SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Daerah Pontianak 120-130 Titik Api Terdeteksi, Kubu Raya-Pontianak Paling Terdampak

120-130 Titik Api Terdeteksi, Kubu Raya-Pontianak Paling Terdampak

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Provinsi Kalimantan Barat, Adi Yani usai diwawancarai pada Rabu (28/01/2026). SUARAKALBAR.CO.ID/Meriy

Pontianak (Suara Kalbar) – Memasuki pertengahan Januari 2026, Kalimantan Barat mulai dilanda musim kering lebih awal yang memicu lonjakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Saat ini tercatat sedikitnya 120–130 titik api terdeteksi di sejumlah wilayah, dengan konsentrasi terbanyak berada di Kubu Raya, Mempawah, dan Kota Pontianak.

Hal ini disampaikan Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Provinsi Kalimantan Barat, Adi Yani saat ditemui pada Rabu (28/01/2026).

“Memasuki tahun 2026, di pertengahan Januari sudah mulai musim kemarau, musim-musim kering, dah pertengahan itu sudah mulai banyak terbakar nih, ada sampai 120-an, 130-an titik api, semua, artinya total di semua Kalimantan Barat,” ujarnya.

Ia menyampaikan bahwa lokasi yang banyak mengalami karhutla ada di beberapa kabupaten, diantaranya Kubu Raya, Mempawah hingga Kota Pontianak.

“Nah, kemudian yang paling banyak itu di antaranya kubur raya, mempawah, dan termasuklah kota Pontianak,” tambahnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, Dinas LHK Provinsi Kalimantan Barat melakukan beberapa upaya diantaranya memberikan himbauan kepada KKPH untuk melakukan pemadaman dan sosialisasi.

“Saat ini kami sudah membuat KKPH kami untuk melakukan pemadaman dan sosialisasi,” ujarnya.

Tidak hanya itu Dinas LHK Provinsi Kalbar juga tengah menunggu surat himbauan dari Gubernur kepada semua pelaku usaha terkait pemanfaatan lahan. Selain itu, koordinasi dengan pihak terkait seperti BPBD Kalbar, Manggala Agni, TNI dan Polri.

“Kami mempunyai ya masing-masing 17 KPH di tiga tapak. Kami mempunyai Brigade Pemadam Kebakaran, Nah, kemudian selain itu kami juga selalu koordinasi dengan Manggala Agni dan BPBD, Kami juga koordinasi agar mereka berkoordinasi dengan Badan Pendanggung Bencana di masing-masing kabupaten/Kota,” jelasnya.

terkahir, Dinas LHK Kalbar juga membentuk masyarakat peduli api dan masyarakat desa peduli gambut yang menjadi garda tedepan jika ada karhutla yang terjadi di wilayah mereka.

“Nah, kami koordinasi sehingga nanti kalau di tingkat kabupaten atau kota ada kebakaran, masuarakat peduli api lah yang mungkin menjadi garda terdepan, yang berjik-baku dengan kebakaran di awal terjadinya kebakaran,” pungkasnya.

Penulis: Meriyanti

Komentar
Bagikan:

Iklan