SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Lifestyle Diabetes Tipe 2 Bisa Remisi, Ini Kuncinya

Diabetes Tipe 2 Bisa Remisi, Ini Kuncinya

Ilustrasi pemeriksaan diabetes melitus (Freepik/xb100)

Suara Kalbar – Dunia medis kini beralih fokus dari sekadar pengendalian gejala menuju pemulihan kesehatan menyeluruh bagi penderita diabetes tipe 2. Para ahli dari The American College of Lifestyle Medicine (ACLM) menyatakan bahwa dengan menerapkan enam pilar kedokteran gaya hidup secara disiplin, pasien memiliki peluang besar untuk mencapai remisi atau kondisi di mana kadar gula darah kembali normal tanpa bantuan obat-obatan.

Enam pilar utama yang menjadi kunci kesuksesan ini meliputi konsumsi makanan berbasis nabati, aktivitas fisik secara teratur, manajemen stres, kualitas tidur yang terjaga, hubungan sosial yang sehat, serta menghindari zat berbahaya seperti alkohol dan tembakau. Pendekatan ini menargetkan akar penyebab penyakit kronis, bukan sekadar meredam efek samping yang muncul pada tubuh pasien.

Dr Padmaja Patel, Presiden ACLM, menekankan pentingnya perubahan pola pikir dalam menangani diabetes. “Terlalu sering, penyakit kronis seperti diabetes tipe 2 dikelola sebagai kondisi yang harus dijalani pasien tanpa batas waktu. Kami percaya remisi untuk diabetes tipe 2 dan banyak kondisi kronis lainnya harus menjadi ‘Bintang Utara’ atau hasil utama yang memandu perawatan,” tegas Dr Patel dikutip Dailymail, Kamis (2/4/2026).

Penelitian terbaru dari Universitas Sains dan Teknologi Norwegia terhadap 86.000 peserta mengonfirmasi bahwa perubahan gaya hidup modern menjadi pemicu utama melonjaknya kasus diabetes. Lingkungan kerja yang penuh tekanan, kurangnya aktivitas fisik, serta maraknya konsumsi makanan ultra-proses (UPF) membuat tubuh semakin sulit mengatur kadar hormon insulin yang berfungsi mengontrol gula darah.

Salah satu temuan yang mengejutkan adalah peran krusial waktu istirahat. Sebuah studi pada tahun 2024 mengungkapkan bahwa tidur kurang dari enam jam setiap malam dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2 sebesar 16%. Temuan ini menunjukkan bahwa diet sehat sekalipun tidak mampu mengompensasi kerusakan sistem metabolisme yang disebabkan oleh kekurangan tidur kronis.

Selain pola tidur, penggunaan pemanis buatan seperti aspartam juga mulai diwaspadai oleh para ilmuwan. Zat kimia yang sering ditemukan dalam minuman diet ini diketahui dapat mengubah komposisi bakteri di usus secara signifikan.

“Hal ini mengubah cara tubuh menyerap dan mengatur gula darah, yang seiring waktu meningkatkan risiko terkena penyakit tersebut,” lapor para peneliti dalam jurnal The Lancet.

Sebagai solusi nyata, program “diet sup dan shake” yang diluncurkan oleh layanan kesehatan Inggris (NHS) telah menunjukkan hasil yang menjanjikan. Dengan membatasi asupan hingga 800 kalori per hari dan memberikan pendampingan intensif, pasien mampu menurunkan berat badan antara 10 hingga 15 kilogram. Penurunan berat badan drastis ini dinilai cukup bagi sebagian besar orang untuk membalikkan kondisi diabetes mereka.

Kesimpulannya, diabetes tipe 2 tidak lagi menjadi “hukuman seumur hidup” jika pasien bersedia melakukan perombakan total pada gaya hidupnya. Dengan dukungan medis yang tepat dan fokus pada pemulihan kesehatan, masa depan sistem kesehatan global diharapkan menjadi lebih berkelanjutan. “Proyek ini mencerminkan visi bersama untuk bergerak melampaui kontrol gejala menuju pemulihan kesehatan dan kualitas hidup yang lebih panjang,” tutup Dr. Patel dengan optimis.

Sumber: Beritasatu.com

Komentar
Bagikan:

Iklan

Play