Kembali Raih Penghargaan, Prof Rubiyo Sosok Inspirasi dan Mentor Bagi LDII Kalbar
Pontianak (Suara Kalbar) – Prof. Dr. Rubiyo seorang Peneliti Ahli Utama di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembali meraih penghargaan.
Jika sebelumnya meraih ‘Indonesian Breeder Award (IBA) 2025’ Kategori Social Impact, kini sosok yang juga mentor bagi LDII Kalbar itu meraih Satyalancana Wira Karya.
Penghargaan tersebut diberikan bersamaan dengan acara “BRIN 5.0: Inovasi untuk Negeri”, di gedung B.J. Habibie, Jakarta, pada Senin lalu.
Ketua DPW LDII Kalbar Susanto mengaku bangga dengan capaian prestasi itu, dan bisa menjadi motivasi bagi warga LDII Kalbar dalam memberikan kontribusi di bidang pangan.
“Selama ini Prof Rubiyo memang mendampingi LDII Kalbar dalam memperjuangkan peran aktifnya dalam mendukung ketahanan pangan. Bahkan sebenarnya kopi didorong untuk dijadikan komoditas andalan untuk Kalbar,” ujar Susanto, Jumat (1/5/2026).
Jika di Tana Toraja mampu dikembangkan kopi jenis unggul varietas Toraya Uluway, Toraya Bolong, Toraya Langda dan Toraya Buntu Santung.maka ini potensi di Kalbar juga dapat dilakukan hal yang sama.
“Kami di LDII Kalbar selalu didorong untuk pengembangan Kopi, tapi peluang itu belum kami dimanfaatkan. Padahal potensi di Kalbar cukup besar,” jelasnya.
Terpisah, Peneliti Ahli Utama BRIN, Prof. Dr. Rubiyo menyatakan pihaknya melakukan diseminasi teknologi, hingga pendampingan pada petani di Tana Toraja.
“Kita lakukan diskriminasi teknologi dan Alhamdulillah hasil produksi meningkat hingga 200 persen per tahun dan memperkuat ekonomi masyarakat,” tuturnya.
Lebih lanjut, Rubiyo mengungkapkan, produktivitas kopi dari varietas baru yang dikembangkan tersebut, mencapai 1,5-2 ton per hektare. “Dengan skor cita rasa kopi berkisar 87,38 poin,” katanya.
Terkait dengan metode pemuliaan yang dikembangkan, Rubiyo mengatakan, menggunakan pemuliaan partisipatif.
“Kami melakukan perakitan varietas berdasarkan kebutuhan petani kopi di Tana Toraja. Sehingga, bisa menghasilkan inovasi teknologi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat di lokasi penelitian,” tuturnya.
Berbicara tantangan teknis dalam proses pengembangan varietas kopi tersebut, Rubiyo mengatakan, petani tidak mudah menerima inovasi teknologi yang dihasilkan, jika belum ada contoh di lapangan.
“Jika telah ada, mereka akan mau mengadopsi teknologi tersebut. Dan ini, memerlukan waktu, tenaga dan biaya yang tidak kecil,” pungkasnya.
Untuk itu, ia mengungkapkan, pihaknya membuat demplot di lokasi petani kopi dan di wilayah pengembangan tanaman kopi.
Hal ini penting, karena demplot tersebut dapat digunakan sebagai sarana edukasi dan percontohan untuk masyarakat yang akan mengembangkan kopi,” kata Rubiyo.
Hasilnya, ia mengatakan, kopi yang dikembangkan memiliki mutu yang baik, volume produksi yang meningkat sehingga berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat.
Sementara itu, memaknai penghargaan yang diberikan tersebut, Rubiyo mengatakan, memberikan dorongan semangat untuk bisa berkarya lebih baik lagi.
“Sehingga, dapat terus berkontribusi menghasilkan inovasi teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat, baik dari segi ekonomi, sosial dan teknis,” jelasnya.
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS





