Menanamkan Empati di Era Individualisme Digital
Oleh: Bayu, M.Pd
Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara manusia berinteraksi. Media sosial, gawai pintar, dan kecerdasan buatan menghadirkan kemudahan komunikasi tanpa batas ruang dan waktu. Namun, di balik kemajuan itu, muncul paradoks sosial: manusia semakin terkoneksi secara virtual, tetapi kian berjarak secara emosional. Di sinilah pendidikan menghadapi tantangan besar bagaimana menanamkan empati di tengah arus individualisme digital.
Era digital membentuk generasi yang sangat akrab dengan layar. Anak-anak dan remaja lebih sering berinteraksi melalui pesan singkat, komentar, atau unggahan dibandingkan percakapan tatap muka. Algoritma media sosial mendorong personalisasi konten, memperkuat “ruang gema” (echo chamber) yang membuat seseorang hanya melihat sudut pandang yang sejalan dengan dirinya. Tanpa disadari, ruang digital dapat mengikis kepekaan sosial karena interaksi berlangsung tanpa kontak emosional yang nyata.
Empati kemampuan memahami dan merasakan apa yang dialami orang lain tidak tumbuh secara instan. Ia dibentuk melalui pengalaman, keteladanan, dialog, dan interaksi sosial yang autentik. Ketika anak lebih banyak berinteraksi dengan layar daripada manusia, proses pembentukan empati berisiko terhambat. Fenomena perundungan siber (cyberbullying), ujaran kebencian, hingga rendahnya toleransi di ruang digital menjadi indikator bahwa literasi emosional belum berjalan seiring dengan literasi teknologi.
Sekolah dan keluarga memiliki tanggung jawab strategis dalam merespons situasi ini. Pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada capaian akademik dan penguasaan teknologi. Pendidikan harus kembali menegaskan fungsinya sebagai proses humanisasi memanusiakan manusia. Guru bukan sekadar pengajar materi, tetapi juga fasilitator pembentukan karakter. Keteladanan dalam bersikap, cara berkomunikasi yang santun, dan budaya dialog di kelas menjadi fondasi penting untuk menumbuhkan empati.
Pembelajaran kolaboratif dapat menjadi salah satu strategi konkret. Ketika siswa dilibatkan dalam kerja kelompok, diskusi reflektif, dan proyek sosial, mereka belajar mendengarkan, menghargai perbedaan, serta memahami perspektif orang lain. Program pengabdian masyarakat, kegiatan bakti sosial, atau proyek berbasis masalah (problem based learning) juga mampu menghubungkan siswa dengan realitas sosial di sekitarnya. Dari situ, empati tidak hanya dipahami sebagai konsep, tetapi dialami sebagai pengalaman batin.
Di sisi lain, literasi digital harus diperluas menjadi literasi etis dan emosional. Anak perlu dibekali kesadaran bahwa di balik setiap akun terdapat manusia nyata dengan perasaan. Pendidikan tentang etika bermedia sosial, komunikasi non-kekerasan, dan tanggung jawab digital menjadi kebutuhan mendesak. Teknologi tidak boleh diposisikan sebagai musuh, melainkan sebagai alat yang harus digunakan secara bijak dan beradab.
Keluarga pun memegang peran sentral. Pola asuh yang dialogis, pembatasan waktu penggunaan gawai, serta pembiasaan interaksi langsung di rumah dapat memperkuat kecerdasan emosional anak. Ketika orang tua hadir secara utuh bukan hanya fisik tetapi juga perhatian anak belajar tentang kepedulian dan kasih sayang sebagai nilai yang hidup.
Menanamkan empati di era individualisme digital bukanlah tugas mudah. Ia membutuhkan sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Pendidikan harus berani menyeimbangkan antara kecerdasan intelektual, kecakapan digital, dan kedewasaan emosional. Sebab, kemajuan teknologi tanpa empati hanya akan melahirkan generasi yang cerdas tetapi kering nurani.
Akhirnya, tantangan terbesar pendidikan hari ini bukan sekadar bagaimana membuat siswa mahir menggunakan teknologi, tetapi bagaimana memastikan mereka tetap menjadi manusia yang peka, peduli, dan beradab. Di tengah dunia yang semakin digital, empati justru menjadi kompetensi paling mendasar untuk menjaga kemanusiaan kita.
*Penulis adalah Dosen Universitas Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas (UNISSAS)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






