SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Opini Rapuhnya Generasi dalam Sistem Kapitalisme

Rapuhnya Generasi dalam Sistem Kapitalisme

Norma Yunita

Oleh: Norma Yunita  

Baru-baru ini satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Ketapang kembali menemukan sejumlah pelajar masih memakai seragam sekolah duduk nongkrong di warung kopi, (sumber : suarakalbar.co.id). Keadaan ini sudah sering terjadi tetapi malah dianggap sebagai kenakalan remaja biasa, padahal ini sebenarnya sangat berbahaya. Dari hal kecil ini bisa menjadi masalah besar seperti terjadinya pergaulan bebas atau narkoba yang dapat merusak generasi penerus bangsa.

Saat ini juga di sekolahan hanya mementingkan nilai pelajaran dan pencapaian materi, sehingga masalah pembentukan ketakwaan dan keimanan anak dikesampingkan. Agama dalam sistem kapitalisme saat ini hanya dijadikan mata pelajaran formalitas di sekolahan. Ini mengakibatkan hilangnya kontrol keimanan pada diri generasi sekarang, dan jika melakukan kesalahan dianggap sebagai hal biasa.

Belum lagi para pelajar saat ini kehilangan minat belajar. Generasi lebih sering duduk nongkrong di kafe-kafe. Ini semua terjadi karena lemahnya kontrol keluarga dan sekolah. Semestinya di sekolah anak-anak diajari tentang Islam agar bisa mempunyai akhlak yang baik serta memiliki sikap hormat kepada guru dan orang lain. Sedangkan di rumah, seorang ibu menjadi pendidik utama untuk menancapkan nilai-nilai Islam kepada anaknya agar akidah anak kokoh saat keluar dari lingkungan rumah.

Tapi semua ini tidak bisa diterapkan dalam sistem sekularisme karena agama dipisahkan dari nilai-nilai kehidupan, sehingga tidak heran lagi jika melihat permasalahan yang terjadi saat ini. Melihat kondisi saat ini penempatan Tuhan hanya sebatas pencipta, bukan untuk mengatur kehidupan dunia. Kebebasan individu lebih diutamakan dibandingkan dengan tanggung jawab. Pendidikan hanya sebatas peluang untuk mencari kerja dan dijadikan bisnis oleh para kapitalis, di mana institusi hanya menjadi penyedia tenaga kerja yang berharga murah, bukan mencetak generasi yang berkepribadian mulia yang siap untuk memimpin peradaban cemerlang.

Faktor lain yang membuat generasi tidak jera melakukan kesalahan adalah karena penerapan hukum yang lemah. Anak-anak yang melakukan kesalahan tidak diberi hukuman yang sesuai dengan perbuatannya, Anak-anak hanya mendapat sanksi yang bersifat formalitas tanpa ditanamkan kepribadian Islam.

Dalam Islam, pelanggaran ini akan diberi sanksi uqubat yang sesuai dengan kesalahannya dan membuat jera para pelaku. Sanksi dalam Islam mempunyai dua fungsi, yaitu sebagai pencegah jawazir agar orang lain tidak mengikuti dan sebagai penebus dosa jawabir. Sanksi yang diberikan juga bertujuan untuk mendidik agar generasi tidak melakukan kesalahan yang dapat merugikan masa depan.

Generasi cemerlang ini hanya lahir dari peradaban Islam, di mana menjadikan Islam sebagai pembentuk karakter dan kepribadian generasi penerus bangsa, menjadi satu-satunya tujuan dalam Islam. Pendidikan dalam Islam juga memadukan antara keimanan dengan ilmu kehidupan sehingga dapat berpengaruh besar pada setiap perbuatan.

Sistem pendidikan Islam jelas mempunyai tujuan yang benar, yakni mencetak generasi yang mempunyai pola pikir dan pola sikap yang sesuai dengan Islam. Dalam Islam, kurikulum yang digunakan berdasarkan akidah Islam, sehingga lahir generasi yang memiliki akhlak baik, kecerdasan akal yang mumpuni, dan memiliki iman yang kuat. Islam juga mempunyai sistem ekonomi Islam yang mensejahterakan rakyat. Kebijakan yang digunakan bersumber dari syariat Islam, maka seluruh masyarakat bisa merasakan pendidikan secara gratis.

Ada tiga hal yang membuat generasi rusak, yaitu:
Pertama, dalam pendidikan keluarga. Orang tua harus memahamkan pentingnya fondasi akidah Islam sebagai bekal mendidik anak. Pendidikan keluarga yang tidak dibangun berdasarkan akidah Islam akan membentuk generasi yang lemah iman dan tidak memiliki kontrol atas emosi serta amarahnya sendiri.

Kedua, lingkungan sekolah dan masyarakat. Lingkungan sangat berperan dalam membentuk kepribadian pada diri anak. Namun, sistem sekarang telah mendegradasi nilai kesalehan tersebut dengan menormalisasi perilaku yang salah.

Ketiga, kurangnya peran dan kontrol negara. Sistem pendidikan sekarang ini melahirkan kurikulum sekuler yang mengesampingkan peran agama dalam mengatur kehidupan. Dengan kurikulum semacam ini, generasi justru kehilangan arah dan fondasi dalam hidupnya. Standar perbuatan tidak lagi terikat pada ketentuan agama, melainkan pada nilai-nilai kebebasan yang diajarkan.

Tujuan pendidikan dalam Islam jauh berbeda dengan pendidikan dalam Kapitalisme. Membangun generasi shalih dan salihah yang memiliki akhlak mulia sangat diutamakan.

Dalam Islam harus ada tiga pilar untuk melahirkan generasi cemerlang, yaitu ketakwaan individu, kontrol masyarakat, dan negara sebagai penegak hukum. Negara berperan dalam menjamin hak pendidikan serta menyusun kurikulum pendidikan berbasis akidah Islam yang menciptakan ketakwaan anak. Dari sini juga diperlukan peran orang tua yang harus memiliki pemahaman Islam agar tidak salah dalam mendidik dan mengasuh anak-anaknya.
Dilihat dari berbagai sejarah peradaban Islam, tampak bahwa penerapan Islam secara menyeluruh akan menjadi kunci sukses munculnya generasi terbaik yang berhasil membawa umat pada kebangkitan. Generasi Islam ini kukuh dalam ketakwaan dan ahli dalam menyolusi berbagai permasalahan kehidupan. Wajar jika sepanjang belasan abad, umat Islam mampu membawa kemajuan peradaban.

Islam memiliki perhatian besar terhadap masalah generasi. Negara yang menerapkannya juga mempunyai tujuan sebagai penyelamatan generasi. Maka tak heran ketika Islam diterapkan, akan banyak muncul generasi yang memiliki pemikiran cemerlang, tidak seperti saat ini di mana banyak generasi tersesat dalam permasalahan hidup dan krisis identitas.

*Penulis adalah Muslimah Preneur

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play