SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Daerah Singkawang Lestarikan Warisan Budaya Tak Benda, DPD MABM Singkawang Kukuhkan Pengurus PISBZN 2025-2030

Lestarikan Warisan Budaya Tak Benda, DPD MABM Singkawang Kukuhkan Pengurus PISBZN 2025-2030

Ketua Umum Dewan Pengurus Daerah Majelis Adat Budaya Melayu (DPD MABM) Kota Singkawang, Asmadi, resmi melantik dan mengukuhkan kepengurusan Perkumpulan Ikatan Seni Budaya dan Zikir Nazam (PISBZN) Kota Singkawang periode 2025–2030. SUARA KALBAR.CO.ID/Hendra.

Singkawang (Suara Kalbar)- Ketua Umum Dewan Pengurus Daerah Majelis Adat Budaya Melayu (DPD MABM) Kota Singkawang, Asmadi, resmi melantik dan mengukuhkan kepengurusan Perkumpulan Ikatan Seni Budaya dan Zikir Nazam (PISBZN) Kota Singkawang periode 2025–2030. Prosesi pengukuhan ini berlangsung di Aula Kartini Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Singkawang pada Sabtu (31/10/2026).

Dalam struktur kepengurusan yang baru ini, Ashari Arhap secara resmi diamanahkan untuk memimpin sebagai Ketua PISBZN Kota Singkawang selama lima tahun ke depan.
Ketua Umum DPD MABM Kota Singkawang, Asmadi, menegaskan bahwa zikir nazam merupakan salah satu warisan budaya tak benda yang bernilai tinggi dan memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan di Kota Singkawang.

“Alhamdulillah, hari ini saya selaku Ketua DPD MABM Kota Singkawang mengukuhkan Perkumpulan Seni Zikir Nazam Kota Singkawang periode tahun 2025-2030. Zikir nazam ini merupakan warisan budaya tak benda yang kita miliki,” ujar Asmadi usai prosesi pelantikan.

Ia menjelaskan, zikir nazam bukanlah budaya luar, melainkan seni asli masyarakat Melayu pesisir yang akar budayanya masih terjaga kuat dan tetap hidup di tengah masyarakat hingga saat ini. Keberadaannya dinilai menjadi salah satu pilar tradisi lokal yang kokoh.

Lebih lanjut, Asmadi berharap seni zikir nazam dapat bersanding dengan kekayaan budaya etnis lain di Singkawang, sehingga mampu memperkuat daya tarik wisata budaya daerah dalam berbagai agenda besar kota.

“Zikir nazam merupakan salah satu adat tradisi kekuatan terbesar yang saat ini masih hidup. Ke depan, zikir nazam bisa bergandengan saat kelompok Tionghoa punya barongsai, serta menjadi akar budaya dalam Festival Cap Go Meh dan Festival Melayu,” paparnya.

Ia juga menambahkan bahwa kehadiran Festival Melayu maupun kegiatan paguyuban lainnya di Singkawang bukan untuk memicu persaingan antaretnis. Sebaliknya, hal tersebut menjadi sarana merajut harmoni dan melengkapi keberagaman yang menjadi identitas Kota Singkawang.

Penulis : Hendra

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play