Ketika Langit Pernah Memanggil Manusia
Catatan Kecil tentang Isra Mi’raj dan Shalat yang Sering Kita Tunda
Oleh: Prof. Gusti Hardiansyah
Ada malam-malam tertentu dalam sejarah manusia yang tidak sekadar berlalu, tetapi meninggalkan gema panjang dalam kesadaran umat. Isra Mi’raj adalah salah satunya. Ia bukan hanya peristiwa, melainkan pengingat—bahwa pernah ada saat ketika langit begitu dekat dengan bumi, dan manusia dipanggil langsung oleh Tuhannya.
Pada malam itu, Rasulullah ﷺ diperjalankan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu diangkat menembus lapisan demi lapisan langit. Al-Qur’an merekamnya dengan kalimat yang tenang, tetapi sarat makna:
سُبْحَانَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًۭا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ
Subḥānallażī asrā bi‘abdihī laylan minal-masjidil-ḥarāmi ilal-masjidil-aqṣal-lażī bāraknā ḥaulahū…
(QS. Al-Isrā’: 1)
Ayat ini selalu mengajak kita merenung: mengapa Allah menyebut Rasul-Nya sebagai “hamba” (‘abd), bukan dengan gelar kenabian atau kemuliaan lainnya? Barangkali karena pada puncak kedekatan dengan Tuhan, manusia justru dipanggil dengan identitas paling hakiki—seorang hamba.
Dari seluruh perjalanan kosmik itu, Allah ﷻ tidak menghadiahkan kekuasaan atau kemewahan duniawi. Yang diberikan justru shalat—ibadah yang paling sering kita tunda, kita percepat, bahkan kadang kita anggap sebagai beban.
Shalat dan Kita yang Selalu Merasa Sibuk
Shalat diwajibkan langsung di Sidratul Muntaha. Tidak melalui bumi. Tidak melalui perantara manusia. Ia adalah panggilan langsung dari langit.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الصَّلَاةُ عِمَادُ الدِّينِ
Aṣ-ṣalātu ‘imādud-dīn.
Shalat adalah tiang agama.
Namun, mari jujur sejenak.
Berapa kali shalat kita hadir hanya sebagai rutinitas?
Berapa kali tubuh berdiri, tetapi pikiran tertinggal pada urusan dunia?
Berapa kali kita merasa “sudah shalat”, padahal belum benar-benar berjumpa dengan Tuhan?
Allah ﷻ mengingatkan dengan tegas:
إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ
Innaṣ-ṣalāta tanhā ‘anil-faḥsyā’i wal-munkar.
(QS. Al-‘Ankabūt: 45)
Jika shalat belum membentuk akhlak, menenangkan jiwa, dan menuntun perilaku, boleh jadi persoalannya bukan pada ajaran agama, melainkan pada cara kita menghadirkan hati di dalamnya.
Isra Mi’raj dan Kelelahan Manusia Modern
Kita hidup di zaman yang sangat sibuk, tetapi mudah letih.
Banyak agenda, tetapi sedikit jeda.
Banyak capaian, tetapi kerap kehilangan makna.
Isra Mi’raj seolah berbisik pelan:
jika hidup terasa sesak, mungkin karena kita terlalu lama menetap di bumi dan lupa menengadah ke langit.
Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan:
أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ
Awwalu mā yuḥāsabu bihil-‘abdu yaumal-qiyāmati aṣ-ṣalāh.
(HR. Abu Dawud)
Bukan seberapa tinggi posisi kita.
Bukan seberapa banyak yang kita miliki.
Melainkan bagaimana shalat kita.
Menjaga Jejak Langit dalam Hidup Sehari-hari
Isra Mi’raj tidak pernah benar-benar berakhir. Ia berulang setiap hari—lima kali—dalam bentuk yang sangat sederhana. Setiap takbir adalah pengakuan bahwa ada yang lebih besar dari seluruh urusan kita.
Mungkin kita tidak mampu menembus langit sebagaimana Rasulullah ﷺ. Namun kita diberi jalan yang lebih dekat: sujud.
Di tengah dunia yang gaduh, shalat adalah ruang sunyi.
Di tengah ego yang meninggi, sujud adalah peluruhan diri.
Di tengah kelelahan jiwa, shalat adalah tempat pulang.
Isra Mi’raj mengajarkan satu hal sederhana:
sebelum kita sibuk mengubah dunia, hadirlah lebih dulu di hadapan Tuhan.
Barangkali, dari shalat yang lebih jujur, akan lahir manusia yang lebih jernih.
Dan dari manusia yang lebih jernih, semoga tumbuh peradaban yang lebih beradab.
*Penulis adakah Ketua ICMI Orwil Kalimantan Barat/Guru Besar Untan Pontianak
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






