Tesla Digugat 1.000 Konsumen Australia karena Masalah Pengereman Mendadak
Jakarta (Suara Kalbar)- Produsen mobil listrik Tesla tengah menghadapi gugatan hukum yang diajukan oleh lebih dari 1.000 konsumen di Australia. Gugatan ini mencakup berbagai keluhan serius, mulai dari pengereman mendadak tanpa alasan hingga dugaan promosi yang dianggap menyesatkan.
Dilansir dari Beritasatu.com, Sabtu (14/6/2025), perkara hukum ini pertama kali diajukan pada Februari 2025 dan kini tengah berproses di Pengadilan Federal Australia.
Firma hukum JDA Saddler yang memimpin gugatan tersebut menyatakan bahwa sejumlah kendaraan Tesla menunjukkan perilaku berkendara yang membahayakan, khususnya terkait fenomena phantom braking—yakni pengereman otomatis yang terjadi secara tiba-tiba tanpa peringatan atau penyebab yang jelas.
Seorang pemilik kendaraan Tesla yang menjadi saksi dalam perkara ini menyampaikan pengalamannya ketika mobilnya secara tiba-tiba melambat saat melaju di jalan tol. Menurutnya, kejadian serupa juga dialami oleh banyak pengguna Tesla lainnya.
Perwakilan JDA Saddler, Rebecca Jancauskas, menjelaskan bahwa pihaknya menerima banyak laporan tentang kejadian pengereman mendadak yang terjadi saat kendaraan melaju dalam kecepatan tinggi, antara 100 hingga 110 km/jam. Ironisnya, kejadian ini tidak hanya terjadi saat autopilot diaktifkan, tetapi juga saat kendaraan dikendalikan secara manual oleh pengemudi.
“Kami telah menerima banyak pengakuan dari pengguna yang tetap waspada selama berkendara, dengan tangan tetap di setir, tetapi tetap mengalami pengereman mendadak yang tidak terduga,” ujar Jancauskas.
Selain isu pengereman, gugatan ini juga menyoroti perbedaan antara jarak tempuh yang diklaim oleh Tesla dalam materi pemasaran dengan performa aktual kendaraan di lapangan.
Para penggugat menuduh Tesla mengetahui ketidaksesuaian tersebut selama bertahun-tahun tetapi tidak melakukan tindakan korektif apa pun.
Tak hanya itu, gugatan juga mempertanyakan klaim Tesla terkait kemampuan sistem autopilot. Disebutkan bahwa perangkat keras yang digunakan tidak mendukung kemampuan mengemudi secara otonom penuh maupun semi-otonom, seperti yang kerap dipromosikan oleh perusahaan.
Meskipun jumlah penggugat telah melebihi 1.000 pemilik yang menandatangani gugatan class action, Departemen Infrastruktur Australia sejauh ini hanya menerima enam laporan resmi terkait fenomena pengereman mendadak.
Kasus ini menjadi sorotan besar bagi Tesla, terutama di pasar otomotif Australia yang kini tengah berkembang dalam adopsi kendaraan listrik. Jika gugatan terbukti, maka hal ini berpotensi memengaruhi reputasi Tesla dan menghambat penetrasi pasar mereka di wilayah tersebut.
Sumber: Beritasatu.com
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS





