5 Racun Makanan yang Bisa Mengganggu Sistem Saraf, Domoic Acid Picu Amnesia
Suara Kalbar – Keracunan makanan umumnya identik dengan sakit perut, mual, muntah, atau diare. Namun, pada kondisi tertentu, zat beracun yang masuk bersama makanan juga dapat memengaruhi sistem saraf dan mengganggu fungsi otak.
Salah satu kondisi yang memiliki kaitan dengan gangguan ingatan adalah amnesic shellfish poisoning (ASP) atau keracunan kerang amnestik. Keracunan langka ini terjadi akibat paparan domoic acid, yaitu racun laut yang dapat terakumulasi pada sejumlah jenis kerang.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dalam Yellow Book, paparan domoic acid dapat menimbulkan gangguan kognitif hingga kehilangan ingatan. Gangguan tersebut dapat berupa amnesia anterograd maupun retrograd.
Namun, domoic acid bukan satu-satunya toksin dari makanan yang dapat memengaruhi sistem saraf. Beberapa racun lainnya juga bisa menyebabkan gangguan neurologis, meski jenis gejala yang ditimbulkan berbeda dan tidak selalu berupa kehilangan ingatan.
1. Domoic Acid, Racun Laut yang Berkaitan dengan Amnesia
Domoic acid termasuk racun makanan yang paling erat hubungannya dengan gangguan memori. Zat ini diproduksi oleh diatom dari genus Pseudo-nitzschia.
Dari organisme tersebut, racun kemudian dapat terakumulasi pada hewan laut yang memakannya. Beberapa jenis kerang, seperti mussels, razor clams, dan scallops, serta sejumlah krustasea dapat menjadi sumber paparan domoic acid.
CDC menyebut keracunan akibat zat tersebut sebagai amnesic shellfish poisoning. Gejala awal biasanya muncul pada saluran pencernaan dan dapat terjadi kurang dari 24 jam setelah seseorang mengonsumsi makanan laut yang terkontaminasi.
Keluhan awal dapat berupa sakit perut, diare, dan muntah. Setelah itu, gejala neurologis dapat muncul, mulai dari sakit kepala dan gangguan kognitif hingga kehilangan ingatan.
Dalam kondisi berat, keracunan dapat berkembang menjadi kejang, koma, bahkan kematian. Gangguan memori menjadi salah satu karakteristik yang membedakan keracunan domoic acid dari banyak jenis keracunan makanan lainnya.
Secara toksikologis, domoic acid merupakan neurotoksin yang berkaitan dengan sistem neurotransmiter glutamat. Paparan zat ini diketahui dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan otak, terutama bagian yang berperan dalam proses belajar dan pembentukan memori.
2. Botulinum Toxin, Racun yang Bisa Menyebabkan Kelumpuhan
Racun makanan lain yang dapat menyerang sistem saraf adalah botulinum toxin. Zat ini dihasilkan oleh bakteri Clostridium botulinum.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), toksin botulinum bekerja dengan menghambat fungsi saraf. Akibatnya, seseorang yang mengalami botulisme dapat mengalami kelemahan otot hingga kelumpuhan.
Botulisme akibat makanan dapat terjadi ketika seseorang mengonsumsi makanan yang diproses atau disimpan secara tidak tepat sehingga bakteri dapat tumbuh dan menghasilkan toksin.
Beberapa makanan yang pernah dikaitkan dengan botulisme antara lain sayuran awetan rendah asam, ikan seperti tuna kalengan, ikan yang difermentasi, diasinkan atau diasap, serta produk daging seperti ham dan sosis.
Gejalanya dapat diawali dengan tubuh terasa sangat lelah, lemas, pusing, penglihatan kabur, mulut kering, hingga kesulitan menelan dan berbicara.
Pada kondisi yang lebih berat, kelemahan otot dapat menjalar ke bagian leher, lengan, hingga otot pernapasan. Botulisme merupakan kondisi serius yang dapat mengancam nyawa jika tidak segera mendapatkan penanganan.
Meski sama-sama menyerang sistem saraf, botulinum toxin tidak dikenal sebagai penyebab khas amnesia. Gangguan yang paling menonjol justru berkaitan dengan fungsi saraf dan kelemahan otot.
3. Tetrodotoxin pada Ikan Buntal
Tetrodotoxin merupakan racun lain yang dikenal dapat menyerang sistem saraf. Zat ini paling sering dikaitkan dengan ikan buntal atau pufferfish.
CDC mencatat keracunan tetrodotoxin dapat menyebabkan kesemutan, gangguan sensasi, pusing hingga kelumpuhan. Gejalanya juga dapat muncul relatif cepat, sekitar 10 menit hingga empat jam setelah seseorang terpapar.
Racun tersebut bekerja pada sistem saraf dan dalam kondisi tertentu dapat menyebabkan gangguan neurologis yang serius.
Namun, berbeda dengan domoic acid, tetrodotoxin bukan racun yang secara khas dikaitkan dengan kehilangan ingatan. Dampak utamanya berupa gangguan fungsi saraf dan kelumpuhan.
4. Ciguatoxin dari Ikan Karang
Ciguatoxin merupakan kelompok racun laut yang dapat menyebabkan ciguatera fish poisoning atau keracunan ikan ciguatera.
Racun tersebut dapat ditemukan pada ikan karang berukuran besar yang memangsa ikan lainnya. Beberapa jenis ikan yang dikaitkan dengan ciguatera antara lain barracuda, grouper, snapper, amberjack, moray eel, dan sea bass.
Keracunan biasanya diawali dengan gangguan pada sistem pencernaan. Setelah itu, gejala neurologis dapat muncul dan memengaruhi sensasi tubuh.
Salah satu gejala khas yang dicatat CDC adalah reversal of hot and cold sensation. Kondisi ini membuat seseorang merasakan sensasi panas dan dingin secara terbalik.
Pada sebagian kasus, gangguan neurologis akibat ciguatera bahkan dapat berlangsung cukup lama. Meski demikian, ciguatoxin tidak identik dengan amnesia.
5. Histamin pada Ikan
Tidak semua gangguan akibat makanan yang memengaruhi sistem saraf disebabkan racun yang secara langsung menyerang otak. Salah satunya adalah scombroid fish poisoning, yakni keracunan histamin yang berkaitan dengan konsumsi ikan tertentu.
CDC mencatat beberapa jenis ikan, termasuk tuna dan mahi-mahi, serta ikan dari kelompok Scombridae, dapat terlibat dalam kondisi tersebut.
Gejala biasanya muncul dengan cepat, mulai dari beberapa menit hingga beberapa jam setelah mengonsumsi ikan yang mengandung histamin dalam jumlah tinggi.
Keluhannya dapat berupa kulit kemerahan, pusing, sensasi terbakar pada mulut dan tenggorokan, sakit kepala, gangguan pencernaan, gatal-gatal, serta urtikaria.
Kondisi tersebut berbeda dari keracunan domoic acid. Pada scombroid poisoning, histamin lebih dikenal menimbulkan reaksi menyerupai alergi dan berbagai gejala sistemik, bukan kehilangan ingatan.
Mengapa Domoic Acid Bisa Menyebabkan Amnesia?
Istilah amnesic shellfish poisoning sendiri merujuk pada salah satu karakteristik utama keracunan tersebut. Kondisi ini terjadi setelah seseorang mengonsumsi kerang yang terkontaminasi domoic acid.
Menurut CDC, gejala pencernaan dapat muncul terlebih dahulu sebelum berkembang menjadi gangguan neurologis. Pada sebagian penyintas, gangguan memori jangka pendek dapat menjadi sangat berat.
Salah satu wabah yang banyak mendapat perhatian terjadi di Kanada pada 1987. Penelitian yang terindeks di PubMed mencatat kejadian tersebut melibatkan orang-orang yang mengonsumsi kerang yang mengandung domoic acid. Sejumlah pasien kemudian mengalami gejala neurologis, termasuk kehilangan memori.
FDA juga menjelaskan bahwa paparan akut domoic acid dapat menyebabkan mual, diare, sakit kepala, kebingungan, disorientasi, kejang hingga kehilangan memori jangka pendek yang dapat menetap pada kondisi paling berat.
Paparan dalam kadar parah juga dapat berkembang menjadi koma atau kematian. Karena itu, keracunan domoic acid tidak hanya menjadi persoalan gangguan pencernaan, tetapi juga dapat menjadi kondisi neurologis serius.
Tidak Semua Racun Makanan Menyebabkan Amnesia
Keracunan makanan dapat memberikan dampak yang lebih luas daripada gangguan pada saluran pencernaan. Beberapa toksin tertentu mampu memengaruhi sistem saraf dan menyebabkan gejala neurologis yang serius.
Di antara berbagai racun tersebut, domoic acid memiliki hubungan yang paling jelas dengan amnesia. Racun ini dapat terakumulasi pada kerang dan makanan laut tertentu sebelum masuk ke tubuh manusia melalui konsumsi.
Sementara itu, botulinum toxin, tetrodotoxin, ciguatoxin, dan histamin memiliki mekanisme kerja serta gejala yang berbeda.
Karena itu, kehilangan ingatan sebagai dampak keracunan makanan secara khusus lebih erat dikaitkan dengan paparan domoic acid dan kondisi amnesic shellfish poisoning.
Sumber: Beritasatu.com





