Mengapa Cepat Kenyang Saat Berbuka? Ini Penjelasan Ahli Gizi
Suara Kalbar – Banyak orang merasakan kenyang hanya beberapa menit setelah azan Magrib berkumandang, meski yang dikonsumsi baru sebatas air, kurma, atau secangkir kopi. Sensasi cepat penuh itu bukan semata soal porsi, melainkan respons biologis tubuh setelah berjam-jam berpuasa.
Ahli gizi sekaligus perancang menu iftar, Malak Kandiel, menjelaskan bahwa lambung bekerja lebih lambat selama puasa. Durasi tanpa asupan membuat proses pencernaan melambat sehingga sedikit makanan pun sudah memicu rasa kenyang.
“Proses pencernaan di lambung melambat karena lamanya waktu berpuasa. Akibatnya, seseorang bisa merasa kenyang hanya dengan sedikit makanan dan membutuhkan waktu lebih lama untuk mencernanya,” ujar Malak seperti dikutip Arab News.
Menurut dia, puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan juga latihan pengendalian diri yang berdampak pada regulasi hormon. Ia menepis anggapan bahwa puasa membuat ukuran lambung menyusut. Yang terjadi, kata dia, adalah perlambatan sistem cerna sehingga tubuh memerlukan waktu untuk kembali beradaptasi.
Ia mengingatkan agar tidak tergesa-gesa saat berbuka. Makan terlalu cepat berisiko membuat udara ikut tertelan dan memicu kembung. Konsumsi makanan berminyak atau gorengan secara langsung juga dapat mengiritasi saluran cerna, terutama usus besar.
Strategi Berbuka yang Lebih Ramah Lambung
Malak menyarankan pola berbuka secara bertahap agar sistem pencernaan memiliki waktu untuk “aktif” kembali:
Mulai dengan air dan kurma. Segelas air dan satu hingga dua butir kurma cukup untuk mengembalikan energi awal.
Beri jeda. Luangkan sekitar 10 menit sebelum menyantap hidangan utama, misalnya dengan menunaikan salat Magrib.
Pilih asupan ringan. Sup hangat atau sumber protein seperti ayam dan telur lebih dianjurkan ketimbang karbohidrat berat atau makanan tinggi lemak di awal.
Perhatikan menu sahur. Konsumsi makanan bernutrisi seimbang dan tambahkan buah seperti pisang untuk membantu menjaga hidrasi sepanjang hari.
Pandangan serupa disampaikan Executive Chef Rixos Obhur Jeddah, Gokhan Kekec. Ia menilai penyusunan menu berbuka perlu mempertimbangkan kondisi fisiologis tubuh yang baru saja “beristirahat” dari asupan makanan.
“Tubuh membutuhkan pengaktifan kembali secara lembut setelah berjam-jam tanpa makanan. Fokusnya pada hidrasi, gula alami, dan kaldu ringan,” ujarnya.
Kekec mengamati adanya perubahan preferensi konsumen yang kini lebih sadar kesehatan. Permintaan terhadap sup ringan, protein panggang, serta pencuci mulut rendah gula meningkat. Konsep live cooking pun dihadirkan untuk memastikan hidangan seperti pide, doner, dan kebab tersaji segar dengan kualitas rasa dan nutrisi yang terjaga.
Pola makan yang bertahap tak hanya membantu tubuh beradaptasi, tetapi juga memberi ruang untuk menikmati momen kebersamaan Ramadan tanpa rasa begah berlebihan. Dalam konteks ini, berbuka bukan sekadar melepas lapar, melainkan mengelola ritme tubuh dengan lebih bijak.
Sumber: Beritasatu.com
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






