Wanita Tidur Lebih Lama, Tapi Lebih Rentan Mengalami Kelelahan
Suara Kalbar – Wanita diketahui memiliki durasi tidur lebih lama dibandingkan pria, tetapi lebih rentan mengalami gangguan tidur dan kelelahan. Hal ini dipengaruhi oleh faktor biologis serta tekanan sosial.
Sejumlah penelitian menunjukkan wanita tidur rata-rata 11 menit lebih lama setiap malam. Namun, durasi tersebut tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas tidur yang dirasakan.
Studi yang dipublikasikan Oxford Academic pada Mei 2025 mengungkapkan, wanita mengalami tingkat kantuk, kelelahan, stres, dan kecemasan lebih tinggi dibanding pria, meski durasi dan kualitas tidur terlihat serupa.
Salah satu penyebabnya adalah perbedaan ritme sirkadian, yaitu siklus alami tubuh selama 24 jam. Pada wanita, ritme ini cenderung lebih pendek akibat pengaruh hormon dan suhu tubuh.
Akibatnya, wanita cenderung tidur dan bangun lebih awal. Ketika tuntutan pekerjaan atau keluarga memaksa mereka mengubah pola tersebut, muncul kondisi yang disebut jet lag sosial yang memicu kelelahan kronis.
Risiko Insomnia Lebih Tinggi
Wanita juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan tidur. Data menunjukkan mereka 40–60% lebih rentan mengalami insomnia dibanding pria.
Sekitar 17% wanita mengalami kesulitan tidur, dibandingkan 12% pada pria. Selain itu, hampir 21% wanita kesulitan mempertahankan tidur yang konsisten.
Faktor penyebabnya meliputi tekanan pengasuhan, stres, kecemasan, hingga gangguan seperti sindrom kaki gelisah.
Perubahan hormonal juga berperan besar, terutama saat kehamilan, pascapersalinan, hingga masa perimenopause dan menopause yang dapat memicu keringat malam dan gangguan tidur.
Ahli dari Universitas Stanford, Natalie Solomon, menyebut wanita lebih terdampak oleh kurang tidur dibanding pria.
Penelitian menunjukkan wanita membutuhkan kualitas tidur nyenyak yang lebih tinggi untuk memulihkan kondisi tubuh. Jika hal ini tidak terpenuhi, risiko kelelahan akan meningkat.
Cara Meningkatkan Kualitas Tidur
Para ahli menyarankan untuk memperhatikan kondisi tubuh di siang hari sebagai indikator kualitas tidur. Jika masih terasa lelah, beberapa langkah berikut bisa dilakukan:
- Menyesuaikan waktu tidur secara bertahap, sekitar 15 menit lebih awal setiap malam.
- Mengurangi konsumsi kafein dan alkohol.
- Menciptakan rutinitas relaksasi sebelum tidur, seperti membaca atau mandi air hangat.
- Menjaga kondisi kamar tetap sejuk, gelap, dan tenang.
Jika gangguan tidur berlangsung dalam jangka panjang, disarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga medis.
“Gangguan tidur kronis adalah kondisi yang dapat diobati, bukan sesuatu yang harus ditanggung,” ujar pakar Wendy Troxel.
Sumber: Beritasatu.com






