SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda News Headline Dua Helikopter Water Bombing Kecelakaan dalam Lima Hari di Pulau Kalimantan

Dua Helikopter Water Bombing Kecelakaan dalam Lima Hari di Pulau Kalimantan

Tiga prajurit TNI AD Gugur dalam misi pemadaman Karhutla di Kalimantan Tengah pada tanggal 4 November 2026 lalu di daerah Seruyan, Kalimantan Tengah/ist

Pontianak (Suara Kalbar) – Operasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan kembali diwarnai kabar duka. Dalam kurun waktu lima hari, dua helikopter yang menjalankan misi pemadaman melalui metode water bombing mengalami kecelakaan di dua provinsi berbeda, yakni Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.

Rentetan kecelakaan tersebut mengakibatkan empat personel dikabarkan meninggal dunia, sementara tujuh lainnya berhasil selamat.

Insiden pertama terjadi pada 4 November 2026 di Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Helikopter Mi-17V5 HA-5235 milik Penerbangan TNI Angkatan Darat (Penerbad) mengalami kecelakaan saat menjalankan operasi penanganan karhutla.

Dalam peristiwa tersebut, tiga personel dilaporkan meninggal dunia, sedangkan lima personel lainnya berhasil selamat.

Belum berselang lima hari, kecelakaan kembali terjadi pada Minggu (8/11/2026). Kali ini, helikopter Super Puma EC225LP dengan registrasi VH-HGM yang dikontrak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dilaporkan jatuh di Sungai Barito, tepatnya di wilayah Desa Tabatan Baru, Kecamatan Kuripan, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan.

Helikopter tersebut diketahui tengah menjalankan misi pemadaman karhutla melalui operasi water bombing.

Berdasarkan laporan terbaru Tim Pendampingan BNPB Kalimantan Selatan hingga pukul 18.00 WITA, satu kru bernama Yayan ditemukan meninggal dunia.

Sementara itu, dua kru lainnya berhasil dievakuasi dan mendapatkan penanganan medis di Rumah Sakit TNI Angkatan Udara.

Empat Personel Meninggal, Tujuh Selamat

Jika dihitung dari dua peristiwa tersebut, tercatat sebanyak 11 personel terlibat dalam dua kecelakaan helikopter.

Dengan rincian, empat personel meninggal dunia dan tujuh lainnya berhasil selamat.

Rentetan kecelakaan ini menjadi perhatian serius terhadap aspek keselamatan dalam pelaksanaan operasi udara penanganan karhutla di Indonesia.

Terlebih, kedua insiden terjadi dalam rangkaian misi pengambilan air untuk kebutuhan water bombing. Meski demikian, kesamaan fase operasi tersebut belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan adanya kesamaan penyebab kecelakaan.

Penyebab pasti masing-masing insiden tetap harus menunggu hasil investigasi resmi dari pihak berwenang.

Keselamatan Awak Harus Menjadi Prioritas

Dua kecelakaan helikopter dalam kurun waktu lima hari menjadi momentum penting untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap keselamatan operasi udara dalam penanganan karhutla.

Evaluasi tersebut perlu mencakup prosedur pengambilan air, kelayakan dan kondisi armada, kesiapan awak, manajemen risiko penerbangan, hingga kesiapan tim pencarian dan pertolongan (SAR).

Sebab, di balik setiap operasi pemadaman karhutla, terdapat personel yang mempertaruhkan keselamatan dan nyawa demi menjalankan tugas kemanusiaan serta melindungi masyarakat dan lingkungan.

Upaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan merupakan misi penting. Namun, memastikan setiap personel dapat kembali dengan selamat kepada keluarga juga merupakan tanggung jawab yang tidak boleh diabaikan.

Duka mendalam menyertai gugurnya empat personel dalam dua insiden tersebut. Semoga seluruh pengabdian mereka menjadi amal kebaikan dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta ketabahan.

Penulis: Dea Kusumah Wardhana

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play