SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Lifestyle Pekerja Indonesia Paling Bahagia di Asia, Survei Seek Ungkap Gaji Bukan Segalanya

Pekerja Indonesia Paling Bahagia di Asia, Survei Seek Ungkap Gaji Bukan Segalanya

Survei menyebut para pekerja di Indonesia paling bahagia di kawasan Asia Pasifik. (Freepik.com/@tirachardz)

Suara Kalbar – Para pekerja di Indonesia dikatakan sebagai pekerja yang paling bahagia jika dibandingkan dengan para pekerja di negara-negara Asia lainnya seperti Singapura dan Hong Kong yang notabene memiliki upah minimum jauh lebih tinggi daripada di Indonesia.

Mengutip Mothershipsg, Senin (2/3/2026), data tersebut diperoleh menurut survei terbaru yang dilakukan oleh perusahaan perekrutan karyawan Seek. Perusahaan ini mengoperasikan berbagai laman lowongan pekerjaan, termasuk Jobstreet di Singapura dan JobsDB di Hong Kong.

Dari survei yang dilakukan antara Oktober dan November 2025, disebutkan karyawan di Hong Kong dan Singapura adalah pekerja yang paling tidak bahagia di kawasan Asia-Pasifik. Survei berlangsung pada periode Oktober hingga November 2025 dengan melibatkan ribuan responden dari delapan pasar tenaga kerja di kawasan Asia-Pasifik.

Respons yang dikumpulkan Seek dari para karyawan yang tinggal di Singapura melibatkan sekitar 1.000 orang dengan rentang usia 18 hingga 64 tahun dan berada di pasar kerja.

Hasilnya menunjukkan perbedaan mencolok dalam tingkat kebahagiaan pekerja di berbagai negara. Indonesia menempati posisi tertinggi dengan tingkat kebahagiaan pekerja mencapai 82%. Angka tersebut menjadi yang paling tinggi dibandingkan negara lain yang disurvei.

Pekerja di Indonesia paling bahagia menurut survei Seek yang digelar dari Oktober hingga November 2025 - (Seek via Mothershipsg/Seek)
Pekerja di Indonesia paling bahagia menurut survei Seek yang digelar dari Oktober hingga November 2025 – (Seek via Mothershipsg/Seek)

Sementara itu, Filipina menempati posisi kedua dalam daftar negara dengan pekerja paling bahagia, dengan tingkat kebahagiaan mencapai 77%. Sebagai perbandingan, cukup jauh dengan Indonesia, disebutkan hanya 56% pekerja di Singapura yang mengaku merasa agak atau sangat bahagia di tempat kerja.

Kondisi lebih rendah terjadi di Hong Kong, karena hanya 47% responden melaporkan merasa agak atau sangat bahagia di tempat kerja. Sekitar 56% karyawan di Singapura mengatakan hal yang sama. Hasil ini memperlihatkan tingkat besaran pendapatan bukan satu-satunya faktor penentu kebahagiaan pekerja.

Gaji Lebih Besar Jaminan Lebih Bahagia? 

Survei Seek juga mengungkap fakta menarik terkait hubungan antara pendapatan dan kebahagiaan kerja. Meskipun nominal gaji besar sering dianggap sebagai faktor utama kepuasan kerja, hasil survei saat ini menunjukkan pendapatan tinggi tidak selalu menjamin kebahagiaan, setidaknya bagi para pekerja.

Di Singapura, hampir setengah pekerja sebagai responden melaporkan dirinya mengalami kelelahan atau burnout akibat tekanan besar dari pekerjaan. Kondisi tersebut bahkan dialami oleh sebagian responden yang tetap mengaku merasa bahagia dalam pekerjaan mereka.

Beberapa faktor utama yang paling sering disebut sebagai penyebab ketidakbahagiaan di tempat kerja antara lain tingkat stres yang tinggi, terbatasnya peluang pengembangan karier, serta kualitas kepemimpinan senior hingga atasan di perusahaan.

Ketika ditanya apa yang akan membuat diri mereka sebagai pekerja dapt lebih bahagia di tempat kerja, mayoritas memang tetap menyebutkan kenaikan gaji sebagai faktor penting. Sebanyak 64% pekerja di Singapura memasukkan gaji yang lebih tinggi sebagai salah satu dari lima faktor utama yang dapat meningkatkan rasa bahagianya.

Pola ini juga ditemukan di Hong Kong, sebanyak 69% mengatakan gaji yang lebih tinggi akan membuat mereka lebih bahagia. Namun, peningkatan pendapatan tidak otomatis menghilangkan tekanan kerja maupun tingkat kelelahan yang dialami para pekerja.

Perbedaan Antargenerasi

Melalui survei ini, Seek  juga mengungkap adanya perbedaan level kebahagiaan kerja berdasarkan kelompok generasi. Generasi milenial tercatat sebagai kelompok yang paling tidak bahagia, terutama jika menyangkut tingkat stres pekerjaan.

Sekitar 31% pekerja milenial mengaku mengalami tekanan kerja yang tinggi. Secara keseluruhan, hanya sekitar 52% dari kelompok ini yang menyatakan merasa bahagia di tempat kerja.

Sebaliknya, pekerja dari generasi Z menunjukkan tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi. Sebanyak 62% responden gen Z menyatakan dirinya merasa bahagia dengan pekerjaan mereka.

Sementara, generasi pekerja yang lebih tua yakni generasi baby boomer menduduki peringkat teratas dalam hal kebahagiaan di tempat kerja. Sebanyak 71% dari generasi yang lebih tua menyatakan merasa bahagia di tempat kerja.

Hal ini, disebut kemungkinan karena saat ini generasi baby boomer cenderung menempati posisi kepemimpinan atau jabatan strategis di perusahaan, sehingga dapat mendelegasikan pekerjaan terhadap junior, serta pengalaman dan keahliannya lebih dihargai.  Kondisi tersebut memberikan stabilitas karier sekaligus meningkatkan kepuasan kerja.

Perbedaan Gender dan Tingkat Pendapatan

Selain faktor generasi, survei juga menemukan adanya kesenjangan kebahagiaan antara pekerja pria dan wanita. Sekitar 62% pria melaporkan merasa bahagia di tempat kerja, sementara hanya 51% pekerja wanita yang menyatakan dirinya bahagia.

Laporan tersebut mengaitkan perbedaan ini dengan kesenjangan pendapatan. Disebutkan, pekerja pria cenderung memiliki penghasilan lebih tinggi dibandingkan wanita, yang turut memengaruhi tingkat kepuasan kerja masing-masing individu.

Jika dilihat berdasarkan tingkat pendapatan, pekerja dengan penghasilan lebih dari S$ 10.000 atau sekitar Rp 133 juta per bulan tercatat sebagai kelompok paling bahagia. Sebaliknya, pekerja dengan pendapatan di bawah S$ 3.999 atau sekitar Rp 53 juta per bulan menjadi kelompok dengan tingkat kebahagiaan paling rendah.

Namun menariknya, pendapatan tinggi juga berkaitan dengan tingkat kelelahan kerja yang lebih besar. Sekitar 51% pekerja di kelompok pendapatan tertinggi mengaku mengalami burnout atau stres karena beban pekerjaan. Angka ini bahkan meningkat menjadi 54% pada kelompok dengan penghasilan S$ 6.000 atau sekitar Rp 79,6 juta hingga S$ 9.999 atau sekitar Rp 132,7 juta per per bulan.

Temuan tersebut menunjukkan tanggung jawab pekerjaan yang lebih besar sering kali berbanding lurus tekanan kerja yang lebih tinggi, sehingga memengaruhi keseimbangan hidup para pekerja.

Sumber: Beritasatu.com

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan