SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Otomotif Peta Otomotif Dunia Bergeser, Indonesia Jadi Pasar Mobil Listrik yang Diperhitungkan

Peta Otomotif Dunia Bergeser, Indonesia Jadi Pasar Mobil Listrik yang Diperhitungkan

Mobil listrik harga Rp 100 jutaan di GJAW 2025. (Google)

Suara Kalbar – Peta persaingan industri otomotif global mengalami pergeseran besar. Jika selama puluhan tahun Amerika Serikat (AS) dan Eropa dikenal sebagai pemimpin tren otomotif dunia, kini tongkat estafet mulai berpindah ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Melansir Arena EV, Minggu (28/12/2025), data terbaru menunjukkan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) bukan lagi sekadar produk premium negara maju. Justru Asia Tenggara dan Amerika Latin muncul sebagai kawasan dengan laju adopsi mobil listrik tercepat di dunia.

Pada 2019, hanya empat negara yang mencatatkan pangsa penjualan mobil listrik di atas 10%. Namun pada 2025, jumlahnya melonjak drastis menjadi 39 negara, dengan sepertiganya berada di luar Eropa.

China masih menjadi raksasa utama. Pada 2025, untuk pertama kalinya lebih dari 50% mobil baru yang terjual di China merupakan kendaraan listrik. Namun, dinamika paling menarik justru datang dari negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Vietnam mencatat lonjakan signifikan dengan pangsa mobil listrik hampir 40% pada 2025, dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Angka tersebut bahkan melampaui rata-rata Uni Eropa yang berada di kisaran 26%, serta Inggris yang mencapai 33%. Thailand juga mencatat tonggak penting dengan penetrasi mobil listrik menyentuh 20% dari total penjualan mobil baru.

Di tengah tren tersebut, Indonesia tak lagi sekadar penonton. Sepanjang 2025, pangsa penjualan mobil listrik di Tanah Air mencapai sekitar 15%, lebih tinggi dibandingkan AS yang berada di level 7,3%. Capaian ini menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu pasar mobil listrik dengan pertumbuhan tercepat di kawasan.

Pemerintah Indonesia juga aktif mendorong ekosistem kendaraan listrik melalui berbagai insentif fiskal dan nonfiskal. Keringanan pajak diberikan kepada produsen global untuk membangun fasilitas produksi baterai dan kendaraan listrik di dalam negeri. Langkah ini bertujuan memperkuat rantai pasok domestik sekaligus mengurangi ketergantungan impor energi fosil.

Dorongan serupa juga terjadi di negara berkembang lain. Ethiopia, yang telah melarang impor mobil berbahan bakar bensin. Berkat ketersediaan energi air yang melimpah, kendaraan listrik kini menyumbang sekitar 60% penjualan mobil baru di negara tersebut. Nepal bahkan mencatat angka lebih tinggi, mencapai 76%.

Di Amerika Latin, Uruguay telah mencapai pangsa pasar mobil listrik sebesar 27%, sementara Kosta Rika berada di angka 17%. Brasil dan Meksiko kini bahkan mencatat penjualan mobil listrik yang lebih tinggi dibandingkan Jepang.

Di Brasil, penggunaan kendaraan listrik mampu menekan konsumsi bahan bakar fosil hingga 90% karena sumber listriknya relatif bersih.

Tren global ini kontras dengan kondisi di AS, yang justru mulai mengurangi sejumlah insentif pajak untuk kendaraan listrik.

Sementara negara maju cenderung melambat, pasar berkembang justru melaju kencang. Antara Januari hingga Oktober 2025, satu dari setiap empat mobil yang terjual di dunia merupakan kendaraan listrik.

Bagi Indonesia, tren ini bukan sekadar soal teknologi, tetapi juga peluang ekonomi. Transisi menuju kendaraan listrik berpotensi menciptakan lapangan kerja baru, memperkuat industri manufaktur, dan mempercepat transformasi energi nasional. Pengalaman Vietnam menunjukkan industri mobil listrik dapat menyerap jutaan tenaga kerja dalam jangka panjang.

Sumber: Beritasatu.com

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan