Studi ASCO 2025: AI Tingkatkan Akurasi Deteksi HER2 pada Kanker Payudara
Suara Kalbar – Pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dinilai dapat membantu dokter menilai jenis kanker payudara secara lebih akurat.
Bahkan, AI dapat mengidentifikasi status human epidermal growth factor receptor 2 (HER2), yakni protein yang dapat memicu pertumbuhan sel kanker lebih agresif.
Dokter Spesialis Patologi Anatomi, Patricia Diana Prasetyo, mengatakan studi yang dipresentasikan dalam ASCO Annual Meeting 2025 menunjukkan penggunaan AI sebagai pendamping penilaian HER2 mampu meningkatkan deteksi HER2-ultra low hingga 40%.
“Akurasi penilaian juga meningkat hingga sekitar 92% dibandingkan metode konvensional,” ujar Patricia, Rabu (25/2/2026).
Ia menjelaskan pemeriksaan HER2 dilakukan melalui analisis jaringan tumor di laboratorium untuk menentukan apakah pasien dapat menerima terapi target tertentu.
Dokter lulusan Universitas Diponegoro itu menambahkan penggunaan AI juga meningkatkan konsistensi hasil antar dokter, dari 66% menjadi 82%. Peningkatan tersebut terutama terjadi pada kategori HER2-low dan HER2-ultra low, yaitu kadar HER2 yang sangat rendah dan kerap sulit dikenali melalui pemeriksaan manual.
Menurut Patricia, semakin tepat dokter menilai kadar HER2, semakin tepat pula terapi yang dapat diberikan kepada pasien. Pasien dengan HER2 positif atau kadar tertentu dapat memperoleh terapi target anti-HER2 yang bekerja langsung pada protein tersebut untuk menghambat pertumbuhan kanker.
Berdasarkan data Globocan 2020, kanker payudara mencatat sekitar 65.000 kasus baru dan lebih dari 22.000 kematian di Indonesia. Sebagian kasus berkaitan dengan ekspresi HER2 yang membuat kanker berkembang lebih cepat dibandingkan jenis lainnya.
Pendapat serupa disampaikan dokter spesialis penyakit dalam subspesialis hematologi onkologi medik dr Jeffry Beta Tenggara. Ia menilai penggunaan AI dapat mempercepat proses analisis jaringan sekaligus membantu dokter menentukan terapi secara lebih tepat waktu.
Meski demikian, ia menegaskan teknologi tersebut berfungsi sebagai pendamping dokter, bukan pengganti. Keputusan akhir tetap berada di tangan tenaga medis yang mempertimbangkan kondisi pasien secara menyeluruh.
Sumber: Beritasatu.com
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






