Ketika Warga Kampung Yuka Bertahan di Tengah Banjir Rob dan Ketidakpastian Solusi
Kampung Yuka telah lama akrab dengan banjir rob yang datang seperti tamu tak diundang, tetapi selalu tahu jalan pulang. Ia hadir bersama angin dan hujan, menyusup pelan dari teras ke ruang tengah, lalu meninggalkan lumpur dan kelelahan yang harus dibereskan satu per satu. Bagi warga yang tinggal tak jauh dari tepian Sungai Kapuas, hidup berarti berdamai dengan kemungkinan bahwa air bisa naik kapan saja, bahkan ketika hari terasa biasa-biasa saja.
Penulis: Maria
Pontianak (Suara Kalbar) – Siti Sahara (46) masih mengingat bagaimana siang itu air yang semula hanya menggenang di teras rumahnya perlahan berubah menjadi ancaman. Ia sedang berjaga di depan pintu, menahan sampah yang terbawa arus agar tidak masuk ke dalam rumah, ketika angin datang lebih kencang dari sebelumnya.
Kampung Yuka, Kelurahan Sungai Beliung, Kecamatan Pontianak Barat, Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar) merupakan kawasan padat penduduk yang berada di bantaran Sungai Kapuas. Letaknya yang berhadapan langsung dengan sungai membuat wilayah ini menjadi salah satu kawasan paling rentan terdampak banjir, terutama saat banjir rob terjadi bersamaan dengan hujan dan angin kencang.
Air yang sempat surut mendadak naik lagi, bahkan dalam sehari bisa dua sampai tiga kali pasang, membuatnya tak sempat benar-benar menarik napas lega.
“Sekali lihat, (air) sudah besar. Saya langsung kabur ke tetangga, rasanya takut,” ujarnya pada Sabtu (24/01/2026), mengenang detik-detik ketika jantungnya berdebar dan ia memutuskan berlari ke rumah ibunya di sebelah karena khawatir air pasang yang tiba-tiba naik pada awal Desember 2025 lalu.

Rumahnya termasuk yang paling terdampak di deretan itu, mengetahui jaraknya yang hanya berkisar 100 meter dari tepian Sungai Kapuas. Ia menyebut banjir kali ini sebagai yang tertinggi selama ia tinggal di sana, bahkan melampaui banjir sekitar lima tahun lalu yang bercampur lumpur.
“Air, angin, hujan, datang bersamaan. Sampah-sampah juga nyerang,” katanya.
Tempat tidur yang sudah ditinggikan hanya menyisakan jarak sejengkal dari permukaan air, sementara kulkas terbalik dan perabot bergeser tanpa sempat diselamatkan sepenuhnya. Siang itu ia sendirian di rumah karena dua anaknya yang masih SMP dan SMA sedang berada di sekolah, sedangkan suaminya bekerja di luar kota. Dalam situasi seperti itu, tak banyak yang bisa ia lakukan selain menyelamatkan diri, pakaian yang ada di tubuh dan sedikit barang berharga.
Kelelahan bukan hanya datang dari derasnya air, tetapi juga dari siklus yang berulang. Siti mengaku sudah hafal pola banjir di kampungnya. Biasanya, air besar datang pada penghujung tahun hingga awal tahun berikutnya, sekitar November, Desember, atau Januari, meski belakangan ini waktunya semakin sulit diprediksi.
Ia dan warga lain kerap memantau informasi pasang melalui telepon genggam, namun pengalaman mengajarkan bahwa tanda paling nyata adalah angin yang tiba-tiba menguat.
“Kalau air pasang sudah naik kedua kali, maka kemungkinan akan lebih tinggi lagi airnya. Kadang tiga kali, empat kali dalam sehari,” tuturnya.

Letih, satu kata yang secara spontan disebutkan Siti saat mengingat banjir rob yang selalu datang berulang kali.
“Sudah letih bersih-bersih rumah karena ya itu banjir datang dengan lumpur dan sampah, ketika sudah dibersihkan dan mau istirahat, naik lagi airnya,” ujar Siti menghela nafas.
Apa yang dialami Siti juga dirasakan Iyut (48), warga yang telah 19 tahun tinggal di kawasan tersebut. Menurutnya, banjir Desember lalu merupakan yang paling besar sepanjang ia menetap di sana.
“Dalam 19 tahun saya tinggal di sini, banjir kemarin itu paling besar. Biasanya banjir seperti ini biasa, tapi yang itu luar biasa. Anginnya kencang, gelombang tinggi, jadi sangat mengkhawatirkan,” ujarnya.
Ia menilai tinggal di pinggiran sungai memang mengandung risiko, namun warga tetap berharap ada upaya struktural yang dapat mengurangi dampak kiriman air dan sampah.
“Harapan kami ada pembatas di tepi sungai. Kalau ada turap atau pintu air, setidaknya bisa meminimalisir kiriman sampah dan batang besar,” katanya.
Kepadatan kawasan turut memperparah dampak banjir. Data Badan Pusat Statistik dalam Kota Pontianak Dalam Angka 2025 mencatat Kecamatan Pontianak Barat dihuni 151.732 jiwa dengan kepadatan mencapai 9.262 jiwa per kilometer persegi. Permukiman yang berhimpitan di bantaran sungai membuat ruang resapan air semakin terbatas, sehingga setiap kenaikan muka air cepat merambat dari teras ke ruang tengah rumah warga.
Selain air, persoalan sampah menjadi bayang-bayang yang selalu menyertai banjir rob di Kampung Yuka. Saat pasang tinggi, kiriman sampah dari hulu tersangkut di kolong rumah, bercampur dengan sampah rumah tangga yang tak terkelola sempurna.
Siti menyadari sebagian persoalan itu berpulang pada kesadaran warga sendiri. Menjelang musim air pasang, ia memilih langsung membuang sampah ke tempat pembuangan agar tidak terbawa arus keesokan harinya.
“Kalau tidak dibuang dengan benar, sampah kita sendiri yang menyerang kita,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa perlahan mulai ada perubahan sejak gerakan gotong royong dan penyediaan tempat sampah digiatkan di lingkungan mereka.
Beberapa waktu setelah banjir surut pada tanggal 8-9 Desember 2025 lalu, Wali Kota Pontianak dan Gubernur Kalbar sempat meninjau kawasan tersebut dan membagikan bantuan sembako.
Namun bagi warga, kunjungan itu belum menjawab kegelisahan tentang solusi jangka panjang. Siti mengaku tidak mendengar secara langsung rencana nyata yang akan dilakukan pemerintah ke depan.
“Kalau ada solusi untuk tahan banjir, itu saja harapan kita. Kalau bisa ada tanggul,” katanya.
Ia memahami bahwa banjir rob berkaitan dengan pasang air sungai dan laut yang tak sepenuhnya bisa dikendalikan, tetapi ia tetap berharap ada langkah nyata yang bisa meminimalisir dampaknya.

Pada akhirnya, hidup di Kampung Yuka berjalan mengikuti irama pasang dan surut. Ketika air datang, warga berjaga, mengangkat barang, dan bersiap mengungsi jika perlu. Ketika air surut, mereka membersihkan lumpur, mengangkut sisa sampah, dan menata ulang rumah yang kembali basah.
“Capek setiap tahun begini. Kita pengen tidak banjir lagi,” kata Siti pelan. Di tengah kepadatan bantaran Sungai Kapuas dan ketidakpastian cuaca, harapan itu terus mereka simpan, menunggu hari ketika air tak lagi menjadi ancaman yang datang berulang.
Kampung Yuka, Kelurahan Sungai Beliung, Kecamatan Pontianak Barat, merupakan kawasan padat penduduk yang berada di bantaran Sungai Kapuas. Letaknya yang berhadapan langsung dengan sungai membuat wilayah ini menjadi salah satu kawasan paling rentan terdampak banjir, terutama saat banjir rob terjadi bersamaan dengan hujan dan angin kencang.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Kota Pontianak Dalam Angka 2025 mencatat, Kecamatan Pontianak Barat dihuni oleh 151.732 jiwa dengan tingkat kepadatan mencapai 9.262 jiwa per kilometer persegi, termasuk yang tertinggi di Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar). Kepadatan ini memperbesar dampak banjir karena ruang resapan air yang semakin terbatas, terutama di kawasan permukiman bantaran sungai seperti Kampung Yuka.
Sampah, Sungai, dan Banjir yang Dianggap “Biasa”
Ketua Penggerak Kawasan Gaharu Kampung Yuka yang diinisiasi bersama Ashoka Indonesia, Octavia Shinta Aryani, menyebut persoalan lingkungan yang paling nyata dirasakan warga adalah sampah dan banjir yang datang bersamaan.
Ia menjelaskan, saat banjir terjadi, sampah dari hulu Sungai Kapuas kerap terbawa arus dan tersangkut di bawah rumah-rumah warga. Kondisi ini membuat lingkungan menjadi kotor, meskipun sebagian warga mengaku telah membuang sampah rumah tangga di tempat yang tersedia.
“Warga sering bilang, sampah itu bukan dari mereka. Saat banjir, sampah datang dari sungai, nyangkut di bawah rumah. Tapi ketika ditanya tempat pembuangan sampahnya dimana, ternyata banyak yang hanya menaruh di halaman karena memang tidak ada sarana yang memadai,” ujar Shinta saat ditemui langsung di Pontianak pada Selasa (20/01/2026) siang.
Menurutnya, ketiadaan fasilitas pengelolaan sampah memperkuat kebiasaan lama, sementara banjir rob yang berulang membuat sebagian warga merasa kondisi tersebut sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Banjir yang terjadi pada 8-9 Desember 2025 menjadi salah satu contoh. Air pasang naik cukup tinggi dan merendam kawasan permukiman. Namun dalam data resmi BPBD Kota Pontianak tahun 2025, peristiwa tersebut tidak tercatat sebagai bencana banjir karena tidak memenuhi kriteria tinggi muka air dan durasi genangan.

Di sisi lain, sejumlah warga yang dikutip dalam pemberitaan menyebut banjir tersebut sebagai yang tertinggi dalam beberapa dekade terakhir. Perbedaan ini menunjukkan adanya jarak antara pengalaman warga di lapangan dan pencatatan formal kebencanaan.
Dari Gotong Royong hingga Perubahan Pola Pikir
Melihat kondisi tersebut, sejumlah komunitas lingkungan membentuk Penggerak Kawasan Gaharu Kampung Yuka sejak 2023. Alih-alih memulai dari daftar masalah, pendekatan yang digunakan justru berangkat dari potensi warga.
“Kami melihat Kampung Yuka punya modal sosial yang kuat, yaitu gotong royong. Tantangannya adalah membuka pola pikir warga bahwa mereka punya potensi dan tidak harus selalu menunggu bantuan,” kata Shinta.
Ia menyebut mengubah kebiasaan dan pola pikir bukan hal mudah. Banjir rob kerap dianggap sebagai kejadian alam yang tidak bisa dilawan. Namun, setidaknya warga diajak untuk mengurangi dampak, salah satunya dengan menjaga lingkungan agar tidak dipenuhi sampah saat air meluap.
Kegiatan gotong royong, diskusi warga, hingga pelatihan pemilahan sampah menjadi pintu masuk membangun kesadaran kolektif. Meski jumlah warga yang terlibat belum besar, Shinta menilai perubahan mulai terlihat.

“Sekarang ketika diajak gotong royong, mereka mau turun tanpa menunggu RT atau RW. Itu perubahan kecil, tapi penting,” ujarnya.
Pemerintah: Antisipasi Tanpa Solusi Struktural
Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bappeda) Kota Pontianak, Sidig Handanu Widoyono, menyebut bahwa hingga kini pemerintah kota belum memiliki solusi struktural untuk mengatasi banjir rob di kawasan bantaran Sungai Kapuas, termasuk Kampung Yuka.
Menurut Sidig, banjir rob terjadi akibat desakan air laut yang masuk ke Sungai Kapuas dan diperparah oleh cuaca buruk.
“Untuk mengurangi risiko banjir rob, saat ini memang belum ada. Kita belum punya tanggul di pinggir sungai. Yang bisa dilakukan pemerintah kota adalah memberikan peringatan dini kepada masyarakat beberapa hari sebelum air pasang tinggi,” ujarnya.
Langkah lain yang dilakukan pemerintah, kata Sidig, lebih difokuskan pada banjir akibat hujan, seperti perbaikan drainase dan parit. Namun untuk banjir rob, upaya yang ada masih sebatas antisipasi dan penanganan saat kejadian.
Peneliti: Risiko Bisa Dikelola, Pilihannya Ada
Berbeda dengan pernyataan pemerintah kota, para peneliti yang tergabung dalam program FINCAPES (Financing Climate-Resilient Infrastructure for Coastal Ecosystems and Societies) menilai banjir rob di Pontianak, termasuk di Kampung Yuka, bukan tanpa pilihan solusi.
Penelitian yang melibatkan University of Waterloo, Universitas Syiah Kuala, dan mitra lainnya memodelkan dampak perubahan iklim menggunakan beberapa skenario emisi (RCP 2.6, 4.5, dan 8.5).
Mawardi Muhammad, Program Officer FINCAPES, menjelaskan bahwa hasil kajian menunjukkan potensi kenaikan muka air yang signifikan di beberapa lokasi Pontianak, bahkan mendekati dua meter dalam skenario tertentu. Namun, kondisi tersebut tidak berarti seluruh kota akan tenggelam.
“Tidak semua Pontianak akan terdampak parah, tapi ada lokasi-lokasi tertentu yang risikonya jauh lebih tinggi. Itu yang seharusnya menjadi fokus perencanaan,” ujarnya saat dikonfirmasi langsung di Pontianak pada Kamis (15/01/2026).
Brent Doberstein, Associate Professor Geography and Environmental Management University of Waterloo, menambahkan bahwa Pontianak masih memiliki waktu sekitar 30 tahun untuk melakukan adaptasi.
“Pilihan selalu ada. Pemerintah bisa memilih tidak melakukan apa-apa dan menerima konsekuensinya, atau melakukan perlindungan dengan infrastruktur, meskipun mahal. Alternatif lain adalah meninggikan bangunan, atau secara bertahap memindahkan permukiman dari zona rawan banjir,” jelas Brent saat dikonfirmasi langsung di Pontianak pada Kamis (15/01/2026).
Menurut Stefan Steiner, Professor Statistics and Actuarial Science University of Waterloo, tantangan Pontianak diperberat oleh topografi kota yang datar sehingga aliran air sulit mengalir secara alami.
“Drainase harus dirancang sebagai satu sistem yang terintegrasi. Kalau salah desain, justru bisa menambah genangan. Prinsipnya sama seperti jalan, tidak semua pembangunan mengurangi kemacetan,” ujarnya saat dikonfirmasi langsung di Pontianak pada Kamis (15/01/2026).
Para peneliti juga menyoroti pentingnya menghidupkan kembali kearifan lokal, seperti rumah panggung atau hunian bertingkat yang adaptif terhadap naik-turunnya muka air.






