SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Opini Muhasabah di Ujung Usia: Jika Ini Ramadhan Terakhirku?

Muhasabah di Ujung Usia: Jika Ini Ramadhan Terakhirku?

Ilustrasi

Oleh: Gusti Hardiansyah

Subuh belum lama berlalu. Di beranda rumah yang mulai sepi, saya menyeruput koptagul—kopi tanpa gula—hangat yang menguar pelan. Pahitnya jujur. Seperti usia yang tak lagi muda. Seperti Ramadhan yang kini terasa berbeda.

Dulu, Ramadhan identik dengan euforia: menu berbuka, pakaian baru, toples kue yang berderet rapi. Kita merasa hidup masih panjang. Waktu seperti sungai yang tak akan kering.

Kini, sungai itu terasa menyempit.

Ramadhan datang dengan getar yang lebih dalam. Ia bukan lagi perayaan semata, melainkan panggilan pulang. Usia bukan sekadar angka, tetapi alarm spiritual yang berdenting halus. Kita mulai melihat kawan sebaya terbaring sakit. Ada yang berpulang tanpa banyak tanda. Nama-nama yang dulu tertawa bersama kini hanya tersisa di undangan tahlil.

Dan hati pun bertanya lirih: Jika ini Ramadhan terakhirku, sudah siapkah aku?

Al-Qur’an mengingatkan,

“Kullu nafsin dzaaiqatul maut.”

Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati (QS. Ali ‘Imran: 185).

Ayat itu sederhana, tetapi mengguncang. Ia tidak menyebut usia. Tidak menyebut jabatan. Tidak menyebut kesiapan. Kematian bukan soal jadwal, melainkan kepastian.

Di usia kini, fisik tak lagi sekuat dulu. Puasa harus lebih hati-hati. Asam lambung memberi sinyal. Lutut berderak sebelum berdiri tarawih. Namun justru di situlah letak maknanya: tubuh yang melemah memaksa jiwa untuk lebih bersandar kepada Allah.

Ramadhan bukan lagi tentang terlihat rajin. Bukan lomba khatam tercepat. Bukan pula panggung kesalehan digital. Ia adalah ruang sunyi untuk rekonsiliasi batin.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Man shaama Ramadhaana iimaanan wahtisaaban, ghufira lahu maa taqaddama min dzambih.”

Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan penuh pengharapan pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR. Bukhari dan Muslim).

Kata kuncinya: iman dan ihtisab—kesadaran dan keikhlasan. Bukan rutinitas kosong.

Karena jujur saja, dosa masa muda kita tidak sedikit. Lisan yang pernah melukai. Waktu yang terbuang. Shalat yang ditunda. Orang tua yang mungkin kita kecewakan. Ramadhan hadir seperti kesempatan ulang. Seolah Allah berbisik, “Masih ada waktu. Perbaiki.”

Di usia ini pula, kita sadar: anak-anak sedang melihat. Cara kita menyambut Ramadhan akan mereka tiru. Jika yang mereka lihat hanya dapur dan dekorasi, itulah yang mereka anggap inti. Namun jika mereka melihat ayah bangun lebih awal untuk tahajud, ibu melafalkan istighfar dengan mata basah, mereka belajar makna yang tak tertulis.

Al-Qur’an menegaskan:

“Yaa ayyuhalladziina aamanuu kutiba ‘alaikumush-shiyaam kamaa kutiba ‘alalladziina min qablikum la’allakum tattaquun.”

Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS. Al-Baqarah: 183).

Tujuan akhirnya adalah takwa—kesadaran permanen bahwa hidup ini dalam pengawasan-Nya.

Ramadhan sejatinya adalah latihan melepaskan dunia. Menahan diri dari yang halal agar kita kuat meninggalkan yang haram. Mengikis ego. Mengurangi ambisi yang tak perlu. Menata ulang prioritas.

Karena kenyataannya sederhana: yang ikut ke kubur hanya amal. Bukan pengikut media sosial. Bukan omzet. Bukan pujian.

Rasulullah ﷺ mengingatkan:

“Ittaqullaha haitsu maa kunta.”

Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada (HR. Tirmidzi).

Takwa tidak mengenal usia, tetapi usia mengingatkan kita untuk serius.

Menjelang Ramadhan ini, mungkin yang perlu kita siapkan bukan hanya kurma dan sirup, tetapi hati yang lapang untuk meminta maaf, keberanian berdamai, dan kesungguhan memperbaiki. Sudahkah kita meminta maaf kepada orang tua? Sudahkah kita meredakan dendam yang diam-diam mengeras?

Pahitnya koptagul di tangan terasa menguatkan. Ia mengingatkan bahwa manis tak selalu menyelamatkan. Kadang yang pahit justru menyadarkan.

Tidak semua orang diberi kesempatan sampai usia ini. Jika Allah masih memberi umur, itu bukan kebetulan. Itu amanah.

Maka jangan jalani Ramadhan seperti tahun lalu. Naikkan levelnya. Perdalam sujudnya. Lembutkan lisannya. Perbanyak istighfar.

Bisa jadi satu Ramadhan yang dijalani dengan sungguh-sungguh menjadi titik balik abadi.

Karena mungkin… ini bukan Ramadhan biasa.

Dan pertanyaannya tetap sama, di antara sisa hangat kopi dan cahaya pagi yang pelan menanjak:

Apakah kita masuk sebagai orang yang sama, atau sebagai jiwa yang lebih siap pulang?

*Penulis adalah Guru Besar Universitas Tanjungpura/Ketua ICMI Orwil Kalimangan Barat

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan