Chevrolet Setop Penjualan Mobil Baru di China, Produksi Tetap Jalan untuk Ekspor
Suara Kalbar – General Motors (GM) mengambil langkah besar terhadap bisnis Chevrolet di China. Perusahaan memastikan penjualan mobil baru Chevrolet di pasar domestik Negeri Tirai Bambu dihentikan setelah merek tersebut beroperasi selama hampir dua dekade.
Meski aktivitas ritel berakhir, Chevrolet belum sepenuhnya meninggalkan China. Fasilitas produksi yang dikelola melalui kerja sama SAIC-GM tetap digunakan untuk membuat kendaraan yang ditujukan ke pasar internasional.
Penghentian penjualan tersebut menandai berakhirnya perjalanan Chevrolet di pasar ritel China. Selama beroperasi, merek asal Amerika Serikat itu sempat membukukan penjualan tahunan lebih dari 760 ribu unit dan kini memiliki basis lebih dari 7,5 juta pemilik kendaraan di negara tersebut.
GM China menjelaskan kepada National Business Daily, Selasa (11/8/2026), bahwa SAIC-GM masih akan menjalankan kegiatan manufaktur kendaraan Chevrolet. Namun, arah produksi kini lebih difokuskan untuk memenuhi permintaan konsumen di luar China.
Data China Passenger Car Association (CPCA) menunjukkan, kendaraan Chevrolet yang diproduksi di China dan kemudian diekspor mencapai 6.930 unit sepanjang Januari-Juni 2026. Jumlah itu tumbuh 6,9 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Perubahan strategi Chevrolet tersebut berlangsung bersamaan dengan penguatan hubungan bisnis antara GM dan SAIC Motor. Kedua perusahaan diketahui telah menyepakati perpanjangan kerja sama usaha patungan SAIC-GM selama 20 tahun, sehingga kemitraan tersebut akan berlangsung hingga 2047.
Dalam kesepakatan baru itu, GM dan SAIC Motor juga menyiapkan rencana untuk menghadirkan setidaknya 30 model kendaraan energi baru atau new energy vehicle (NEV) hingga 2030. Pengembangan produk tersebut terutama akan diarahkan untuk merek Cadillac dan Buick.
Wakil Presiden Eksekutif GM Global sekaligus Presiden GM China, John Roth, mengatakan kemampuan SAIC-GM di China memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi kekuatan bisnis di pasar global.
Menurut Roth, pengalaman SAIC-GM dalam mengembangkan produk hingga proses produksi dapat menjadi modal penting bagi perusahaan untuk memperluas jangkauan ke berbagai negara.
“Kami melihat peluang besar untuk bergerak melampaui China dan menghadapi dunia,” kata Roth.
Ia menyebut sejumlah kawasan yang berpotensi menjadi tujuan ekspansi, antara lain Timur Tengah, Afrika, Amerika Selatan, Meksiko, hingga kawasan Asia Pasifik. Ekspansi tersebut nantinya dapat memanfaatkan jaringan penjualan dan layanan purnajual yang sudah dimiliki GM secara global.
Di sisi lain, GM menegaskan penghentian penjualan mobil baru Chevrolet tidak berarti pelayanan terhadap konsumen yang sudah memiliki kendaraan merek tersebut ikut dihentikan.
Lebih dari 7,5 juta pemilik Chevrolet di China tetap akan mendapatkan layanan purnajual. Jaringan diler juga akan terus beroperasi, termasuk untuk kebutuhan perawatan kendaraan dan penyediaan suku cadang.
Dengan demikian, meski Chevrolet tidak lagi menawarkan mobil baru untuk konsumen China, GM masih mempertahankan aktivitas produksi merek tersebut di negara itu dengan orientasi yang lebih kuat ke pasar ekspor.
Sumber: Beritasatu.com





