ini juga didukung oleh pandangan medis. Menurut Claudia Mayer dari Rumah Sakit Universitas Heidelberg, mandi terlalu sering dapat merusak lapisan pelindung alami kulit.
Air panas dan sabun yang keras bisa menghilangkan minyak alami serta mikroorganisme baik di kulit. Dampaknya, kulit menjadi kering, gatal, dan rentan iritasi.
Karena itu, banyak ahli dermatologi menyarankan mandi hanya saat diperlukan, terutama di negara dengan iklim dingin.
Efek Krisis Energi
Krisis energi pada 2022 turut memengaruhi kebiasaan ini. Survei YouGov menunjukkan 45% warga Jerman bersedia mengubah kebiasaan kebersihan demi menghemat energi. Mereka membatasi waktu mandi menjadi 5–8 menit, menggunakan pancuran hemat air, dan mematikan keran saat bersabun.
Kebiasaan ini mencerminkan konsep Umweltbewusstsein atau kesadaran lingkungan yang kuat dalam budaya Jerman.
Alternatif Katzenwäsche
Alih-alih mandi penuh setiap hari, banyak warga Jerman menerapkan metode “Katzenwäsche” atau “mandi ekspres”.
Metode ini dilakukan dengan membersihkan bagian tubuh penting menggunakan kain lap basah, seperti wajah, ketiak, dan area sensitif.
Cara ini dinilai efektif menjaga kebersihan tanpa menghilangkan kelembapan alami kulit, sekaligus menghemat air dan energi.
Dermatolog Rachel Nazarian menegaskan bahwa tidak ada aturan baku soal frekuensi mandi.
Di iklim dingin, mandi dua hingga tiga kali seminggu sudah cukup. Namun, di daerah tropis atau bagi mereka yang aktif secara fisik, mandi setiap hari tetap disarankan.
Sumber: Beritasatu.com






