SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Opini Bencana dan Pendidikan: Uji Ketangguhan Manajemen Pendidikan di Indonesia

Bencana dan Pendidikan: Uji Ketangguhan Manajemen Pendidikan di Indonesia

Imron Muttaqin

Oleh: Imron Muttaqin

Bencana alam datang tak diundang dan tanpa permisi, sehingga memerlukan langkah-langkah darurat untuk menghadapinya. Hampir keseluruhan aktifitas terhenti dan lumpuh, fokus utama adalah pada keselamatan. Musibah banjir di Sumatera menyisakan duka mendalam, mulai dari kehilangan rumah, harta benda bahkan nyawa. Pemulihan kondisi pasca bencana juga tak kalah menantang, karena mencakup semua aspek kehidupan. Tulisan ini fokus pada upaya pemulihan sektor pendidikan, bagaimana manajemen pendidikan di Indonesia merespon bencana dan apa upaya yang bisa dilakukan.

Data kerusakan sekolah/madrasah menurut Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah per 7 Desember 2025 terdapat 2798 fasilitas sekolah rusak, mulai tingkat ringan, sedang maupun berat. Kerusakan Gedung sekolah di Aceh 251 PAUD, 415 SD, 172 SMP, 132 SMA, 71 SMK, 8 PKBM, dan 11 SLB, totalnya 1060 sekolah. Daerah Sumatera diperoleh data kerusakan 97 PAUD, 259 SD, 152 SMP, 50 SMA, 9 SMK, 2 PKBM dan14 SLB, jumlah 583, paling banyak adalah daerah Sumatera utara, 281 PAUD, 531 SD, 242 SMP, 53 SMA, 38 SMK, 9 PKBM dan 1 SLB dengan jumlah 1155 gedung sekolah.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah telah menyiapkan 21,1 Milyar untuk tanggap darurat guna perbaikan dan pembersihan  gedung sekolah dengan tingkat kerusakannya bervariasi. Tingkat SLTA diberikan bantuan 25 juta per satuan Pendidikan, Tingkat SMP 20 juta, dan untuk SD 15 juta, selain itu juga menjalin kerjasama dengan Lembaga lain untuk  pendampingan psikosial post trauma, memberikan bantuan buku teks dan non-teks 55.000 eksemplar. Logistic paket sembako dan bingkisan untuk anak dan donasi untuk pegawai dan guru yang wafat. Bagi guru yang meninggal akibat bencana diberikan bantun 10 juta, untuk murid yang meninggal diberikan bantuan 5 juta, dan yang masih dirawat diberikan bantuan 2 juta. Selain itu, juga memberikan bantuan berupa 15.000 paket school kit, 10.000 sudah tersedia dan 5.000 dalam proses pengadaan, 2000 pasang Sepatu.

Fokus utama pada saat bencana adalah keselamatan, pada bencana ini pemerintah mulai dari pusat hingga tingkat dusun/desa dibantu relawan mengambil peran penting untuk membantu keselamatan warga terlebih dahulu serta berupaya membantu pencarian serta mengidentifikasi korban. Ini merupakan prioritas utama, setelah itu dilakukan Upaya pemulihan fisik maupun psikologis warga sekolah. Pada beberapa kasus, terutama pada bencana besar seperti banjir bandang atau gempa bumi, gedung sekolah tidak lagi dapat digunakan. Namun pembelajaran tidak boleh berhenti. Guna mengantisipasi hal ini, ruang kelas darurat bisa dibuka di balai desa, masjid, posko pengungsian, atau bahkan di bawah tenda besar. Suasana belajar memang jauh dari ideal, tetapi kehadiran kelas darurat memberikan pesan kuat: pendidikan tetap berjalan, meski dalam kondisi terbatas dan kekurangan.

Selain menyediakan ruang belajar alternatif, sekolah/madrasah juga perlu memperhatikan kondisi psikologis siswa. Banyak anak mengalami kecemasan, ketakutan, bahkan trauma setelah bencana. Guru dituntut mengubah perannya, tidak hanya sebagai pendidik tetapi juga sebagai pendamping emosional. Kegiatan belajar dirancang lebih ringan, lebih banyak aktivitas kreatif, serta menggunakan modul pembelajaran darurat yang disesuaikan dengan kemampuan siswa saat itu.

Manajemen pendidikan dalam situasi bencana juga mencakup pengaturan ulang kurikulum. Ketika waktu belajar berkurang, sekolah harus menyusun strategi agar kompetensi dasar tetap tercapai tanpa membebani siswa. Pembelajaran tatap muka terbatas atau pembelajaran jarak jauh dapat dijadikan alternatif, terutama ketika akses ke sekolah/madrasah terhambat. Kurikulum pendidikan dapat didesain lebih fleksibel dengan perkiraan kurikulum darurat untuk waktu 3 bulak, 1 tahun atau bahkan 3 tahun.

Kesiapsiagaan menjadi aspek yang tidak kalah penting. Banyak sekolah/madrasah kini mulai membangun budaya siaga bencana: membuat peta risiko, memasang papan jalur evakuasi, melakukan simulasi evakuasi secara berkala, hingga membentuk Tim Siaga Bencana Sekolah. Langkah-langkah ini tidak hanya untuk merespons bencana, tetapi juga untuk mengurangi risiko kerugian ketika bencana terjadi.

Antisipasi terhadap bencana perlu dilakukan, kurikulum tanggap bencana perlu dipersiapkan sejak dini dengan perkiraan waktu tertentu. Diperlukan kolaborasi lintas sektor yang menjadi kunci keberhasilan manajemen pendidikan pada saat bencana. Pemerintah, masyarakat, relawan, hingga orang tua siswa memiliki peran yang saling melengkapi. Setiap bencana membawa pelajaran berharga, dimana ketangguhan pendidikan tidak hanya diukur dari megahnya bangunan sekolah, tetapi dari kemampuan seluruh unsur pendidikan untuk beradaptasi dan bangkit. Ketika sekolah/madrasah tetap mampu menjadi ruang aman dan penuh harapan bagi anak-anak, di situlah ketahanan pendidikan benar-benar terlihat.

Di tengah ancaman bencana yang tak dapat diprediksi, manajemen pendidikan yang sigap, terencana, kurikulum yang fleksibel namun tidak mengurangi esensi, serta kolaborasi adalah kebutuhan mendesak yang perlu diantisipasi. Karena bagi ribuan anak Indonesia, sekolah/madrasah bukan sekadar tempat belajar—melainkan tempat berlindung, bertumbuh, dan merajut kembali mimpi masa depan setelah bencana pergi.

*Penulis adalah Dosen IAIN Pontianak

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan