Psikolog Ingatkan Netizen Stop Victim Blaming, Korban Kekerasan Butuh Empati
Suara Kalbar – Psikolog klinis Gisella Tani Pratiwi mengajak masyarakat untuk lebih bijak dan mengedepankan empati saat menyikapi berbagai kasus kekerasan yang ramai menjadi perbincangan di media sosial.
Menurut Gisella, publik tidak pernah mengetahui secara utuh situasi maupun tekanan yang dialami korban. Karena itu, setiap komentar yang disampaikan di ruang digital sebaiknya tidak memperburuk kondisi korban, terlebih dengan menyalahkan mereka atau melakukan victim blaming.
“Setidaknya, apa pun yang kita lakukan, termasuk berkomentar, jangan sampai memperparah kondisi korban. Sebelum mengirim komentar, pikirkan kembali dan baca ulang apa yang sudah ditulis. Mudah-mudahan dengan cara itu kita bisa mengurangi praktik victim blaming, terutama di media sosial,” ujar Gisella, Jumat (3/7/2026).
Ia menilai, budaya menyalahkan korban masih kerap ditemukan dalam berbagai kasus kekerasan. Bahkan, menurutnya, sikap tersebut tetap muncul meski korban telah mengalami penderitaan secara fisik maupun psikologis.
Gisella menjelaskan, salah satu penyebab munculnya victim blaming adalah minimnya pemahaman masyarakat mengenai dinamika hubungan yang diwarnai kekerasan. Banyak orang cenderung melihat persoalan dari sudut pandang yang sederhana tanpa memahami kondisi psikologis korban.
“Orang sering berpikir, kalau disakiti ya tinggal pergi. Padahal dalam relasi yang penuh kekerasan terdapat manipulasi psikologis, dominasi, hingga kontrol dari pelaku yang bisa dipengaruhi berbagai faktor, baik ekonomi, emosional, maupun seksual. Hal-hal seperti inilah yang sering tidak dipahami sehingga akhirnya korban justru disalahkan,” jelasnya.
Karena itu, Gisella mengimbau pengguna media sosial untuk membiasakan diri meninjau kembali komentar yang telah diketik sebelum dipublikasikan. Langkah sederhana tersebut dinilai dapat mencegah munculnya komentar yang menyudutkan atau melukai korban.
Selain berhati-hati dalam berkomentar, masyarakat juga diajak mencoba menempatkan diri pada posisi korban. Sebelum menyampaikan pendapat, penting untuk mempertimbangkan apakah komentar yang akan ditulis benar-benar memberi manfaat atau justru menambah beban psikologis bagi korban.
Gisella juga mengingatkan pentingnya mengenali respons emosional diri sendiri saat membaca berita atau unggahan mengenai kasus kekerasan. Dengan memahami perasaan yang muncul, seseorang akan lebih mudah membangun empati dan memberikan dukungan yang tepat kepada korban.
“Apa yang saya rasakan ketika membaca kasus itu? Apakah saya pernah mengetahui atau mengalami situasi yang serupa? Kesadaran seperti itu akan membantu kita lebih berhati-hati dalam bertindak, termasuk saat berkomentar, sehingga tidak menambah penderitaan korban,” tutupnya.
Sumber: Beritasatu.com






