Kunjungan ke NTT, Presiden Harusnya Menjadi Teladan Masyarakat Dengan Tidak Membuat Kerumunan

  • Bagikan

Jokowi disambut kerumunan massa di NTT.(Suara.com)

“Bapak Presiden Joko Widodo seharusnya bisa menjadi cerminan terhadap rakyat Indonesia terlebih di masa pandemi seperti ini”

Oleh : Tiara Monika Suci

Lagi lagi, warga Indonesia dihebohkan dengan tindakan yang dilakukan oleh orang terpandang di Negeri ini yaitu Presiden Joko Widodo. Warga dibuat geram dengan adanya kerumunan massa yang terjadi di NTT beberapa hari lalu.

23 Februari 2021 Presiden Joko Widodo berkunjung ke Maumere, Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk meresmikan Bendungan Napan Gete. Di kelurahan Waioti, Maumere.

Warga NTT menyambut dengan antusias kedatangan Presiden Joko Widodo tanpa memperhatikan protokol kesehatan lagi. Nampaknya, tamu beserta tuan rumah sudah lupa bahwa di Indonesia saat ini sedang dirundung pandemi yang tak kunjung usai.

Padahal sebelumnya, pada 16 November 2020, Jokowi meminta kepada daerah dan aparat untuk bertindak tegas mendisiplinkan masyarakat bila terjadi kerumunan. Ternyata, kerumunan kemarin bukan kali pertama. Pada 10 April 2020 lalu, Jokowi membagikan sembako yang juga memicu kerumunan di Jalan Pajajaran. Bogor, Jawa Barat. Dan tidak hanya itu, 18 Januari 2021 Jokowi membagikan makanan kepada korban banjir di Kalimantan Selatan yang akhirnya juga memicu kerumunan warga.

Bapak Presiden Joko Widodo seharusnya bisa menjadi cerminan terhadap rakyat Indonesia terlebih di masa pandemi seperti ini. Presiden Joko Widodo selalu saja meminta masyarakat untuk tetap patuhi protokol kesehatan dengan cara mencuci tangan, menjaga jarak dan menggunakan masker.

Tapi apakah kerumunan massa yang terjadi karena kedatangan Jokowi kemarin sudah menegakkan protokol kesehatan dengan baik dan benar? Apakah para tangan kanannya presiden bisa dengan jeli memperhatikan masyarakat yang tidak mematuhi protokol kesehatan selain hanya bisa fokus mengawal Presiden? Apa ini yang namanya “hanya karena sebuah kepentingan, protokol kesehatan pun terlupakan?”

Mengumpulkan massa dan antusiasme masyarakat sangatlah bagus, hanya saja penempatan waktunya yang salah, mengingat saat ini Indonesia sedang berjuang melawan Covid-19 yang dimana Indonesia membutuhkan orang-orang yang mampu menegakkan protokol kesehatan agar pandemi ini cepat berlalu.

Semoga hal seperti ini tidak terulang kembali di massa yang akan datang. Karena Pemimpin haruslah menjadi suri tauladan bagi masyarakatnya.

*Penulis adalah Staff Bidang Penelitian dan Pengembangan Isu Politik BPH Himapol Fisip UNTAN

  • Bagikan
You cannot copy content of this page