Fake Hunger pada Diabetes Tipe 2, Kondisi yang Sering Tak Disadari dan Bisa Ganggu Kontrol Gula Darah
Suara Kalbar– Penderita diabetes melitus tipe 2 (DMT2) tidak hanya dituntut menjaga kadar gula darah tetap stabil, tetapi juga menghadapi tantangan lain yang sering luput dari perhatian, yakni munculnya rasa lapar palsu atau fake hunger di sela-sela waktu makan.
Kondisi ini berkaitan dengan resistensi insulin, yaitu ketika tubuh tidak mampu menggunakan glukosa secara optimal sebagai sumber energi. Akibatnya, meskipun kadar gula darah berada pada level tinggi, sel-sel tubuh tetap mengalami kekurangan energi sehingga memicu sinyal lapar yang keliru ke otak.
Fenomena tersebut dapat memengaruhi pola makan penderita diabetes. Sebagian orang terdorong untuk mengonsumsi camilan atau makanan tambahan di luar jadwal makan utama, yang berpotensi menyebabkan kenaikan kadar gula darah secara bertahap.
Di sisi lain, ada pula penderita yang memilih menahan lapar hingga waktu makan berikutnya. Namun, kondisi itu justru dapat meningkatkan risiko makan berlebihan saat waktu makan tiba, yang pada akhirnya juga berdampak pada kontrol gula darah.
Apabila fake hunger terjadi secara berulang dan tidak dikelola dengan baik, resistensi insulin berpotensi semakin memburuk serta meningkatkan risiko komplikasi diabetes dalam jangka panjang.
Peran Nutrisi dalam Mengendalikan Rasa Lapar
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan rasa lapar pada penderita diabetes tidak hanya ditentukan oleh frekuensi makan, tetapi juga dipengaruhi jenis nutrisi yang dikonsumsi.
Karbohidrat kompleks, misalnya, membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna sehingga dapat membantu menjaga pasokan energi lebih stabil dibandingkan karbohidrat sederhana.
Selain itu, serat berperan memperlambat proses penyerapan glukosa di saluran pencernaan. Dengan demikian, lonjakan gula darah setelah makan dapat ditekan sekaligus membantu mempertahankan rasa kenyang lebih lama.
Protein juga memiliki fungsi penting dalam mengendalikan nafsu makan. Nutrisi ini diketahui dapat merangsang hormon yang berperan dalam menciptakan rasa kenyang sehingga membantu mengurangi keinginan makan berlebihan.
Tak hanya itu, vitamin B6 dan B12 juga dinilai berperan dalam mendukung proses metabolisme energi, yakni membantu tubuh mengubah nutrisi menjadi energi yang dapat dimanfaatkan secara optimal.
Pentingnya Pendekatan dengan Beban Glikemik Rendah
Diabetolog, Kelvin Candiago, menjelaskan bahwa pengelolaan diabetes tidak cukup hanya berfokus pada kadar gula darah saat waktu makan utama.
Menurutnya, penting pula memahami bagaimana tubuh merespons rasa lapar yang muncul di antara waktu makan.
“Pengelolaan diabetes tidak hanya fokus pada kadar gula darah saat makan utama, tetapi juga bagaimana tubuh merespons rasa lapar di sela waktu makan. Pendekatan nutrisi dengan beban glikemik rendah dapat membantu menjaga respons glukosa yang lebih stabil,” ujarnya.
Ia menambahkan, berbagai studi menunjukkan makanan dengan beban glikemik rendah mampu membantu mengurangi fluktuasi gula darah sekaligus mendukung pengelolaan diabetes yang lebih baik.
Dengan memahami penyebab fake hunger dan menerapkan pola makan yang tepat, penderita diabetes dapat lebih mudah menjaga kestabilan energi sepanjang hari sekaligus mengurangi risiko lonjakan gula darah yang tidak disadari.
Perlu Dukungan Kajian Ilmiah Berkelanjutan
Dalam upaya menghadirkan solusi berbasis nutrisi, tim riset dan pengembangan mGanik Nutrition mengembangkan produk mGanik Superfood yang diformulasikan untuk mendukung kebutuhan nutrisi penyandang diabetes.
Menurut dr Kelvin, pendekatan yang digunakan dalam formulasi tersebut memiliki dasar ilmiah yang menarik dan berpotensi membantu mengatasi fenomena fake hunger.
“Saya melihat formulasi yang dikembangkan tim R&D mGanik Nutrition memiliki rasional ilmiah yang kuat untuk membantu mengatasi fake hunger pada penyandang diabetes. Karena itu, pendekatan ini menarik untuk divalidasi lebih lanjut melalui uji klinis,” katanya.
Meski demikian, para ahli tetap menekankan bahwa pengelolaan diabetes harus dilakukan secara menyeluruh melalui pola makan seimbang, aktivitas fisik teratur, kepatuhan terhadap terapi yang dianjurkan dokter, serta pemantauan gula darah secara berkala.
Sumber: Beritasatu.com






