Ramadan Ramai, UMKM Untung… Tapi Sampai Kapan? Bazar Takjil dan Realitas Ekonomi Musiman
Oleh: Alya Salsabila
Setiap memasuki bulan Ramadan, suasana di berbagai daerah selalu berubah. Salah satu yang paling terasa adalah ramainya bazar takjil menjelang waktu berbuka puasa. Hal yang sama juga terlihat di halaman Masjid Raya Mujahidin Pontianak. Setiap sore, masyarakat berbondong-bondong datang untuk membeli makanan berbuka, mulai dari gorengan, kolak, es buah, sampai makanan berat. Para pelaku UMKM memanfaatkan momen ini untuk berjualan, dan hasilnya memang terlihat nyata. Banyak pedagang mengaku dagangannya laris, bahkan bisa terjual ratusan hingga ribuan porsi dalam satu hari. Kondisi ini membuat Ramadan sering dianggap sebagai bulan penuh berkah, bukan hanya secara spiritual, tetapi juga secara ekonomi.
Fenomena meningkatnya penjualan selama Ramadan sebenarnya bisa dijelaskan secara sederhana melalui teori ekonomi mikro. Ketika permintaan meningkat, maka aktivitas produksi dan penjualan juga ikut meningkat. Selama bulan puasa, kebutuhan masyarakat terhadap makanan siap saji lebih tinggi karena banyak orang memilih membeli daripada memasak sendiri. Situasi ini membuka peluang besar bagi pelaku UMKM, terutama di bidang kuliner. Penelitian menunjukkan bahwa kegiatan bazar Ramadan memang mampu meningkatkan omzet pedagang dan memperluas pasar dalam waktu singkat (Sucahyo, 2023). Artinya, bazar bukan hanya tradisi tahunan, tetapi juga menjadi ruang ekonomi yang nyata bagi masyarakat kecil.
Namun kalau dilihat lebih dalam, muncul pertanyaan penting. Apakah keuntungan yang didapat selama Ramadan benar-benar bisa membuat kondisi ekonomi pelaku UMKM menjadi lebih baik dalam jangka panjang? Kenyataannya, banyak pedagang hanya merasakan peningkatan pendapatan pada momen tertentu saja. Setelah Ramadan selesai, penjualan kembali normal, bahkan kadang lebih sepi dari sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian UMKM masih hidup dalam pola ekonomi musiman, yaitu usaha yang hanya ramai pada waktu tertentu dan melemah di waktu lain. Dalam konsep ekonomi kerakyatan, kondisi seperti ini menandakan bahwa pemberdayaan usaha kecil belum berjalan secara maksimal (Setyohadi, 2025).
Masalahnya bukan pada bazarnya, tetapi pada sistem yang belum mendukung UMKM secara berkelanjutan. Banyak pedagang masih menjalankan usaha dengan cara sederhana, tanpa pelatihan, tanpa strategi pemasaran yang jelas, dan tanpa akses modal yang cukup. Akibatnya, keuntungan yang didapat selama Ramadan sering hanya dipakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, bukan untuk mengembangkan usaha. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa bazar memang bisa meningkatkan pendapatan, tetapi dampaknya sering hanya sementara jika tidak diikuti dengan pembinaan yang berkelanjutan (Mawaddah, 2023). Di sinilah letak persoalan sebenarnya. Kita sering merayakan ramainya bazar, tetapi jarang membahas bagaimana nasib pedagang setelah bazar selesai.
Kalau ingin bazar Ramadan benar-benar menjadi jalan menuju kesejahteraan, maka pendekatannya harus diubah. Bazar tidak cukup hanya dijadikan acara tahunan, tetapi harus menjadi bagian dari program pemberdayaan UMKM yang serius. Pemerintah daerah, kampus, dan masyarakat bisa bekerja sama memberikan pelatihan usaha, bantuan modal, serta pendampingan pemasaran, termasuk pemasaran digital yang sekarang semakin penting. Selain itu, kegiatan bazar juga bisa dibuat lebih rutin, tidak hanya saat Ramadan, supaya pedagang punya kesempatan berjualan yang lebih stabil. Dengan cara ini, UMKM tidak hanya ramai satu bulan, tetapi bisa berkembang sepanjang tahun.
Pada akhirnya, Ramadan memang selalu membawa suasana yang berbeda. Ramainya bazar takjil membuat banyak pedagang tersenyum karena dagangannya laku keras. Tetapi kalau hanya ramai satu bulan lalu sepi sebelas bulan berikutnya, maka kita perlu bertanya lagi, apakah ini benar-benar kesejahteraan atau hanya kebahagiaan sementara? Momentum Ramadan seharusnya tidak hanya dirayakan sebagai tradisi, tetapi dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk memperkuat ekonomi rakyat. Jika UMKM bisa tumbuh tidak hanya saat Ramadan, barulah kita bisa mengatakan bahwa berkah itu benar-benar nyata, bukan sekadar musiman.
Setiap memasuki bulan Ramadan, suasana di berbagai daerah selalu berubah. Salah satu yang paling terasa adalah ramainya bazar takjil menjelang waktu berbuka puasa. Hal yang sama juga terlihat di halaman Masjid Raya Mujahidin Pontianak. Setiap sore, masyarakat berbondong-bondong datang untuk membeli makanan berbuka, mulai dari gorengan, kolak, es buah, sampai makanan berat. Para pelaku UMKM memanfaatkan momen ini untuk berjualan, dan hasilnya memang terlihat nyata. Banyak pedagang mengaku dagangannya laris, bahkan bisa terjual ratusan hingga ribuan porsi dalam satu hari. Kondisi ini membuat Ramadan sering dianggap sebagai bulan penuh berkah, bukan hanya secara spiritual, tetapi juga secara ekonomi.
Fenomena meningkatnya penjualan selama Ramadan sebenarnya bisa dijelaskan secara sederhana melalui teori ekonomi mikro. Ketika permintaan meningkat, maka aktivitas produksi dan penjualan juga ikut meningkat. Selama bulan puasa, kebutuhan masyarakat terhadap makanan siap saji lebih tinggi karena banyak orang memilih membeli daripada memasak sendiri. Situasi ini membuka peluang besar bagi pelaku UMKM, terutama di bidang kuliner. Penelitian menunjukkan bahwa kegiatan bazar Ramadan memang mampu meningkatkan omzet pedagang dan memperluas pasar dalam waktu singkat (Sucahyo, 2023). Artinya, bazar bukan hanya tradisi tahunan, tetapi juga menjadi ruang ekonomi yang nyata bagi masyarakat kecil.
Namun kalau dilihat lebih dalam, muncul pertanyaan penting. Apakah keuntungan yang didapat selama Ramadan benar-benar bisa membuat kondisi ekonomi pelaku UMKM menjadi lebih baik dalam jangka panjang? Kenyataannya, banyak pedagang hanya merasakan peningkatan pendapatan pada momen tertentu saja. Setelah Ramadan selesai, penjualan kembali normal, bahkan kadang lebih sepi dari sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian UMKM masih hidup dalam pola ekonomi musiman, yaitu usaha yang hanya ramai pada waktu tertentu dan melemah di waktu lain. Dalam konsep ekonomi kerakyatan, kondisi seperti ini menandakan bahwa pemberdayaan usaha kecil belum berjalan secara maksimal (Setyohadi, 2025).
Masalahnya bukan pada bazarnya, tetapi pada sistem yang belum mendukung UMKM secara berkelanjutan. Banyak pedagang masih menjalankan usaha dengan cara sederhana, tanpa pelatihan, tanpa strategi pemasaran yang jelas, dan tanpa akses modal yang cukup. Akibatnya, keuntungan yang didapat selama Ramadan sering hanya dipakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, bukan untuk mengembangkan usaha. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa bazar memang bisa meningkatkan pendapatan, tetapi dampaknya sering hanya sementara jika tidak diikuti dengan pembinaan yang berkelanjutan (Mawaddah, 2023). Di sinilah letak persoalan sebenarnya. Kita sering merayakan ramainya bazar, tetapi jarang membahas bagaimana nasib pedagang setelah bazar selesai.
Kalau ingin bazar Ramadan benar-benar menjadi jalan menuju kesejahteraan, maka pendekatannya harus diubah. Bazar tidak cukup hanya dijadikan acara tahunan, tetapi harus menjadi bagian dari program pemberdayaan UMKM yang serius. Pemerintah daerah, kampus, dan masyarakat bisa bekerja sama memberikan pelatihan usaha, bantuan modal, serta pendampingan pemasaran, termasuk pemasaran digital yang sekarang semakin penting. Selain itu, kegiatan bazar juga bisa dibuat lebih rutin, tidak hanya saat Ramadan, supaya pedagang punya kesempatan berjualan yang lebih stabil. Dengan cara ini, UMKM tidak hanya ramai satu bulan, tetapi bisa berkembang sepanjang tahun.
Pada akhirnya, Ramadan memang selalu membawa suasana yang berbeda. Ramainya bazar takjil membuat banyak pedagang tersenyum karena dagangannya laku keras. Tetapi kalau hanya ramai satu bulan lalu sepi sebelas bulan berikutnya, maka kita perlu bertanya lagi, apakah ini benar-benar kesejahteraan atau hanya kebahagiaan sementara? Momentum Ramadan seharusnya tidak hanya dirayakan sebagai tradisi, tetapi dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk memperkuat ekonomi rakyat. Jika UMKM bisa tumbuh tidak hanya saat Ramadan, barulah kita bisa mengatakan bahwa berkah itu benar-benar nyata, bukan sekadar musiman.
*Penulis adalah mahasiswi Universitas Tanjungpura Prodi Pembangunan Sosial
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






