Studi Global: Risiko Kanker Akibat Obesitas Selama Ini Diremehkan
Suara Kalbar- Sebuah riset berskala besar yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Oncology memberikan peringatan keras bagi kesehatan global. Penelitian yang melibatkan data dari Inggris, Jerman, dan Swedia ini menunjukkan bahwa dampak obesitas terhadap risiko kanker selama ini telah sangat diremehkan oleh para ahli kesehatan dan publik.
Disebutkan Dailymail, Sabtu (4/4/2026), di Inggris, obesitas kini menempati posisi kedua sebagai penyebab kanker yang paling dapat dicegah, tepat di belakang kebiasaan merokok. Data menunjukkan bahwa lebih dari 18.000 kasus kanker per tahun di negara tersebut berkaitan langsung dengan kelebihan berat badan.
“Mengingat 28% orang dewasa di Inggris masuk kategori obesitas, angka ini menjadi ancaman serius bagi sistem kesehatan nasional,” tulis Dailymail.
Para peneliti menganalisis data dari UK Biobank yang melibatkan lebih dari 458.000 sukarelawan. Awalnya, obesitas hanya dikaitkan dengan 7,2% kasus kanker gastrointestinal (pencernaan) dalam empat tahun pertama setelah pengukuran berat badan. Namun, ketika peneliti melihat rentang waktu yang lebih panjang (lebih dari empat tahun), angka keterkaitan tersebut melonjak drastis menjadi 17,7%.
Lonjakan angka ini terjadi karena adanya fenomena penurunan berat badan yang tidak disengaja pada pasien yang kankernya belum terdeteksi. Hal ini sering kali membuat data medis menunjukkan pasien memiliki berat badan “normal” saat didiagnosis, padahal mereka telah menderita obesitas selama bertahun-tahun sebelumnya yang justru menjadi pemicu kanker tersebut.
Di Jerman, studi terhadap 10.000 orang menemukan fakta bahwa durasi seseorang mengalami kelebihan berat badan jauh lebih menentukan risiko kanker usus daripada angka BMI sesaat. Orang yang mengalami obesitas dalam jangka waktu lama memiliki risiko 55% lebih tinggi terkena kanker dibandingkan mereka yang hanya memiliki BMI tinggi dalam waktu singkat.
Temuan menarik lainnya datang dari Swedia, di mana para ahli menemukan bahwa lingkar pinggang adalah prediktor risiko yang lebih akurat daripada berat badan total, terutama pada pria. Pria dengan ukuran pinggang yang besar memiliki risiko kanker terkait obesitas 25% lebih tinggi, sementara jika hanya diukur lewat BMI, kenaikannya hanya tercatat sebesar 19%. Ini membuktikan bahwa lemak perut (lemak viseral) memiliki sifat yang lebih beracun secara biologis.
Berdasarkan temuan ini, tim peneliti mengusulkan kerangka kerja baru yang disebut “PLUS”. Kerangka kerja ini mengajak penyedia layanan kesehatan untuk tidak hanya melihat BMI saat ini, tetapi juga mempertimbangkan riwayat berat badan seumur hidup, ukuran pinggang, serta fakta bahwa risiko kanker sebenarnya sudah mulai meningkat bahkan sebelum seseorang mencapai ambang batas “overweight” (BMI 25).
Para penulis studi menegaskan bahwa pengendalian obesitas selama ini adalah strategi pencegahan kanker yang paling “kurang dimanfaatkan” (underexploited). Mereka menyerukan agar sistem kesehatan publik di seluruh dunia segera mengintegrasikan program penurunan berat badan secara sistematis sebagai langkah medis utama dalam menekan angka kasus kanker di masa depan.
Meskipun studi ini bersifat observasional dan tidak dapat membuktikan hubungan sebab-akibat secara absolut, datanya memberikan pesan yang sangat jelas. Menurunkan berat badan dan menjaga lingkar pinggang yang sehat bukan lagi sekadar urusan estetika, melainkan proteksi paling kuat yang bisa dimiliki seseorang untuk menghindari salah satu penyakit paling mematikan di dunia.
Sumber: Beritasatu.com






