Ilmuwan Cari Jejak Teknologi Alien di Bulan, Debu Mikro Jadi Petunjuk
Suara Kalbar – Ilmuwan kini mengarahkan perhatian ke Bulan untuk mencari kemungkinan jejak peradaban di luar Bumi. Sebuah studi teoritis terbaru mengusulkan bahwa pecahan mikroskopis dari teknologi alien purba mungkin telah tersebar dan tersimpan di permukaan Bulan selama miliaran tahun.
Berbeda dari pencarian technosignatures konvensional yang banyak mengandalkan sinyal radio, penelitian ini menawarkan pendekatan dengan mencari jejak fisik berukuran sangat kecil yang mungkin tertinggal di tanah Bulan.
Namun, penelitian tersebut tidak mengklaim telah menemukan bukti langsung keberadaan peradaban luar angkasa. Studi ini lebih berfokus pada kemungkinan metode untuk mendeteksi sisa-sisa teknologi dari peradaban yang mungkin pernah ada dan telah punah.
Dikutip dari Live Science, Senin (14/9/2026), Bulan memiliki karakteristik yang membuat permukaannya menarik untuk penelitian semacam ini. Satelit alami Bumi tersebut tidak memiliki atmosfer seperti Bumi dan tidak mengalami aktivitas geologi berupa pergerakan lempeng tektonik.
Akibatnya, permukaan Bulan terus terpapar lingkungan antariksa, termasuk hantaman meteorit serta partikel mikroskopis yang datang dari berbagai wilayah tata surya dan ruang antarbintang.
Tanpa atmosfer, air, dan aktivitas geologi seperti yang terjadi di Bumi, material yang jatuh ke permukaan Bulan dapat bertahan dalam waktu sangat lama. Kondisi tersebut membuat regolit atau lapisan tanah dan batuan permukaan Bulan berpotensi menjadi semacam arsip material dari lingkungan antariksa.
Dalam makalah terbaru yang diunggah ke server arXiv, para peneliti mengajukan kemungkinan bahwa sebagian debu yang terakumulasi di Bulan berasal dari luar tata surya. Jika benar, material tersebut secara teoritis dapat membawa informasi mengenai lingkungan antarbintang yang pernah dilaluinya.
Lebih jauh, para peneliti mempertanyakan apakah di antara material tersebut terdapat pecahan mikroskopis yang berasal dari teknologi buatan peradaban lain.
“Bulan telah mengumpulkan materi dari ruang hampa secara diam-diam selama miliaran tahun, dan banyak di antaranya diperkirakan berusia jauh lebih tua dari Bulan itu sendiri,” ujar Lewis Pinault, ilmuwan planet dari University College London yang juga berafiliasi dengan SETI Institute, dalam pernyataan resminya.
“Kami mempertanyakan apakah koleksi purba ini menyimpan jejak mikroskopis dari teknologi yang pernah ada sebelum manusia pertama kali mendongak ke langit,” lanjutnya.
Mencari Jejak Alien Bukan dari Sinyal Radio
Selama ini, pencarian tanda-tanda teknologi dari peradaban luar Bumi atau technosignatures banyak diarahkan pada sinyal radio yang berasal dari objek atau sistem bintang tertentu.
Metode tersebut memiliki keterbatasan. Sinyal hanya dapat dideteksi apabila sumbernya masih aktif, memiliki teknologi pemancar yang sesuai, dan sinyalnya berhasil mencapai Bumi serta dapat dikenali oleh instrumen manusia.
Para peneliti dalam studi tersebut menawarkan kemungkinan lain, yakni mencari bukti fisik dari teknologi peradaban yang sudah tidak lagi aktif.
Dalam skenario teoritis yang mereka ajukan, ketika sebuah peradaban mengalami kehancuran, material buatan dari planetnya dapat terlontar ke ruang angkasa akibat peristiwa besar, seperti tumbukan asteroid.
Sebagian material tersebut kemudian dapat bergerak melintasi ruang antarbintang. Pecahan logam atau material buatan berukuran mikroskopis, bahkan hingga sekitar 3 mikrometer, secara teoritis dapat terbawa oleh proses di lingkungan antariksa sebelum akhirnya mencapai permukaan Bulan.
Ukuran 3 mikrometer sangat kecil, hanya sekitar sebagian kecil dari ketebalan rambut manusia. Karena itu, pencarian material semacam ini membutuhkan metode analisis yang jauh lebih sensitif dibandingkan pengamatan langsung menggunakan instrumen biasa.
Para peneliti memperkirakan sampel regolit Bulan dengan volume sekitar 1 meter kubik secara teoritis dapat memberikan peluang untuk menemukan setidaknya satu fragmen teknologi luar angkasa jika asumsi mengenai jumlah material tersebut benar.
Material tersebut nantinya dapat dianalisis menggunakan kombinasi mikroskopi, analisis komposisi material, serta pemrosesan citra berbasis kecerdasan buatan (AI).
Bulan Bisa Menjadi Arsip Material Antariksa
Gagasan tersebut berangkat dari karakteristik Bulan sebagai lingkungan yang relatif tidak aktif dibandingkan Bumi.
Di Bumi, air, angin, aktivitas biologis, serta pergerakan lempeng tektonik terus mengubah permukaan. Material yang berada di permukaan juga dapat mengalami pelapukan dan berpindah tempat.
Kondisi berbeda terjadi di Bulan. Material yang jatuh ke permukaan dapat tetap berada di sana dalam waktu yang sangat panjang, meskipun permukaannya tetap mengalami perubahan akibat tumbukan mikrometeorit dan proses lain di lingkungan antariksa.
Karena itu, regolit Bulan berpotensi menyimpan campuran material yang berasal dari berbagai sumber, termasuk Bulan itu sendiri, Bumi, Matahari, serta lingkungan antariksa di luar tata surya.
Jika suatu saat ditemukan material dengan karakteristik yang tidak dapat dijelaskan melalui proses alam yang diketahui, material tersebut tentu akan menarik perhatian para ilmuwan. Namun, keberadaan material semacam itu tetap harus diuji secara ketat sebelum dapat dikaitkan dengan aktivitas teknologi alien.
Sampel Bulan Lama Belum Cukup
Sampel tanah Bulan yang telah dibawa ke Bumi melalui berbagai misi sebelumnya sejauh ini belum menunjukkan adanya technosignatures.
Para peneliti menilai hal tersebut belum serta-merta membantah hipotesis mereka. Salah satu alasannya adalah jumlah material yang telah diambil dan dianalisis manusia masih sangat kecil jika dibandingkan dengan keseluruhan permukaan Bulan.
Dengan meningkatnya agenda eksplorasi Bulan, peluang untuk menguji hipotesis tersebut juga semakin terbuka.
Program Artemis yang dipimpin NASA serta misi eksplorasi Bulan China melalui program Chang’e menjadi bagian dari meningkatnya aktivitas manusia di sekitar satelit alami Bumi tersebut.
Jika eksplorasi dan pengambilan sampel regolit dilakukan dalam skala lebih besar pada masa mendatang, para ilmuwan dapat memiliki lebih banyak material untuk mencari kemungkinan jejak teknologi purba.
Untuk saat ini, keberadaan “fosil teknologi alien” di Bulan masih sebatas hipotesis ilmiah. Belum ada bukti bahwa fragmen teknologi tersebut benar-benar ditemukan.
Namun, gagasan tersebut memperluas cara manusia mencari kehidupan atau peradaban di luar Bumi. Alih-alih hanya menunggu sinyal dari peradaban yang masih aktif, ilmuwan mulai mempertimbangkan kemungkinan bahwa jejak peradaban yang telah lama punah mungkin justru tersimpan sebagai material kecil di permukaan Bulan.
Sumber: Beritasatu.com





