SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Opini Kalbar Jangan Hanya Menjadi Pemasok Bahan Baku

Kalbar Jangan Hanya Menjadi Pemasok Bahan Baku

Haris Zaky Mubarak

Oleh: Haris Zaky Mubarak, MA

Kalimantan Barat (Kalbar) sesungguhnya tidak kekurangan kekayaan. Bauksit tersimpan dalam jumlah besar. Sawit membentang di banyak kabupaten. Karet telah menghidupi masyarakat selama beberapa generasi. Hutan menghasilkan beragam komoditas. Laut dan sungainya menyediakan sumber daya perikanan. Posisi geografisnya bahkan memungkinkan Kalimantan Barat berhadapan langsung dengan Malaysia dan Laut Natuna.Persoalannya justru terletak pada pertanyaan yang lebih mendasar, berapa besar kekayaan tersebut benar-benar diolah menjadi kemakmuran di Kalimantan Barat?

Pertanyaan itu penting ketika ekonomi Kalbar sedang menunjukkan perkembangan positif. Badan Pusat Statistik Kalimantan Barat (BPS Kalbar) mencatat perekonomian Kalimantan Barat sepanjang 2025 tumbuh 5,39 persen dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp328,57 triliun (BPS Kalbar, 2025). Pada triwulan IV-2025 saja, pertumbuhan mencapai 5,62 persen secara tahunan. Pertumbuhan tentu patut diapresiasi. Namun, angka pertumbuhan tidak boleh membuat kita mengabaikan struktur ekonomi yang menopangnya. Tantangan Kalbar bukan sekadar meningkatkan produksi sumber daya alam, melainkan mengubah kekayaan alam menjadi basis industrialisasi daerah.

Jejak Ekonomi Ekstraktif

Sejarah Kalimantan memperlihatkan bagaimana kawasan ini sejak masa kolonial terhubung dengan ekonomi dunia melalui komoditas. Hutan, karet, hasil tambang, dan berbagai produk tropis ditarik dari pedalaman menuju pelabuhan, kemudian masuk ke jaringan perdagangan regional dan internasional. Dalam perspektif sejarah ekonomi, pola demikian menyerupai apa yang dijelaskan Anthony Reid (1988) mengenai integrasi Asia Tenggara ke dalam jaringan perdagangan dunia. Kawasan-kawasan penghasil komoditas menjadi penting karena kemampuannya memasok kebutuhan pasar internasional.Namun, menjadi penghasil komoditas berbeda dengan menjadi pusat industri.

Ketika sebuah daerah hanya mengekspor bahan mentah atau produk dengan tingkat pengolahan rendah, sebagian besar nilai tambah justru terbentuk di tempat lain. Bahan baku ditambang atau dipanen di Kalbar, tetapi pengolahan, teknologi, desain produk, pemasaran, dan keuntungan terbesar dapat terjadi di luar daerah. Raúl Prebisch (1950) sejak lama mengingatkan persoalan struktural negara atau wilayah yang bergantung pada komoditas primer. Perekonomian seperti ini lebih rentan terhadap perubahan harga dan memiliki kemampuan lebih terbatas dalam menangkap nilai tambah dibandingkan ekonomi yang menguasai manufaktur.

Dalam konteks kontemporer, Dani Rodrik (2016) juga menunjukkan betapa pentingnya manufaktur bagi transformasi ekonomi karena sektor tersebut secara historis mampu mendorong produktivitas dan menyerap tenaga kerja menuju aktivitas ekonomi yang lebih bernilai. Pelajaran tersebut relevan bagi Kalimantan Barat.Daerah yang kaya sumber daya alam belum tentu menjadi daerah yang paling makmur. Kekayaan baru menghasilkan transformasi ketika terdapat kemampuan mengubah sumber daya menjadi pengetahuan, teknologi, industri, pekerjaan produktif, dan perusahaan lokal.

Bauksit merupakan contoh paling jelas. Kalimantan Barat merupakan salah satu basis penting bauksit Indonesia. Selama bertahun-tahun, perdebatan pembangunan berkisar pada pertanyaan apakah mineral tersebut akan terus keluar sebagai bijih atau diolah terlebih dahulu. Perubahan mulai terlihat melalui pembangunan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah. Pada September 2024, injeksi bauksit perdana fasilitas tersebut diresmikan. Fasilitas ini menjadi bagian penting pembangunan rantai industri aluminium nasional. Pemerintah ketika itu mencatat kebutuhan aluminium domestik sekitar 1,2 juta ton per tahun dan sekitar 56 persen masih dipenuhi melalui impor.Langkah tersebut penting karena bauksit mulai ditempatkan bukan sebagai barang tambang yang selesai setelah dikeluarkan dari tanah, melainkan sebagai awal sebuah rantai industri.

Pada Februari 2026, pemerintah bahkan melanjutkan agenda hilirisasi dengan groundbreaking proyek pengolahan bauksit menjadi smelter-grade alumina dan alumina menjadi aluminium di Mempawah.Inilah momentum yang tidak boleh dilewatkan Kalbar. Tetapi kita perlu berhati-hati terhadap pemahaman hilirisasi yang terlalu sederhana. Hilirisasi bukan sekadar mengganti ekspor bauksit dengan ekspor alumina. Jika demikian, kita sebenarnya hanya memindahkan posisi Kalbar satu tingkat dalam rantai produksi.

Hilirisasi sesungguhnya harus bergerak lebih jauh: bauksit–alumina–aluminium–komponen industri–produk manufaktur. Di setiap mata rantai itulah nilai tambah, teknologi, pekerjaan profesional, dan kelas menengah industri terbentuk. Studi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengenai dampak hilirisasi bauksit di Kalimantan Barat bahkan sejak beberapa tahun lalu telah memperlihatkan besarnya potensi ekonomi apabila pengolahan dilakukan di daerah. Studi tersebut menggunakan skenario pengolahan seluruh produksi bauksit Kalbar di dalam provinsi sebagai dasar melihat efek ekonomi yang lebih luas. (ESDM, 2025). Dengan demikian, tantangan berikutnya bukan lagi sekadar membangun smelter. Tantangannya adalah membangun ekosistem industri setelah smelter.

Menjaga Alur Komoditas

Dalam literatur ekonomi pembangunan dikenal istilah resource curse. Jeffrey Sachs dan Andrew Warner (2001) menunjukkan bahwa kekayaan sumber daya alam tidak secara otomatis menghasilkan pertumbuhan jangka panjang yang tinggi. Dalam kondisi tertentu, ketergantungan terhadap sumber daya justru dapat menghambat diversifikasi ekonomi. Tentu Kalbar tidak harus terjebak dalam kutukan tersebut. Namun, risikonya tetap ada apabila struktur ekonomi terlalu bergantung pada ekstraksi sumber daya.

Hari ini bauksit menguntungkan, besok harga dunia dapat berubah. Sawit menghasilkan devisa, tetapi pasar global dapat mengalami fluktuasi. Karet pernah menjadi simbol kemakmuran masyarakat Kalimantan, tetapi perubahan harga telah berkali-kali memukul pendapatan petani. Itulah sebabnya pembangunan tidak boleh berhenti pada pertanyaan: berapa ton yang diproduksi? Pertanyaan yang lebih penting ialah berapa banyak yang diolah? Data perdagangan memberikan gambaran menarik. Pada Desember 2025, ekspor Kalimantan Barat mencapai US$176,69 juta dan impor US$69,10 juta sehingga menghasilkan surplus US$107,59 juta. Surplus perdagangan memang baik. Namun, kualitas ekspor sama pentingnya dengan besarnya ekspor.

Pada Juli 2025, misalnya, India menjadi pasar ekspor terbesar Kalbar dan ekspor ke negara tersebut didominasi alumina. Pada periode Januari-Juli 2025, Kalbar bahkan telah mencatat surplus perdagangan selama 107 bulan berturut-turut sejak Oktober 2016. Ini menunjukkan proses pengolahan sudah bergerak. Namun, alumina seharusnya bukan tujuan akhir. Albert Hirschman (1958) memberikan konsep yang masih sangat relevan: backward and forward linkages.
Sebuah investasi akan menghasilkan transformasi besar apabila menciptakan hubungan ekonomi ke belakang dan ke depan. Smelter membutuhkan energi, logistik, konstruksi, perawatan mesin, makanan pekerja, jasa transportasi, teknologi informasi, laboratorium, hingga jasa profesional.

Sementara alumina dan aluminium melahirkan industri kabel, komponen kendaraan, konstruksi, kemasan, peralatan rumah tangga, komponen elektronik hingga material berbagai industri modern. Jika kedua jaringan tersebut berkembang di Kalbar, dampak industrialisasi akan jauh lebih besar daripada nilai produksi smelter itu sendiri. Di sinilah pemerintah daerah perlu mempunyai keberanian merancang koridor industri baru Pontianak–Kubu Raya–Mempawah.

Mempawah dapat menjadi basis industri mineral dan pengolahan. Kubu Raya memiliki posisi strategis untuk industri dan logistik. Pontianak dapat berkembang sebagai pusat jasa keuangan, pendidikan, teknologi, perdagangan, dan layanan profesional yang mendukung industrialisasi. Ketiganya jangan tumbuh sebagai ruang ekonomi yang terpisah. Logika yang sama harus diterapkan pada komoditas perkebunan. Sawit tidak boleh dipandang hanya sebagai tandan buah segar atau CPO. Ekonomi sawit modern memiliki rantai nilai panjang: minyak pangan, oleokimia, kosmetik, farmasi, surfaktan, bahan bakar nabati, hingga biomaterial.

Demikian pula karet, komoditas karet Kalbar seharusnya tidak selamanya dikirim sebagai bahan baku. Ia dapat menjadi sarung tangan, komponen otomotif, barang teknik, produk kesehatan, hingga berbagai material industri.Kalbar sudah memiliki komoditas. Yang perlu dibangun sekarang adalah institusi industrialisasinya. Industrialisasi juga tidak boleh dibaca semata melalui pembangunan pabrik.Ia adalah proses sosial. Ketika industri berkembang, struktur masyarakat ikut berubah. Pabrik membutuhkan teknisi, operator mesin, engineer, ahli kimia, ahli lingkungan, analis data, tenaga logistik, manajer, dan berbagai profesi baru.

Max Weber melihat modernisasi ekonomi berjalan beriringan dengan berkembangnya spesialisasi dan organisasi rasional. Pierre Bourdieu (1986), sementara itu, menunjukkan bagaimana pendidikan dan keterampilan menjadi bentuk cultural capital yang menentukan posisi seseorang dalam struktur sosial. Karena itu, hilirisasi Kalbar harus menghasilkan kelas menengah industri lokal. Jangan sampai tambang berada di Kalbar, smelter berdiri di Kalbar, tetapi sebagian besar pekerjaan bernilai tinggi justru tidak dapat diisi anak-anak Kalbar karena ketidaksesuaian keterampilan.

Antropolog Clifford Geertz (1963) menunjukkan bahwa transformasi ekonomi tidak pernah berlangsung dalam ruang sosial yang kosong. Institusi ekonomi berinteraksi dengan kebudayaan, jaringan keluarga, komunitas, dan pola kehidupan masyarakat. Karena itu, industrialisasi Kalbar tidak boleh menjadi enclave modern yang terputus dari masyarakat sekitarnya. Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) lokal harus masuk ke rantai pasok industri. Pengusaha daerah harus memperoleh kesempatan menjadi vendor. Masyarakat sekitar kawasan industri harus mendapatkan akses pendidikan, pekerjaan, dan kesempatan usaha.Hilirisasi yang hanya memperbesar neraca perusahaan tetapi tidak mengubah kehidupan masyarakat akan kehilangan legitimasi sosialnya.

Pada akhirnya, Kalimantan Barat perlu mengubah cara mengukur keberhasilan pembangunan. Kalimantan Barat telah lama dianugerahi kekayaan alam. Tantangan generasi sekarang bukan lagi menemukan apa yang dapat diambil dari tanah, kebun, hutan, dan sungainya. Tantangannya adalah menemukan cara agar kekayaan tersebut menghasilkan pengetahuan, industri, teknologi, pekerjaan bermutu, dan kemakmuran yang menetap. Hilirisasi bauksit di Mempawah memberikan pintu masuk. Sawit, karet, perikanan, dan komoditas lainnya memberikan peluang berikutnya.Tetapi hilirisasi harus dipahami sebagai transformasi ekonomi, bukan sekadar pembangunan smelter.

*Penulis adalah Analis, Konsultan, Peneliti, Sejarawan dan Kandidat Doktor Ilmu Sejarah Universitas Indonesia

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play