SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Otomotif Jangan Terlambat Jual Armada, Perusahaan Bisa Kehilangan Puluhan Juta Rupiah per Mobil

Jangan Terlambat Jual Armada, Perusahaan Bisa Kehilangan Puluhan Juta Rupiah per Mobil

Mempertahankan kendaraan operasional terlalu lama dapat merugikan perusahaan akibat tingginya biaya perawatan dan turunnya nilai jual aset secara signifikan. (Google)

Suara Kalbar – Banyak perusahaan tanpa disadari mengalami kerugian finansial akibat mempertahankan kendaraan operasional terlalu lama. Meski armada masih berfungsi dengan baik untuk menunjang aktivitas bisnis sehari-hari, nilai aset kendaraan terus mengalami penyusutan sementara biaya perawatannya justru semakin meningkat.

Dalam keterangan resminya, Senin (22/6/2026), Garasi.id menyebut kondisi tersebut sering terjadi karena perusahaan hanya berfokus pada aspek operasional kendaraan. Selama kendaraan masih dapat digunakan dan tidak mengalami kerusakan serius, armada dianggap masih layak dipertahankan.

Padahal, dari perspektif manajemen aset, keputusan tersebut belum tentu menguntungkan. Memasuki usia penggunaan empat hingga lima tahun, biaya kepemilikan kendaraan umumnya mulai meningkat seiring bertambahnya kebutuhan servis, penggantian komponen yang aus, hingga munculnya risiko kerusakan besar.

Jika pada masa awal penggunaan biaya perawatan tahunan berkisar antara Rp3 juta hingga Rp5 juta, angka tersebut dapat melonjak menjadi Rp10 juta sampai Rp15 juta per tahun ketika usia kendaraan bertambah. Biaya tersebut belum termasuk kemungkinan penggantian komponen utama seperti transmisi, sistem pendingin, maupun bagian kaki-kaki kendaraan.

Kondisi ini membuat perusahaan menghadapi dua tantangan sekaligus, yakni menurunnya nilai aset dan meningkatnya biaya operasional untuk mempertahankan kendaraan yang sudah berumur.

Garasi.id menilai salah satu kesalahan yang paling sering terjadi adalah keterlambatan dalam menentukan waktu penjualan kendaraan operasional. Padahal, momentum pelepasan aset sangat berpengaruh terhadap nilai jual yang bisa diperoleh perusahaan.

Sebagai ilustrasi, kendaraan operasional yang dibeli dengan harga Rp250 juta masih berpotensi memiliki nilai pasar sekitar Rp140 juta hingga Rp150 juta jika dijual pada tahun keempat pemakaian. Pada periode tersebut, kondisi kendaraan umumnya masih relatif prima dan risiko kerusakan besar masih tergolong rendah sehingga minat pembeli tetap tinggi.

Namun, apabila kendaraan baru dilepas saat memasuki usia enam hingga tujuh tahun, nilai pasarnya dapat merosot ke kisaran Rp90 juta sampai Rp110 juta. Selain usia kendaraan yang semakin tua, calon pembeli biasanya mulai mempertimbangkan potensi biaya perbaikan setelah kendaraan berpindah tangan.

“Perbedaan waktu penjualan satu hingga dua tahun saja bisa membuat perusahaan kehilangan nilai aset antara Rp30 juta sampai Rp50 juta per unit kendaraan,” ungkap Garasi.id.

Kerugian tersebut tentu akan semakin besar apabila perusahaan menjual armada dalam jumlah banyak. Oleh karena itu, strategi pengelolaan aset kendaraan menjadi faktor penting dalam menjaga efisiensi bisnis.

Dalam praktiknya, perusahaan memiliki dua pilihan saat menjual kendaraan operasional, yakni melalui showroom atau langsung kepada konsumen akhir. Menjual melalui showroom dinilai lebih praktis dan cepat, terutama untuk pelepasan armada dalam jumlah besar.

Meski demikian, harga yang ditawarkan showroom biasanya berada di bawah harga pasar. Hal ini karena showroom harus memperhitungkan biaya perbaikan, persiapan kendaraan, margin keuntungan, hingga risiko penyimpanan unit sebelum terjual kembali.

Sebagai contoh, kendaraan dengan nilai pasar Rp145 juta bisa saja dibeli showroom dengan harga lebih rendah setelah dikurangi biaya persiapan kendaraan yang berkisar antara Rp5 juta hingga Rp8 juta serta margin usaha yang mereka targetkan.

Sementara itu, penjualan langsung kepada pengguna akhir berpotensi memberikan harga yang lebih tinggi karena tidak melibatkan pihak perantara. Namun metode ini membutuhkan transparansi kondisi kendaraan yang lebih detail dan akurat.

Calon pembeli umumnya akan menelusuri berbagai aspek sebelum memutuskan transaksi, mulai dari riwayat servis, kondisi mesin, catatan kecelakaan, hingga kemungkinan kendaraan pernah terdampak banjir.

Tanpa data pendukung yang jelas, proses negosiasi sering kali berlangsung lebih lama dan berujung pada penawaran harga yang lebih rendah dari ekspektasi penjual.

Untuk membantu perusahaan menjaga nilai aset kendaraan, Garasi.id menghadirkan layanan Inspeksi Mobil yang menawarkan pemeriksaan menyeluruh hingga 170 titik pengecekan. Inspeksi tersebut meliputi kondisi mesin, transmisi, sistem kelistrikan, suspensi, struktur kendaraan, interior, bodi, serta indikasi bekas tabrakan maupun banjir.

Laporan hasil inspeksi yang transparan dinilai dapat menjadi dasar yang kuat dalam menentukan harga jual kendaraan. Selain itu, calon pembeli juga memperoleh gambaran objektif mengenai kondisi kendaraan sehingga proses transaksi menjadi lebih mudah dan terpercaya.

CEO Garasi.id, <PRIVATE_PERSON>, mengatakan banyak perusahaan sebenarnya tidak mengalami kerugian karena kondisi kendaraan yang buruk, melainkan karena tidak memiliki data profesional yang mampu menjelaskan kondisi aset secara objektif.

“Banyak perusahaan sebenarnya tidak rugi karena mobilnya jelek, tetapi karena tidak memiliki data yang dapat membuktikan kondisi kendaraan secara profesional. Akibatnya harga terus ditekan selama proses negosiasi,” ujarnya.

Menurut Ardy, inspeksi kendaraan tidak hanya berfungsi untuk mengetahui kondisi teknis mobil, tetapi juga menjadi instrumen penting dalam menjaga nilai aset agar tetap kompetitif di pasar kendaraan bekas.

Ia menambahkan, keputusan mempertahankan atau mengganti armada seharusnya dilakukan berdasarkan data dan perhitungan yang matang, termasuk mempertimbangkan biaya perawatan, nilai pasar, serta potensi penyusutan harga.

“Banyak perusahaan baru menjual kendaraan saat biaya perawatan sudah tinggi dan nilainya turun cukup jauh. Padahal dengan data inspeksi yang tepat, keputusan dapat diambil lebih cepat dan memberikan keuntungan yang lebih optimal,” katanya.

Melalui layanan inspeksi kendaraan, Garasi.id berharap dapat membantu perusahaan mengambil keputusan pelepasan aset secara lebih terukur, transparan, dan berbasis data sehingga nilai kendaraan tetap optimal sebelum mengalami penurunan harga yang lebih signifikan.

Sumber: Beritasatu.com

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play