SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Daerah Sambas Seminar Nasional MABM Teriak Kupas Jejak Perjuangan dan Peradaban Syekh Ahmad Khatib Sambas

Seminar Nasional MABM Teriak Kupas Jejak Perjuangan dan Peradaban Syekh Ahmad Khatib Sambas

Seminar Nasional MABM Teriak Kupas Jejak Perjuangan dan Peradaban Syekh Ahmad Khatib Sambas

Bengkayang (Suara Kalbar) – Jejak perjuangan, dakwah, pendidikan, dan kontribusi Syekh Ahmad Khatib Sambas terhadap peradaban Islam Nusantara kembali dikaji dalam Seminar Nasional dan Seminar Ilmiah yang digelar Pengurus Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kecamatan Teriak, Kabupaten Bengkayang, Sabtu (8/8/2026).

Seminar bertajuk “Syekh Ahmad Khatib Sambas: Jejak Perjuangan, Dakwah dan Pendidikan untuk Peradaban Bangsa” tersebut berlangsung di Balai Bepakat, Kabupaten Bengkayang, mulai pukul 13.00 hingga 17.00 WIB. Kegiatan digelar dalam rangka memperingati haul ulama besar asal Kalimantan Barat tersebut.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bengkayang. Seminar mendapat antusiasme dari berbagai kalangan, mulai dari unsur pemerintah, akademisi, tokoh agama hingga tokoh masyarakat.

Sejumlah tamu dan peserta yang hadir antara lain Staf Ahli Komisi XIII DPR RI, perwakilan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bengkayang, jajaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bengkayang, perwakilan Kantor Urusan Agama (KUA) kecamatan, Kepala Desa Sumber Karya, jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), serta tokoh masyarakat dan tokoh agama.

Akademisi sekaligus pakar sejarah Islam, Prof. Dr. Erwin Mahrus, M.Ag., hadir sebagai narasumber utama. Ia mengupas perjalanan hidup, kiprah dakwah, jaringan keilmuan, hingga warisan intelektual Syekh Ahmad Khatib Sambas yang pengaruhnya tidak hanya berkembang di Nusantara, tetapi juga dikenal di dunia Islam.

Dalam paparannya, Prof. Erwin menjelaskan Syekh Ahmad Khatib Sambas yang hidup pada 1803–1875 merupakan salah satu ulama besar Nusantara yang memiliki multidimensi keilmuan dan peran. Selain dikenal sebagai ulama dan sufi, ia juga merupakan pendidik, diplomat, serta mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah.

Syekh Ahmad Khatib lahir di Sambas, Kalimantan Barat. Perjalanan intelektual dan spiritualnya telah dimulai sejak usia muda. Pada usia sekitar 11 tahun, ia berlayar menuju Makkah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus menuntut ilmu. Perjalanan menuju pusat keilmuan Islam tersebut pada masa itu bukanlah perjalanan mudah dan dapat memakan waktu berbulan-bulan melalui jalur laut.

Salah satu warisan penting Syekh Ahmad Khatib Sambas adalah upayanya memadukan dua tradisi tarekat besar, yakni Qadiriyah dan Naqsyabandiyah, yang kemudian dikenal sebagai Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN).

Perpaduan tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam perkembangan tasawuf di Nusantara. Pemikiran dan metode pendidikan spiritual yang dikembangkan Syekh Ahmad Khatib menekankan keseimbangan antara dimensi spiritual, ilmu dan pengamalan.

“Ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah, dan amal tanpa ilmu bagaikan buah tanpa akar.”

Kredibilitas keilmuan Syekh Ahmad Khatib Sambas juga mengantarkannya menjadi guru besar sekaligus imam di Masjidil Haram, Makkah. Dari pusat dunia Islam tersebut, ia membangun jaringan keilmuan yang kemudian berpengaruh besar terhadap perkembangan Islam di Nusantara.

Sejumlah ulama terkemuka disebut memiliki keterkaitan dengan jaringan keilmuan yang berkembang dari tradisi tersebut, di antaranya Kiai Nawawi Banten, Kiai Kholil Bangkalan, hingga Kiai Hasyim Asy’ari yang kemudian dikenal sebagai salah satu pendiri Nahdlatul Ulama.

Seminar juga mengulas bagaimana jaringan TQN yang berkembang melalui para murid Syekh Ahmad Khatib kemudian tidak hanya menjadi gerakan spiritual, tetapi dalam konteks sejarah tertentu turut memiliki pengaruh terhadap semangat perlawanan masyarakat Muslim terhadap kolonialisme.

Ajaran mengenai zikir, keikhlasan, keberanian dan sikap menolak kezaliman menjadi bagian dari nilai-nilai yang kemudian menginspirasi sejumlah gerakan sosial-keagamaan dan perlawanan terhadap kolonialisme di berbagai daerah Nusantara.

Selain kiprah pendidikan dan dakwah, Prof. Erwin juga mengungkap sisi diplomasi Syekh Ahmad Khatib Sambas. Pada era 1850-an, Syekh Ahmad Khatib bersama sejumlah rekannya disebut pernah mengirimkan surat diplomatik kepada Sultan Turki Utsmani.

Surat tersebut memuat permohonan dukungan dan perlindungan bagi umat Islam. Hal itu menunjukkan bahwa pemikiran Syekh Ahmad Khatib tidak hanya berorientasi pada persoalan spiritual dan pendidikan, tetapi juga memiliki kesadaran terhadap dinamika politik dunia Islam pada zamannya.

Warisan intelektualnya semakin kuat melalui karya Fath al-‘Arifin, yang menjadi salah satu karya penting dalam tradisi Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Karya tersebut terus dipelajari, dicetak dan disebarluaskan hingga ke berbagai pusat keilmuan Islam, termasuk Mesir, Makkah dan kawasan Nusantara.

Melalui seminar tersebut, MABM Kecamatan Teriak tidak hanya menjadikan haul Syekh Ahmad Khatib Sambas sebagai momentum mengenang seorang ulama besar, tetapi juga sebagai ruang untuk menggali kembali nilai-nilai sejarah, pendidikan, dakwah dan kebangsaan yang diwariskannya.

Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat kesadaran generasi muda, khususnya di Kalimantan Barat, terhadap sejarah dan kontribusi tokoh-tokoh lokal yang memiliki pengaruh luas dalam perkembangan peradaban Islam dan bangsa Indonesia.

Jejak Syekh Ahmad Khatib Sambas menjadi pengingat bahwa Kalimantan Barat tidak hanya memiliki kekayaan budaya dan sejarah lokal, tetapi juga melahirkan tokoh intelektual dan ulama yang memiliki pengaruh hingga ke tingkat dunia.

Penulis: Layli/r

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play