Keluhkan Solar Langka dan Harga Tembus Rp 20 Ribu, Aliansi Sopir Truk Sanggau Geruduk DPRD
Ketua Aliansi Sopir Truk Sanggau. SUARAKALBAR.CO.ID/COK
Sanggau (Suara Kalbar) – Aliansi Sopir Truk Angkutan se-Kabupaten Sanggau mendatangi gedung DPRD Sanggau untuk menyampaikan tuntutan terkait kelangkaan minyak solar, Selasa (21/10/2026). Aksi audiensi digelar di ruang rapat DPRD Sanggau.
Juru bicara Aliansi Sopir Truk Sanggau, Vitalianus Ortono, mengatakan pihaknya menyampaikan aspirasi terkait hak atas BBM subsidi, terutama solar.
“Kami dari Aliansi Sopir Truk Angkutan se-Kabupaten Sanggau pada hari ini menyampaikan aspirasi kami sesuai tuntutan hak kami terkait dengan subsidi BBM, terutama solar,” ujar Vitalianus.
Dalam audiensi tersebut, aliansi menyampaikan tujuh poin tuntutan:
1. Mendorong dan mengawasi penyaluran BBM bersubsidi seperti solar dan pertalite agar tepat sasaran dan tidak disalahgunakan pihak SPBU.
2. Meminta DPRD, aparat hukum dan instansi terkait mengusut tuntas rantai distribusi BBM, termasuk tindakan tegas terhadap praktik pengisian BBM bersubsidi secara berulang dan pembelian tidak wajar di SPBU serta sanksi tegas bagi SPBU pelanggar.
3. Memastikan pihak SPBU tidak melayani pembelian BBM menggunakan drum dan tangki siluman.
4. Menjamin ketersediaan solar di SPBU untuk angkutan logistik, karena sopir mengeluhkan harga solar di tingkat pengecer yang melambung tinggi dan memicu kenaikan harga barang di Sanggau.
5. Mendorong pembentukan tim pengawasan atau Satgas lintas sektor yang melibatkan pemerintah daerah, legislatif, pelaku usaha serta masyarakat untuk memperkuat pengawasan langsung dan menertibkan antrean di SPBU.
6. Meminta SPBU di Kabupaten Sanggau mengupayakan kartu identitas khusus bagi sopir dan angkutan logistik agar memudahkan pengisian BBM.
7. Meminta SPBU mempermudah pengurusan barcode.
Menanggapi tuntutan tersebut, Ketua DPRD Sanggau Hendrikus Hengki mengatakan pihaknya menerima aspirasi aliansi sopir yang mengeluhkan kelangkaan BBM dan harga yang tinggi di lapangan.
“Aliansi ini mengeluhkan terkait kelangkaan BBM dan harga yang luar biasa tinggi di tengah masyarakat padahal itu hanya minyak subsidi. Harga di lapangan ada sampai Rp 20.000, sementara harga HET dari pemerintah itu kan subsidi Rp 6.800,” ujar Hengki.
Hengki menilai hal itu sangat disayangkan, mengingat subsidi yang diberikan pemerintah sangat besar. Ia menyebut 82 persen sumber pendapatan APBN berasal dari pajak rakyat, di mana tahun 2026 alokasi subsidi mencapai Rp 25,1 triliun.
“Subsidi yang begitu besar yang diberikan pemerintah kepada masyarakatnya, tapi fakta yang terjadi di lapangan masyarakat tidak menikmati dari subsidi itu,” tegasnya.
Menurutnya, dampak mahalnya harga solar sangat luas, tidak hanya dirasakan sopir tetapi juga seluruh masyarakat karena berpengaruh terhadap harga sembako, bahan bangunan, pupuk dan kebutuhan lainnya.
Ia mengakui ada kendala distribusi akibat kemarau panjang yang menyebabkan pendangkalan Sungai Kapuas sehingga kapal tongkang pengangkut minyak terhambat. Namun menurutnya sudah ada solusi agar kapal bisa bersandar di Tayan.
“Dengan datangnya sopir ini, ini peringatan, warning bagi SPBU nakal, haruslah berhati-hati lagi sekarang,” kata Hengki.
Hengki juga meminta agar aliansi sopir dibentuk secara berbadan hukum dengan perwakilan di setiap kecamatan, sehingga bisa ikut mengawasi penyaluran BBM subsidi bersama kepolisian, Disperindag, DPRD dan masyarakat.
“Ini uang kita, uang rakyat untuk disubsidikan kepada rakyat lagi. Ini hak kita, hak masyarakat. Jadi jangan takut untuk mengawasi SPBU-SPBU yang nakal supaya minyak ini bisa tepat sasaran,” ujarnya.
Ia berharap masyarakat tidak melakukan tindakan anarkis dan tetap bertindak sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
“Saya berharap dengan adanya pertemuan ini ada solusi yang bisa kita dapatkan, minimal untuk membuat aliansi lagi untuk pengawasan. Jadi pengawasan dari kepolisian sudah ada, dari Disperindag, dari DPRD dan dari masyarakat itu sendiri. Kalau kita saling bersinergi, saya rasa permasalahan ini tidak akan terulang lagi,” pungkas Hengki.
Penulis: Darmansyah






