Petani Lada Gagal Panen: Tim Ekspedisi Patriot UI Evaluasi Kawasan Perkebunan Lada di Riam Sejawak
Sintang (Suara Kalbar) – Tim ekspedisi Patriot UI sudah hampir dua bulan berada di kawasan Ketungau Hulu, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat (Kalbar) untuk melakukan kajian riset dan evaluasi kawasan. Pada kunjungannya ke kawasan Perkebunan lada, para petani lada di Ketungau Hulu keluhkan serangan hama dan penyakit yang semakin sporadis yang menyebabkan penurunan drastis produksi lada dan bahkan gagal panen.
Lada dengan nama latin Piper nigrum merupakan komoditas unggulan Indonesia yang sempat menjadi primadona. Namun seiring berjalannya waktu, eksistensi lada mengalami penurunan akibat berbagai faktor diantaranya masalah produksi termasuk penyakit tenaman, perubahan iklim, fluktuasi harga, persaingan dan kualitas pasca panen, serta pemanfaatan lahan yang tidak berkelanjutan.
Wilayah Nusantara Indonesia sudah terkenal lama karena lada. Lada meknadi salah satu komoditas utama yang menarik bangsa asing untuk datang ke Nusantara. Bahkan produk ini menjadi salah satu produk ekspor Indonesia. Selain sebagai bumbu makanan, nyatanya lada banyak digunakan sebagai bahan obat yang memiliki efikasi dan terbukti secara ilmiah.
Riam Sejawak merupakan salah satu desa di Ketungau Hulu yang mempertahankan produksi lada. Sulitnya perawatan tanaman lada, para petani bergulat dengan serangan hama yang semakin sporadis.
Pada kunjungan lapangan langsung ke titik Perkebunan lada, Tim ekspedisi UI melakukan wawancara mendalam dengan salah satu petani lada di Desa Riam Sejawak, Ketungau Hulu. Kornis dhoutman bercerita sekitar tahun 1998, petani sangat berjaya dengan produksi lada yang mampu dijual di Indonesia atau di Malaysia karena produksi dapat mencapai ribuan kilogram. Namun saat ini, petani memiliki masalah yang sama, nyaris gagal panen karena serangan hama.
“Selain serangan hama, kami memiliki masalah dalam memperoleh pupuk untuk tanaman lada, sehingga kondisi lada saat ini semakin buruk,” ujar petani disela sela menunjukkan tanaman lada yang masih sehat dan yang terimbas hama.
Tim yang beranggotakan apt.Tri Wahyuni, M.Biomed., Ph.D selaku ketua dan Zakiya Rozqi Auliya’, S.Si, Maharani Arfila, S.Hum, Murni Kartika Pakhsi Jaladara, dan Bayu Aji yang merupakan alumni UI dan mahasiswa Universitas Tanjung Pura melakukan evaluasi dimensi ekonomi yang salah satunya adalah pendataan komoditas unggulan kawasan, yaitu lada.
“Pemerintah daerah harus menurunkan pakar dari pertanian untuk masalah hama lada, agar daerah ini bisa bangun kembali kejayaan sebagai pengasil lada.” ungkap Tri Wahyuni.
Adanya masalah kegagalan panen yang dialami petani akibat hama dan kesulitan pupuk menjadi masukan penting bagi tim. Evaluasi ini memberikan rekomendasi bahwa dibutuhkan peran dinas pertanian untuk membantu solusi yang dibutuhkan petani. Selain itu peran pemda juga dibutuhkan terkait distribusi pupuk berkualitas yang dibutuhkan oleh para petani.
Kegiatan tim ekspedisi ini diharapkan semakin banyak menggali permasalahan-permasalahan yang ada di kawasan ketungau hulu sehingga menjadi evaluasi yang nantinya dapat menghasilkan rekomendasi yang tepat sasaran untuk masyarakat.
Penulis: Tim Liputan
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS






