SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Daerah Mempawah Naik Dango GPKB Jemaat Zion di Takong, Lestarikan Adat Warisan Leluhur

Naik Dango GPKB Jemaat Zion di Takong, Lestarikan Adat Warisan Leluhur

Josh Barbara, Ketua Panitia Naik Dango GPKB Jemaat Zion Takong, Kecamatan Toho, saat menyambut kedatangan Wabup Mempawah Juli Suryadi Burdadi dan Panglima Jilah, Selasa (26/5/2026). [SUARAKALBAR.CO.ID/Nasrul Kominfo Mpw]

Mempawah (Suara Kalbar) – Prosesi Naik Dango yang digelar GPKB Jemaat Zion Takong, Kecamatan Toho, Selasa (26/5/2026), berlangsung khidmat dan penuh nuansa adat Dayak.

Kegiatan yang menjadi ungkapan syukur atas hasil panen tersebut dihadiri Wakil Bupati Mempawah Juli Suryadi Burdadi, Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Mempawah Adrianus, Ketua Majelis GPKB Jemaat Zion Takong Samuel Siswoko, serta Panglima Jilah atau Pangalangok Jilah selaku Pemimpin Besar Laskar Merah Tariu Borneo Bangkule Rajakng (TBBR).

Selain tokoh adat dan pemerintah daerah, tampak hadir pula tamu undangan dari Bank BRI, Bank Kalbar, PT BAI, PT ANTAM, para kepala desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh perempuan dan pemuda.

Nuansa budaya Dayak begitu terasa sejak awal kegiatan. Tarian penyambutan, ornamen adat, hingga salam khas Dayak “Adil Ka’ Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata” menggema sepanjang acara.

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Mempawah Juli Suryadi Burdadi menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan Naik Dango yang menurutnya memiliki nilai budaya, spiritual, dan kebersamaan yang sangat kuat.

“Naik Dango bukan hanya tradisi tahunan, tetapi bentuk rasa syukur kepada Jubata atas hasil panen dan kehidupan yang terus diberkati. Tradisi ini juga menjadi sarana mempererat persaudaraan dan menjaga identitas budaya Dayak,” ujarnya.

Ia menambahkan, Pemerintah Kabupaten Mempawah akan terus mendukung kegiatan adat dan budaya sebagai bagian penting dalam menjaga warisan leluhur.

Sementara itu, Panglima Jilah dalam sambutannya mengajak masyarakat Dayak agar tidak meninggalkan adat, budaya dan tradisi yang diwariskan para leluhur.

“Kita sebagai masyarakat adat wajib mencintai, mempertahankan dan melestarikan budaya kita. Karena adat dan budaya adalah identitas orang Dayak,” tegasnya.

Menurut Panglima Jilah, budaya bukan sesuatu yang kuno untuk ditinggalkan, melainkan akar kehidupan yang harus dijaga agar generasi mendatang tidak kehilangan jati diri.

“Kalau tidak ada yang kuno, tidak mungkin ada yang kini. Kalau tidak ada masa lalu, tidak mungkin ada yang terdepan,” katanya.

Ia juga mencontohkan bangsa-bangsa besar seperti China, Jepang dan Korea yang tetap bangga mempertahankan budaya mereka meskipun telah maju.

“Mereka maju karena tetap menjaga adat dan budayanya. Kita orang Dayak juga harus bangga dengan identitas kita sendiri,” ujarnya.

Panglima Jilah turut menegaskan bahwa adat dan budaya merupakan anugerah dari Jubata yang harus dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.

“Kita ini ciptaan Jubata. Jadi semua yang diwariskan kepada kita harus dijaga dan dilestarikan,” ucapnya disambut tepuk tangan jemaat.

Ketua Panitia Josh Barbara dalam laporannya mengungkapkan rasa syukur atas suksesnya pelaksanaan kegiatan meski dengan berbagai keterbatasan.

Ia mengakui panitia memberanikan diri menggelar kegiatan besar tersebut sebagai bentuk komitmen melestarikan budaya Dayak melalui pelayanan gereja.

“Kegiatan ini merupakan program prioritas majelis. Konsepnya adalah bagaimana budaya Dayak tetap diwariskan kepada generasi muda lewat gereja,” katanya.

Josh juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh tamu undangan yang hadir, termasuk Wakil Bupati, Ketua DAD dan Panglima Jilah yang dinilai memberi semangat bagi jemaat dan masyarakat Takong.

Selain ibadah, acara juga dirangkai dengan adat Dayak, tarian penyambutan, hingga penampilan seni budaya.

Kehadiran para tokoh adat dan pemerintah memberi semangat tersendiri bagi jemaat dan masyarakat yang memadati lokasi kegiatan.

Penulis: Tim Liputan

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play