SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Lifestyle Mitos Kanker Payudara Terbantahkan, Tanpa Riwayat Keluarga Tetap Berisiko

Mitos Kanker Payudara Terbantahkan, Tanpa Riwayat Keluarga Tetap Berisiko

Secara medis, kanker payudara merupakan penyakit multifactorial. (Freepik.com/Magnific/@stefamerpik)

Suara Kalbar – Anggapan bahwa perempuan yang tidak memiliki riwayat keluarga penderita kanker payudara terbebas dari risiko penyakit tersebut masih banyak dipercaya masyarakat. Padahal, anggapan itu merupakan mitos karena kanker payudara dipengaruhi oleh berbagai faktor, tidak hanya faktor keturunan.

Dokter subspesialis bedah onkologi, dr. I Gusti Ayu Nari Laksmi Dewi, menjelaskan bahwa kanker payudara merupakan penyakit multifaktorial. Artinya, selain faktor genetik, terdapat sejumlah penyebab lain yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami kanker payudara.

Mengacu pada informasi Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan, faktor risiko tersebut antara lain perubahan hormonal, terutama tingginya kadar hormon estrogen, paparan radiasi elektromagnetik dari lingkungan, hingga pola hidup yang kurang sehat, seperti konsumsi minuman beralkohol secara berlebihan.

Selain itu, dr. Gusti juga meluruskan anggapan bahwa setiap benjolan pada payudara pasti merupakan kanker. Menurutnya, pemahaman tersebut tidak benar karena benjolan pada payudara, terutama pada perempuan berusia di bawah 35 tahun, cukup sering ditemukan dan tidak selalu bersifat ganas.

“Benjolan dapat berupa tumor jinak maupun tumor ganas. Oleh karena itu, pemeriksaan medis tetap diperlukan untuk memastikan diagnosis sehingga penanganan yang tepat dapat segera diberikan,” ujar dr. Gusti, dikutip dari Beritasatu, Minggu (2/8/2026).

Ia menambahkan, kanker payudara pada stadium awal sering kali tidak menimbulkan gejala yang jelas. Banyak pasien baru mengetahui dirinya mengidap kanker setelah benjolan membesar karena pada tahap awal umumnya tidak disertai rasa nyeri.

Kondisi tersebut menjadi salah satu penyebab kanker payudara kerap terlambat terdiagnosis. Padahal, benjolan yang awalnya tidak menimbulkan keluhan dapat berkembang dengan cepat sebelum akhirnya memunculkan gejala lain yang lebih serius.

Untuk meningkatkan peluang deteksi dini, dr. Gusti mengimbau perempuan rutin melakukan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) setiap bulan. Apabila ditemukan benjolan atau perubahan yang mencurigakan, masyarakat disarankan segera memeriksakan diri ke dokter agar dapat dipastikan apakah benjolan tersebut merupakan tumor jinak atau ganas.

Sementara itu, data BPJS Kesehatan menunjukkan kasus kanker payudara di Indonesia terus mengalami peningkatan dalam lima tahun terakhir. Sepanjang periode 2021 hingga 2025, jumlah kasus bertambah sekitar 860 ribu, dari 1.080.031 kasus pada 2021 menjadi 1.941.410 kasus pada 2025.

Peningkatan tersebut menjadi pengingat pentingnya edukasi kepada masyarakat mengenai faktor risiko, deteksi dini, serta pemeriksaan kesehatan secara berkala. Dengan penanganan yang lebih cepat, peluang keberhasilan pengobatan kanker payudara akan semakin besar.

Sumber: Beritasatu.com

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play