SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Teknologi Five Eyes Peringatkan AI Bisa Percepat Serangan Siber dalam Hitungan Bulan

Five Eyes Peringatkan AI Bisa Percepat Serangan Siber dalam Hitungan Bulan

Ilustrasi Google DeepMind. (Dok Google/Istimewa)

Suara Kalbar – Aliansi intelijen Five Eyes yang terdiri dari Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Australia, dan Selandia Baru mengeluarkan peringatan terkait pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI). Teknologi tersebut dinilai berpotensi memperkuat kemampuan pelaku kejahatan siber dalam melancarkan serangan dengan skala dan kompleksitas yang lebih besar.

Dalam pernyataan bersama yang dirilis pekan ini, lembaga-lembaga keamanan siber dari lima negara tersebut menyebut kemampuan model AI generasi terbaru berkembang jauh lebih cepat dibandingkan perkiraan banyak pihak. Dampaknya diprediksi akan mengubah peta ancaman dan pertahanan siber global dalam waktu yang relatif singkat.

Para pejabat keamanan menilai perubahan tersebut bukan lagi skenario jangka panjang. Mereka memperkirakan transformasi kemampuan serangan siber akibat AI dapat terjadi hanya dalam hitungan bulan.

Menurut Five Eyes, pemerintah maupun sektor swasta harus segera mengambil langkah antisipasi. AI disebut mampu mempercepat hampir seluruh tahapan serangan siber, mulai dari proses pencarian celah keamanan, analisis sistem, hingga eksploitasi terhadap kerentanan yang ditemukan.

“AI bukan lagi teknologi masa depan. Teknologi ini sudah hadir dan mulai memengaruhi lanskap keamanan digital saat ini,” demikian isi pernyataan tersebut seperti dikutip Reuters, Selasa (23/6/2026).

Mereka menjelaskan bahwa AI telah menurunkan hambatan teknis yang sebelumnya menjadi kendala bagi banyak pelaku kejahatan siber. Dengan bantuan kecerdasan buatan, serangan dapat dilakukan lebih cepat, lebih efisien, dan dengan tingkat kecanggihan yang semakin tinggi.

Kondisi ini membuat rentang waktu antara ditemukannya sebuah kerentanan dan pemanfaatannya oleh peretas menjadi semakin singkat. Karena itu, keamanan siber tidak lagi dapat dianggap semata-mata sebagai urusan divisi teknologi informasi.

Five Eyes menegaskan perlindungan digital kini menjadi bagian penting dari keberlangsungan bisnis, reputasi perusahaan, kepercayaan publik, hingga kepentingan keamanan nasional.

Aliansi Five Eyes sendiri merupakan jaringan kerja sama intelijen paling berpengaruh di dunia. Kemitraan ini berawal dari kolaborasi pasca-Perang Dunia II yang kemudian berkembang menjadi sistem pertukaran informasi strategis antarnegara anggota.

Saat ini cakupan kerja sama mereka tidak hanya terbatas pada intelijen tradisional, tetapi juga meluas ke bidang keamanan siber, perlindungan infrastruktur digital, dan pengawasan terhadap perkembangan teknologi mutakhir, termasuk kecerdasan buatan.

Kekhawatiran terhadap AI muncul seiring hadirnya berbagai model generatif yang memiliki kemampuan menganalisis sistem komputer dan menemukan kelemahan keamanan secara lebih efektif. Beberapa model yang menjadi perhatian antara lain Mythos milik Anthropic dan GPT-5.5-Cyber yang dikembangkan OpenAI.

Kemampuan model-model tersebut dalam membantu identifikasi celah keamanan dan mempercepat proses analisis teknis dinilai dapat menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi membantu pertahanan digital, namun di sisi lain berpotensi disalahgunakan oleh pelaku kejahatan siber.

Laporan ABC News menyebut sejumlah pejabat keamanan mengkhawatirkan potensi penyalahgunaan teknologi tersebut apabila jatuh ke tangan kelompok kriminal maupun aktor ancaman lainnya.

Salah satu contoh yang menjadi sorotan adalah model AI Mythos milik Anthropic. Teknologi tersebut sempat diperkenalkan untuk mendukung peningkatan kemampuan keamanan siber sejumlah lembaga pemerintah di Australia.

Namun tidak lama setelah diperkenalkan, pemerintah Amerika Serikat membatasi akses terhadap versi tertentu model tersebut bagi warga negara asing karena alasan keamanan nasional.

Anthropic juga diketahui menerapkan pembatasan akses sebagai langkah pencegahan agar kemampuan model tersebut tidak dimanfaatkan untuk tujuan yang merugikan.

Peningkatan ancaman siber berbasis AI turut mendorong perubahan kebijakan di sejumlah lembaga keamanan. Badan Keamanan Siber dan Infrastruktur Amerika Serikat (CISA), misalnya, kini memperketat tenggat waktu penanganan kerentanan digital.

Jika sebelumnya proses perbaikan dapat dilakukan dalam jangka waktu yang lebih panjang, kini instansi pemerintah diwajibkan menutup celah keamanan kritis dalam waktu maksimal tiga hari sejak ditemukan.

Five Eyes menilai langkah tersebut diperlukan karena AI memungkinkan pelaku ancaman mengeksploitasi kerentanan dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi dibandingkan sebelumnya.

Dalam menghadapi situasi tersebut, organisasi disarankan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem yang terhubung ke internet. Sistem yang tidak memerlukan koneksi daring sebaiknya dipisahkan dari jaringan guna mengurangi potensi risiko.

Selain itu, penggunaan perangkat lunak lama yang sudah tidak lagi mendapatkan pembaruan keamanan juga menjadi perhatian serius. Sistem seperti ini dianggap sebagai target empuk bagi peretas karena sering memiliki banyak celah yang belum diperbaiki.

Pembatasan akses terhadap sistem penting, pemantauan berkala aktivitas pengguna, serta penerapan pembaruan keamanan sesegera mungkin juga menjadi langkah yang direkomendasikan.

Meski memberikan peringatan keras terkait risiko AI, Five Eyes menegaskan bahwa teknologi tersebut juga dapat menjadi salah satu alat pertahanan paling efektif saat ini.

Pemanfaatan AI secara defensif diyakini mampu membantu organisasi mendeteksi ancaman lebih cepat, menemukan kerentanan sebelum dimanfaatkan penyerang, hingga mempercepat respons terhadap insiden keamanan.

Teknologi tersebut juga berpotensi meningkatkan kualitas perangkat lunak, mengidentifikasi aktivitas mencurigakan dalam jaringan, serta mengurangi dampak dan biaya yang timbul akibat serangan siber.

Menurut Five Eyes, organisasi yang mampu mengintegrasikan AI ke dalam strategi keamanan mereka akan memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan ketahanan digital di tengah perubahan ancaman yang berlangsung sangat cepat.

Para pejabat keamanan menegaskan bahwa asumsi risiko siber yang digunakan saat ini bisa menjadi usang hanya dalam hitungan bulan. Karena itu, pemerintah dan pelaku industri dituntut untuk terus memperbarui pendekatan keamanan mereka secara proaktif.

Sementara itu, Kepala Pusat Keamanan Siber Australia di Direktorat Sinyal Australia, Stephanie Crowe, menilai negaranya berada dalam posisi yang cukup siap menghadapi tantangan tersebut.

Menurut Crowe, berbagai perangkat dan kemampuan yang dibutuhkan untuk memperkuat pertahanan digital sebenarnya sudah tersedia saat ini. Yang diperlukan adalah komitmen organisasi untuk menjadikan keamanan siber sebagai prioritas utama.

Ia juga menegaskan bahwa AI harus dimanfaatkan sebagai alat pertahanan, mengingat para pelaku ancaman sudah lebih dulu memanfaatkan teknologi tersebut untuk meningkatkan kemampuan serangan mereka.

“Semakin cepat organisasi memahami dan mengadopsi AI untuk keamanan, semakin besar peluang mereka melindungi sistem dan jaringan dari ancaman yang terus berkembang,” ujarnya.

Sumber: Beritasatu.com

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play