Jasmin: Rektor UNU Kalbar jangan Panik, Persoalan Kampus harus Dijawab dengan Evaluasi Terbuka
Kubu Raya (Suara Kalbar) – Pendiri Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Barat (UNU Kalbar), Dr. Jasmin Haris, meminta Rektor UNU Kalbar, Prof. Dr. Sukino, M.Ag., tidak panik dalam menyikapi berbagai persoalan yang belakangan mencuat di lingkungan kampus.
Ia menegaskan, kritik yang disampaikan bukan merupakan konflik pribadi, melainkan bentuk kepedulian terhadap keberlangsungan dan masa depan institusi pendidikan tersebut.
“Munculnya demonstrasi mahasiswa dalam jumlah besar, pengaduan sejumlah dosen, serta keresahan pejabat di lingkungan kampus menjadi sinyal serius yang tidak boleh diabaikan,” beber Jasmin dalam keterangan tertulis yang diterima Suarakalbar.co.id, Jumat (6/11/2026).
Kondisi tersebut, kata dia, harus menjadi momentum untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kepemimpinan dan tata kelola UNU Kalbar.
Ia mengungkapkan, selama satu tahun terakhir terdapat sejumlah persoalan yang perlu mendapatkan penjelasan secara terbuka. Di antaranya dugaan pelanggaran Statuta, belum jelasnya perencanaan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, pemberhentian dosen yang dipersoalkan prosedurnya, hingga persoalan pemenuhan hak dosen dan karyawan.
“Salah satu hal yang turut disorot adalah pembayaran tunjangan hari raya (THR) tahun 2026 yang berdasarkan informasi diterimanya baru terealisasi sebesar 50 persen,” ungkap Jasmin.
Jasmin menilai, berbagai persoalan tersebut tidak seharusnya dipandang sebagai kritik personal terhadap rektor. Sebaliknya, seluruhnya perlu dijawab melalui mekanisme pemeriksaan, klarifikasi, dan pertanggungjawaban kelembagaan.
Selain itu, ia mempertanyakan kebijakan pembekuan koperasi kampus serta transparansi pengelolaan pengadaan baju almamater dan plakat yang sebelumnya berkaitan dengan pengelolaan kampus dan koperasi.
“Saya meminta agar kebijakan maupun proses pengadaan tersebut dijelaskan secara terbuka, profesional, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada pihak-pihak terkait,” tegas Jasmin.
Jasmin menyebutkan, para pendiri sebelumnya telah menyampaikan peringatan tertulis sekaligus membuka ruang dialog. Karena itu, menurutnya, tidak ada alasan bagi pihak rektorat untuk menghindari komunikasi dan pembahasan secara langsung.
“Jangan salah memahami persoalan ini. Saya tidak sedang berkonflik dengan rektor. Saya sedang menyuarakan keresahan yang muncul di dalam rumah besar UNU Kalbar. Ketika mahasiswa berdemonstrasi, dosen mengadu, dan pejabat kampus resah, maka yang harus dievaluasi adalah tata kelolanya, bukan orang yang menyampaikan kritik,” tegasnya.
Ia melanjutkan, dirinya tidak bermaksud mencari persoalan, tetapi merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menyampaikan kritik ketika masa depan lembaga yang diperjuangkan para pendiri dinilai sedang menghadapi persoalan.
“Saya mengingatkan bahwa UNU Kalbar memiliki sejarah panjang perjuangan para pendiri, mulai dari proses perintisan hingga memperoleh izin pendirian pada 17 Oktober 2014,” beber Jasmin lagi.
Menurutnya, rektor yang saat ini memimpin harus memahami bahwa universitas bukan milik pribadi maupun kelompok tertentu. UNU Kalbar merupakan amanah organisasi dan masyarakat Kalimantan Barat yang harus dikelola berdasarkan Statuta serta prinsip tata kelola perguruan tinggi yang baik.
“Jangan lupakan sejarah. Tidak ada setitik keringat dan sepersen pun kontribusi Rektor saat ini dalam perjuangan awal pendirian UNU Kalbar. Jabatan adalah amanah, bukan kekuasaan tanpa batas,” ujarnya.
Jasmin juga mengajak Rektor UNU Kalbar untuk berani membuka ruang dialog dan memberikan penjelasan atas berbagai persoalan yang dipertanyakan. Ia menilai, keterbukaan dan pertanggungjawaban merupakan langkah penting untuk memulihkan kepercayaan sivitas akademika.
“Jika merasa mampu, mari berdialog secara terbuka dan tunjukkan pertanggungjawaban. Jika tidak mampu menjalankan amanah sesuai Statuta dan tata kelola yang baik, berjiwa besarlah untuk melakukan evaluasi, termasuk mempertimbangkan pengunduran diri demi menjaga kehormatan dan masa depan UNU Kalbar,” tutup Jasmin Haris.
Penulis: Tim Liputan






