Prof. Masykuri Bakri Ingatkan Jamaah Masjid Mujahidin Pentingnya Manajemen Qalbu
Pontianak (Suara Kalbar) – Menjalani ibadah puasa hari ke-5 di bulan Ramadhan 1447 Hijriah, ribuan jamaah memadati Masjid Raya Mujahidin Pontianak untuk mengikuti Kuliah Ba’da Shubuh pada Senin (23/2/2026) pagi.
Tampil sebagai penceramah adalah Guru Besar Pascasarjana Universitas Islam Malang, Prof. Dr. H. Masykuri Bakri, M.Si, yang membedah tuntas tema “Bersihnya Hati sebagai Modal Meningkatkan Produktifitas Hidup Dunia dan Akhirat”.
Dalam kajian berdurasi sekitar 34 menit tersebut, Prof. Masykuri menekankan bahwa manusia diciptakan Allah dengan bekal akal, nafsu, dan naluri, yang membedakannya dengan malaikat. Ia mengingatkan bahwa tanpa landasan agama dan iman yang kuat, orientasi hidup manusia akan terjebak murni pada materi, yang pada akhirnya memicu sifat angkuh, permusuhan, dan takabur.
“Iman ini sesungguhnya separuhnya adalah syukur dan separuhnya adalah sabar,” jelas mantan Rektor UNISMA tersebut di hadapan para jamaah.
Beliau memberikan analogi yang menyentuh terkait rasa syukur. Menurutnya, Allah memberikan nikmat hidup berupa oksigen gratis yang kita hirup sekitar 60.000 liter dalam sehari semalam. Namun, kemewahan nikmat yang jika diuangkan bisa bernilai triliunan rupiah ini sering kali luput dari rasa syukur umat manusia.
Kemerdekaan Batin dan Penyakit Hati
Lebih lanjut, Prof. Masykuri menyinggung konsep kemerdekaan sejati. Menurutnya, kemerdekaan bukan sekadar bebas secara fisik, melainkan terbebasnya hati dari belenggu penyakit batin.
Hati yang kotor oleh sifat dengki, hasut, takabur, dan su’udzon (berburuk sangka) akan berkarat, persis seperti besi yang dibiarkan terkena air. Karat di dalam hati inilah yang pada akhirnya menghambat produktivitas seseorang, baik dalam urusan dunia maupun akhirat.
Untuk menjaga kejernihan hati agar tetap produktif, Prof. Masykuri membagikan tiga instrumen penting yang harus diamalkan umat Islam:
Menjaga Ibadah Mahdhah: Kualitas keimanan harus terus dipupuk dengan menjaga salat, puasa, zakat, dan ibadah lainnya secara disiplin.
Mengingat Kematian (Dzikrul Maut): Mengingat kematian bukan berarti bersikap pasif menunggu ajal, melainkan harus dimaknai sebagai pendorong untuk bekerja keras dan hidup produktif semata-mata mencari rida Allah.
Membaca dan Membumikan Al-Qur’an: Menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman harian, tidak hanya dibaca, tetapi dipahami dan diamalkan sebagai solusi atas berbagai dinamika kehidupan dan penawar bagi hati yang gelap.
Menutup tausiyahnya, Prof. Masykuri mengingatkan bahwa di era industrialisasi dan digitalisasi saat ini, generasi muda sangat rentan kehilangan arah jika hatinya kosong dari nilai-nilai spiritual. Acara Kuliah Ba’da Shubuh yang berlangsung khidmat ini kemudian ditutup dengan doa bersama dan penyerahan cendera mata oleh Prof Maskuri kepada Bapak Drs. H. Joni Hasan M.Pd selaku perwakilan Takmir Masjid Raya Mujahidin.
Penulis: Tim Liputan
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






