SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Daerah Sanggau Bupati Sanggau Buka Festival Paradje Pesaka Negeri XVIII, Ditandai Pemukulan Gong Tujuh Kali

Bupati Sanggau Buka Festival Paradje Pesaka Negeri XVIII, Ditandai Pemukulan Gong Tujuh Kali

Bupati Sanggau saat membuka Festival Paradje Pesaka Negeri XVIII. suarakalbar.co.id/cok

Sanggau (Suara Kalbar)  – Bupati Sanggau Yohanes Ontot membuka secara resmi Festival Paradje Pesaka Negeri ke-XVIII dengan memukul gong sebanyak tujuh kali dan dilanjutkan pemukulan rebana di halaman Keraton Surya Negara Sanggau, Rabu (07/10/2026).

Sebelum pembukaan, dilaksanakan kirab keliling Kota Sanggau sebagai simbol pembersih negeri dari segala marabahaya dengan melafazkan doa-doa.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua Umum Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) Brigjen Pol. (Purn.) Dr. H. A.A. Mapparessa, Ketua DPRD Kalbar Alolsius dan anggota, Kepala Dinas Pariwisata Kalbar Sugeng Hariadi, Kepala BNNP Kalbar Brigjen Pol. Totok Lisdiarto, Raja-Raja se-Kalbar, Wakil Bupati Sanggau, Forkopimda Sanggau, Ketua dan anggota DPRD Sanggau, paguyuban, tokoh agama dan tokoh masyarakat serta undangan lainnya.

Usai pembukaan, Bupati Sanggau Yohanes Ontot menyampaikan apresiasinya atas penyelenggaraan festival tersebut.

“Saya kira Paradje ini dari waktu ke waktu semakin baik, semakin luar biasa penataannya dan tampilannya. Kalau sifatnya ritual kan itu dari zaman ke zaman bisa tidak berubah, mungkin tempatnya berubah. Tapi tampilan dan sebagainya oleh masyarakat adat Melayu dan juga keraton ini selalu menampilkan sesuatu yang luar biasa untuk ditonton, dilihat oleh masyarakat luas selain masyarakat adat Melayu,” ujar Yohanes Ontot.

Bupati menjelaskan bahwa pelaksanaan Festival Faradje’ tahun ini memiliki cerita tersendiri. Kegiatan yang sebelumnya direncanakan berlangsung pada September tersebut harus ditunda karena Kabupaten Sanggau saat itu menghadapi kondisi kebakaran hutan dan lahan serta kabut asap.

“Penunda kegiatan bukan berarti mengabaikan budaya. Sebaliknya, hal tersebut merupakan bentuk tanggung jawab bahwa pelestarian budaya harus berjalan seiring dengan perlindungan terhadap masyarakat dan lingkungan,”ungkapnya.

Ia menegaskan, visi Pemerintah Kabupaten Sanggau, yakni ‘Sanggau Berkelanjutan, Maju, Berkeadilan’, tidak hanya mencakup pembangunan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi dan pelayanan publik, tetapi juga pelestarian adat, budaya, karakter serta jati diri masyarakat.

“Budaya bukan hanya untuk dikenang. Budaya harus dipahami, dijaga, dipraktikkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” katanya.

Bupati berharap Sanggau dapat terus berkembang menjadi daerah yang maju dan modern tanpa kehilangan karakter serta jati diri budaya. Generasi muda juga diharapkan mampu mengikuti perkembangan zaman sekaligus tetap menjaga adat dan budaya daerah.

“Terima kasih sekali lagi, selamat dan sukses untuk Festival Budaya Paradje Pesaka Negeri Sanggau ke-18. Selamat dan sukses,” tutupnya.

Sementara itu Pangeran Ratu Surya Negara H. Gusti Arman, dalam sambutannya menjelaskan bahwa Faradje’ memiliki filosofi sebagai ikhtiar untuk melakukan pembersihan negeri dari mara bahaya, malapetaka dan sifat-sifat buruk yang dapat mengganggu kehidupan masyarakat.

Menurutnya, Faradje’ tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan adat dan budaya, tetapi juga menjadi momentum untuk melakukan introspeksi, mempererat persaudaraan serta memohon perlindungan dan keberkahan dari Allah SWT.

Ia juga mengajak seluruh masyarakat Sanggau untuk menjaga persatuan dan tidak menjadikan perbedaan suku maupun agama sebagai alasan untuk saling membedakan.

“Siapa pun yang lahir di Sanggau, tumbuh di Sanggau, mencari kehidupan di Sanggau, membangun keluarga di Sanggau, maka ia adalah bagian dari masyarakat Sanggau,” ujarnya.

Raja Sanggau menegaskan, masyarakat Dayak, Melayu dan berbagai suku lainnya merupakan bagian dari sejarah serta kehidupan Kabupaten Sanggau. Karena itu, persatuan dan sikap saling menghormati harus terus dijaga.

“Kalau kita bersatu, kita kuat. Kalau kita terpecah, kita akan mudah dilemahkan,” tegasnya.

Ditempat yang sama Ketua Umum DPP FSKN Ym Karaeng Turikale VIII Maros Brigjen Polisi (Purn.) Dr. H. Andi Achmad Aflus Mapparessa mengatakan, kegiatan budaya seperti Faradje’ pada hakikatnya merupakan bentuk doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk memohon keselamatan, perlindungan dan keberkahan bagi masyarakat.

Ia menilai berbagai tradisi masyarakat di Nusantara memiliki bentuk yang berbeda-beda, namun pada dasarnya mengandung nilai doa, silaturahmi dan kebersamaan.

“Marilah kita terus menjaga tradisi silaturahmi, memuliakan tamu, menjaga budaya dan memperkuat persaudaraan,” tutupnya.

Penulis: Darmansyah

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play