Gedung Putih Bahas Perintah Eksekutif Robotik, Industri Bersiap Melaju
Suara Kalbar- Setelah 5 bulan merilis rencana percepatan pengembangan artificial intelligence (AI), Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dikabarkan melirik robotik sebagai agenda strategis
Menurut tiga sumber yang mengetahui pembahasan tersebut, Menteri Perdagangan Howard Lutnick disebut intens berdiskusi dengan para CEO industri robotik dan “sepenuhnya mendukung” percepatan pengembangan sektor tersebut. Dilansir dari Politico, dua sumber lainnya menyebutkan, Gedung Putih tengah mempertimbangkan penerbitan perintah eksekutif khusus robotik pada tahun depan.
Juru bicara Departemen Perdagangan menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen mendorong robotik dan advanced manufacturing karena keduanya dinilai penting untuk membawa kembali kapasitas produksi kritikal ke Amerika Serikat.
Departemen Transportasi juga sedang menyiapkan pembentukan kelompok kerja robotik, yang kemungkinan diumumkan sebelum akhir tahun, menurut satu sumber. Namun, juru bicara departemen belum memberikan komentar.
Minat terhadap robotik turut meningkat di Kongres. Amandemen Partai Republik dalam RUU Otorisasi Pertahanan Nasional sempat mengusulkan pembentukan komisi robotik nasional, meski usulan tersebut tidak masuk dalam draf akhir. Upaya legislasi lain disebut masih berjalan.
Serangkaian langkah ini menandai robotik sebagai arena persaingan baru dalam rivalitas Amerika Serikat dan China. Pemerintahan Trump semakin menonjolkan kebijakan industrial untuk memperkuat posisi AS di sektor-sektor strategis seperti AI.
Namun, investasi besar pada robotik juga berpotensi berseberangan dengan janji Trump untuk menghidupkan kembali tenaga kerja manufaktur AS.
Meski robot humanoid serbaguna terdengar seperti fiksi ilmiah, kemajuan AI memungkinkan kehadiran robot yang mampu melakukan pekerjaan kompleks melalui pemrosesan data yang semakin cepat.
Federasi Robotik Internasional memperkirakan China memiliki 1,8 juta robot industri di pabrik-pabriknya pada 2023, atau empat kali lipat lebih banyak dibandingkan AS. China, Jepang, Australia, Jerman, dan Singapura telah memiliki strategi robotik nasional.
Untuk mengejar ketertinggalan, AS memerlukan investasi besar. Pendanaan robotik diperkirakan mencapai US$ 2,3 miliar pada 2025, dua kali lipat dari tahun lalu, menurut CB Insights. Goldman Sachs memperkirakan pasar global robot humanoid dapat mencapai US$ 38 miliar pada 2035.
Industri robotik terus mendorong pemerintah dan Kongres untuk berperan lebih besar. Para pelaku industri menilai robot merupakan bentuk fisik dari AI; sehingga strategi memperkuat daya saing AI seharusnya disertai rencana besar untuk mengembangkan robotik nasional.
Perusahaan menginginkan insentif pajak, pendanaan federal untuk adopsi otomatisasi canggih, penguatan rantai pasok, serta kebijakan dagang yang menghadapi subsidi dan praktik kekayaan intelektual China. “Penting bagi kita untuk maju, memikirkan strategi robotik nasional, dan mendukung industri yang sedang berkembang ini agar AS tetap kompetitif,” ujar CEO Apptronik, Jeff Cardenas.
Apptronik, perusahaan rintisan di Austin yang didukung Google dan bernilai US$ 5 miliar, telah mengembangkan Apollo, robot serbaguna yang menjadi salah satu humanoid pertama yang beroperasi di pabrik otomotif.
Sumber: Beritasatu.com
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






