SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Lifestyle Kopi Sehari Berapa Cangkir yang Masih Aman? Ini Penjelasannya

Kopi Sehari Berapa Cangkir yang Masih Aman? Ini Penjelasannya

Ilustrasi kopi. (Magnific/Istimewa)

Suara Kalbar – Kopi menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari bagi banyak orang. Namun, jumlah kopi yang masih tergolong aman untuk dikonsumsi kerap menimbulkan pertanyaan, terutama karena kandungan kafein setiap jenis kopi dapat berbeda.

Batas konsumsi kopi perlu dilihat dari jumlah kafein, ukuran sajian, jenis minuman, cara penyeduhan, serta respons tubuh masing-masing orang.

Pernyataan ilmiah mengenai kafein dan kesehatan jantung menyebut konsumsi hingga 400 miligram (mg) kafein per hari secara umum masih aman bagi sebagian besar orang dewasa sehat. Jumlah tersebut kira-kira setara dengan lima cangkir kopi berkafein berukuran 8 ounce atau sekitar 237 mililiter per cangkir.

Namun, angka tersebut bukan berarti setiap orang dianjurkan minum lima cangkir kopi setiap hari. Batas tersebut merupakan jumlah konsumsi kafein yang secara umum masih dianggap aman, bukan target konsumsi harian.

Ahli diet kardiologi preventif Michelle Routhenstein, dikutip dari Medical News Today, mengatakan temuan tersebut tidak dapat diartikan sebagai anjuran bagi orang dewasa untuk mengonsumsi kopi hingga lima cangkir setiap hari.

“Sebagai ahli diet yang fokus pada kardiologi, saya merasa pernyataan ini melegakan, tetapi bukan berarti menjadi izin untuk mengonsumsi kopi tanpa batas,” ujar Routhenstein.

Menurut dia, jumlah kopi yang sesuai tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing orang. Cara penyeduhan, bahan tambahan, risiko penyakit kardiovaskular, respons tubuh terhadap kafein, serta faktor genetik dapat memengaruhi dampak konsumsi kopi.

Ukuran Cangkir Kopi Perlu Diperhatikan

Batas sekitar lima cangkir per hari juga perlu dipahami berdasarkan ukuran sajian yang digunakan sebagai patokan. Satu cangkir dalam pernyataan ilmiah tersebut berukuran 8 ounce atau sekitar 237 mililiter.

Ukuran tersebut dapat lebih kecil dibandingkan gelas kopi yang biasa digunakan di kedai maupun rumah. Karena itu, jumlah gelas yang diminum seseorang tidak selalu sama dengan jumlah cangkir dalam perhitungan konsumsi kafein.

Ahli jantung intervensi Cheng-Han Chen menjelaskan, gelas berukuran 16 ounce misalnya, secara ukuran setara dengan dua cangkir apabila menggunakan patokan 8 ounce.

Selain ukuran, kandungan kafein juga dapat berbeda antara satu produk kopi dengan produk lainnya. Dengan demikian, menghitung jumlah cangkir saja belum tentu menggambarkan total kafein yang dikonsumsi.

Kopi Berbeda dengan Minuman Energi

Batas 400 mg kafein per hari juga tidak dapat diterapkan secara sederhana pada semua jenis minuman berkafein.

Minuman energi dan energy shots dapat memiliki kandungan kafein yang tinggi. Produk tersebut juga dapat mengandung gula tambahan dan bahan stimulan lainnya.

Karena itu, konsumsi minuman energi dalam jumlah besar dapat memberikan paparan kafein yang berbeda dibandingkan konsumsi kopi biasa.

Chen menjelaskan kopi tidak hanya mengandung kafein, tetapi juga berbagai senyawa aktif biologis lainnya. Hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa dampak kopi tidak dapat disamakan begitu saja dengan produk lain yang hanya menjadi sumber kafein.

Bagaimana Hubungan Kopi dengan Tekanan Darah?

Hubungan antara konsumsi kopi dan tekanan darah cukup kompleks dan tidak selalu menunjukkan pola yang sama pada setiap orang.

Data yang dibahas dalam pernyataan ilmiah tersebut menunjukkan adanya perbedaan hubungan antara konsumsi kopi dan risiko hipertensi pada kelompok dengan pola konsumsi yang berbeda.

Karena itu, jumlah konsumsi kopi sebaiknya tidak hanya dinilai berdasarkan satu angka batas kafein. Kondisi kesehatan dan respons tubuh terhadap kafein juga perlu diperhatikan.

Pada sebagian orang, kafein dapat menyebabkan efek sementara seperti peningkatan tekanan darah, jantung berdebar, atau rasa lebih gelisah. Respons tersebut dapat berbeda berdasarkan sensitivitas individu dan kebiasaan mengonsumsi kafein.

Kopi dan Risiko Diabetes Tipe 2

Kopi juga telah banyak diteliti dalam kaitannya dengan sensitivitas insulin dan risiko diabetes tipe 2.

Dalam jangka pendek, kopi berkafein dapat memengaruhi sensitivitas insulin. Namun, sejumlah penelitian observasional justru menemukan hubungan antara konsumsi kopi secara rutin dan risiko diabetes tipe 2 yang lebih rendah.

Salah satunya adalah penelitian Ming Ding dan rekan-rekannya berjudul Caffeinated and Decaffeinated Coffee Consumption and Risk of Type 2 Diabetes: A Systematic Review and a Dose-Response Meta-analysis yang diterbitkan dalam Diabetes Care pada 2014.

Penelitian tersebut merupakan tinjauan sistematis dan meta-analisis terhadap 28 studi prospektif yang melibatkan 1.109.272 peserta dan 45.335 kasus diabetes tipe 2.

Hasil analisis menunjukkan konsumsi kopi berkaitan dengan risiko diabetes tipe 2 yang lebih rendah dibandingkan tidak minum atau jarang minum kopi. Hubungan tersebut terlihat pada konsumsi mulai dari satu hingga enam cangkir per hari.

Pada konsumsi lima cangkir, risiko relatif dalam analisis tersebut sekitar 29 persen lebih rendah, sedangkan pada enam cangkir sekitar 33 persen lebih rendah.

Analisis tersebut juga menemukan hubungan serupa pada konsumsi kopi berkafein maupun tanpa kafein. Temuan ini menunjukkan bahwa hubungan antara kopi dan risiko diabetes tipe 2 kemungkinan tidak hanya berkaitan dengan kafein, tetapi juga senyawa lain yang secara alami terdapat dalam kopi.

Namun, penelitian tersebut bersifat observasional. Artinya, hasilnya menunjukkan hubungan atau asosiasi, bukan bukti bahwa minum kopi dalam jumlah tertentu secara langsung mencegah diabetes tipe 2.

Tidak Semua Orang Memiliki Toleransi Kafein yang Sama

Secara umum, konsumsi hingga 400 mg kafein per hari masih dianggap aman bagi sebagian besar orang dewasa sehat. Namun, batas tersebut bukan berarti semua orang akan mengalami efek yang sama.

Sebagian orang dapat lebih sensitif terhadap kafein dan mengalami sulit tidur, jantung berdebar, gelisah, atau gangguan pencernaan meskipun mengonsumsi dalam jumlah yang relatif lebih sedikit.

Waktu konsumsi juga penting. Kopi yang diminum menjelang waktu tidur dapat mengganggu kualitas tidur, terutama pada orang yang sensitif terhadap kafein.

Karena itu, konsumsi kopi sebaiknya disesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing. Ukuran sajian, jenis kopi, metode penyeduhan, bahan tambahan seperti gula dan krimer, kondisi kesehatan, serta pola konsumsi kafein dari sumber lain perlu diperhitungkan.

Jadi, 400 mg kafein per hari merupakan batas umum bagi sebagian besar orang dewasa sehat, bukan target minum kopi lima cangkir setiap hari. Bagi sebagian orang, jumlah yang lebih sedikit mungkin sudah cukup untuk mendapatkan efek yang diinginkan tanpa menimbulkan keluhan.

Sumber: Beritasatu.com

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play