Penyakit Jantung Bisa Diam-Diam Mengintai, Dokter Ungkap Pentingnya Skrining
Suara Kalbar– Kondisi tubuh yang terasa sehat tidak selalu menandakan seseorang terbebas dari risiko penyakit jantung. Sejumlah faktor seperti tekanan darah, kadar gula darah, dan kolesterol tinggi dapat berkembang tanpa menimbulkan keluhan selama bertahun-tahun.
Jika tidak terdeteksi dan ditangani sejak awal, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan kardiovaskular, termasuk penyakit jantung koroner.
Karena itu, pemeriksaan atau skrining kesehatan menjadi salah satu cara penting untuk mengetahui faktor risiko penyakit jantung lebih dini. Langkah tersebut semakin diperlukan bagi masyarakat yang memiliki faktor risiko tertentu.
Penyakit jantung koroner sendiri tidak selalu memberikan tanda yang jelas pada tahap awal. Dalam sejumlah kasus, seseorang baru mengetahui adanya penyempitan pembuluh darah setelah mengalami serangan jantung.
Datin Dr Ong Mei Lin dari Gleneagles Hospital Penang mengatakan, tidak sedikit pasien serangan jantung yang sebelumnya menganggap kondisi tubuh mereka baik-baik saja.
“Pasien yang datang kepada kami dengan serangan jantung sering mengatakan sebelumnya merasa sehat. Padahal, tekanan darah, gula darah, atau kolesterolnya sudah lama tinggi dan tidak pernah diperiksa. Skrining memang tidak dapat mencegah semua kasus, tetapi memberi kesempatan untuk bertindak lebih awal,” kata Ong dalam keterangannya, Selasa (6/10/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi alasan pemeriksaan kesehatan sebaiknya tidak hanya dilakukan ketika seseorang mulai merasakan gejala.
Skrining terutama perlu dipertimbangkan oleh orang dewasa berusia lebih dari 40 tahun. Pemeriksaan juga penting bagi mereka yang mempunyai riwayat keluarga dengan penyakit jantung atau memiliki faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, kadar kolesterol tinggi, kebiasaan merokok, maupun berat badan berlebih.
Pemeriksaan Disesuaikan dengan Risiko
Pemeriksaan jantung tidak selalu harus dilakukan dengan metode yang kompleks. Dokter dapat menentukan jenis pemeriksaan berdasarkan kondisi kesehatan dan tingkat risiko masing-masing pasien.
Pemeriksaan awal dapat mencakup pengukuran tekanan darah, indeks massa tubuh (IMT), lingkar pinggang, serta pemeriksaan darah. Beberapa parameter yang dapat diperiksa antara lain kadar kolesterol, gula darah puasa, dan HbA1c.
Selain itu, dokter dapat melakukan elektrokardiogram (EKG) untuk mengetahui irama serta aktivitas listrik jantung.
Apabila ditemukan faktor risiko tertentu atau hasil pemeriksaan awal membutuhkan evaluasi lebih lanjut, dokter dapat menyarankan pemeriksaan tambahan.
“Jika diperlukan berdasarkan faktor risiko dan hasil pemeriksaan awal, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan lanjutan seperti treadmill test, ekokardiografi, hingga CT scan jantung,” ujar Dr Ong.
Salah satu pemeriksaan yang dapat digunakan pada pasien tertentu adalah CT scan jantung, termasuk CT calcium score maupun CT koroner. Penggunaannya disesuaikan dengan kondisi dan tingkat risiko pasien berdasarkan penilaian dokter.
Dengan demikian, skrining jantung tidak selalu identik dengan pemeriksaan menggunakan teknologi pencitraan canggih. Jenis pemeriksaan perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi kesehatan setiap individu.
Detak Jantung Dapat Memengaruhi Hasil CT Scan
Dr Ong menjelaskan, CT scan jantung dapat membantu dokter mengevaluasi kondisi pembuluh darah koroner pada pasien yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan.
Namun, pemeriksaan tersebut memiliki tantangan tersendiri karena jantung terus bergerak selama proses pemindaian. Denyut jantung yang terlalu cepat atau tidak teratur dapat memengaruhi kualitas gambar yang dihasilkan.
“Pada pasien yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan, CT scan jantung menjadi salah satu teknologi yang dapat membantu dokter melihat kondisi pembuluh darah koroner. Pemeriksaan tersebut memiliki tantangan karena jantung terus bergerak selama proses pemindaian. Detak jantung yang cepat atau tidak teratur dapat memengaruhi ketajaman gambar,” jelas Dr Ong Mei Lin.
Dalam situasi tertentu, dokter dapat memberikan obat untuk membantu memperlambat denyut jantung sebelum pemeriksaan dilakukan. Pasien juga umumnya diminta menahan napas selama proses pemindaian agar gambar yang dihasilkan lebih optimal.
Pada akhirnya, pemeriksaan kesehatan secara berkala dapat membantu seseorang mengetahui kondisi tubuh sebelum muncul masalah yang lebih serius. Mengenali faktor risiko sejak dini memberikan kesempatan bagi pasien dan dokter untuk menentukan langkah penanganan yang sesuai.
Sumber: Beritasatu.com






