SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Daerah Sambas Strategi Tiga Kali Tanam, Sambas Perkuat Posisi Sentra Beras di Kalbar

Strategi Tiga Kali Tanam, Sambas Perkuat Posisi Sentra Beras di Kalbar

Pemkab Sambas menargetkan peningkatan Indeks Pertanaman (IP) hingga tiga kali tanam pada 2026 guna mendongkrak produksi beras. SUARAKALBAR.CO.ID/Serawati

Sambas (Suara Kalbar) – Upaya mendongkrak produksi beras terus digencarkan Pemerintah Kabupaten Sambas.

Pada 2026 Sambas menargetkan peningkatan Indeks Pertanaman (IP) hingga tiga kali tanam dalam setahun sebagai langkah strategis memperkuat posisi Sambas sebagai salah satu lumbung pangan di Kalimantan Barat sekaligus mendukung swasembada pangan nasional, Rabu (25/2/2026).

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Sambas, Apriadi, menyampaikan bahwa realisasi IP sepanjang 2025 baru mencapai 1,91. Pada 2026, pemerintah daerah menargetkan peningkatan menjadi 2,5 bahkan maksimal tiga kali musim tanam.

“Kami menggenjot percepatan masa tanam di tingkat petani. Jika indeks pertanaman meningkat, maka hasil produksi padi tentu akan bertambah,” jelasnya.

Ia menegaskan, kebijakan peningkatan indeks tanam tersebut merupakan bagian dari strategi besar pemerintah daerah untuk memperkuat peran Kabupaten Sambas sebagai daerah penghasil beras utama di Kalimantan Barat.

Selain itu, Ia mengatakan bahwa langkah ini juga diarahkan untuk mendukung target swasembada pangan secara nasional.

Ia mengungkapkan, memasuki awal 2026 para petani sempat menghadapi tekanan akibat merosotnya harga gabah di pasaran. Nilainya bahkan turun di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP).

Ia menyebut situasi tersebut dipicu belum turunnya penugasan resmi dari Badan Pangan Nasional kepada Perum Bulog untuk melakukan penyerapan gabah sesuai harga yang telah ditetapkan.

“Pada awal Januari harga memang sempat berada di bawah standar pemerintah karena Bulog belum menerima penugasan,” terang Apriadi.

Ia menjelaskan, kondisi pasar mulai membaik pada pertengahan Januari setelah Perum Bulog turun tangan menyerap gabah petani dengan harga Rp6.500 per kilogram. Langkah tersebut dinilai efektif menahan penurunan harga agar tidak semakin merugikan petani.

Selanjutnya, pemerintah daerah berkomitmen mempererat sinergi antara penyuluh pertanian di lapangan dengan Bulog. Upaya ini bertujuan memastikan setiap hasil panen dapat terserap optimal sesuai harga yang telah ditetapkan pemerintah.

Ia menambahkan proses pembelian pun dilakukan langsung hingga ke kediaman petani. Bahkan ketika panen dilakukan menggunakan alat mesin, Bulog tetap berkewajiban membeli gabah tanpa syarat tambahan.

“Sepanjang 2025, total produksi padi di Kabupaten Sambas mencapai kurang lebih 62 ribu ton. Dengan adanya peningkatan indeks pertanaman yang kami targetkan, kami optimistis produksi akan naik secara signifikan dan semakin mengukuhkan Sambas sebagai salah satu sentra beras utama di Kalimantan Barat,” ujarnya.

Penulis: Serawati Yayuk

Komentar
Bagikan:

Iklan