SUARAKALBAR.CO.ID
Beranda Nasional Menjelang Pemilu 2024, Sosiolog Bahas Peran Golput dalam Demokrasi

Menjelang Pemilu 2024, Sosiolog Bahas Peran Golput dalam Demokrasi

Seorang pekerja menunjukkan surat suara untuk pemilihan presiden pada 14 Februari nanti saat persiapan pembagian logistik pemilu di Tangerang, 10 Januari 2024.SUARAKALBAR.CO.ID/VOA

Jakarta (Suara Kalbar)- Pemilihan Umum 2024 semakin dekat, namun tantangan untuk meyakinkan para pemilih golongan putih (golput) tetap menjadi fokus.

Profesor sosiologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Prof Sunyoto Usman, mengungkapkan bahwa meyakinkan golput bukanlah hal yang mudah.

Prof Sunyoto menjelaskan bahwa secara teoritis terdapat tiga kategori pemilih. Pertama, pemilih rasional yang memilih berdasarkan program dan pertimbangan politik. Kedua, pemilih primordial yang cenderung mengikuti saran dari figur otoritas seperti pemimpin adat, ulama, atau kiai. Dan ketiga, pemilih yang terpengaruh oleh jaringan dan lingkungan sekitarnya.

“Preferensi pada perilaku memilih, itu kan ada kategori pemilih rasional yang berorientasi pada program, mungkin memperhatikan debat-debat politik baik langsung maupun tidak langsung,” ujar Sunyoto Usman dilansir dari Beritasatu.com, Sabtu (10/2/2024).

Kemudian, dia menyebutkan, ada juga pemilih yang primordial, mereka yang memilih dengan mengikuti saran dari patronnya. Misalnya, pemimpin adat, ulama ataupun kiai.

Kemudian yang terakhir ada pemilih yang diinspirasi jaringan dan networking. Mereka yang dipengaruhi lingkungan, tempat afiliasinya atau pun tempat bergaulnya.

“Secara teoritis, tiga itu berpengaruh signifikan sehingga ketika mereka berada di bilik suara, itu jadi pertimbangannya. Kemudian di banyak negara termasuk Indonesia ada golput, itu di negara-negara maju jumlahnya cukup besar,” terangnya.

Di sisa waktu untuk kampanye yang akan berakhir pada 10 Februari esok, Sunyoto mengatakan, tidak mudah untuk meyakinkan mereka yang golput agar turut menggunakan hak pilihnya nanti.

“Memang tidak mudah, terutama ketika mereka di publik melihat tontonan kontradiksi atau sudut pandang yang pemilu ini melukai etika,” katanya.

Menurut Sunyoto, mereka yang memutuskan untuk golput ini memilih untuk “tidak ikut-ikutan”. Namun, apabila nantinya mereka ikut serta dalam pesta demokrasi dengan menggunakan hak suaranya tentu efeknya akan terasa.

“Kalau mereka kemudian sadar ikut menjadi penentu pemerintahan, mungkin sekali mereka datang ke bilik suara, tetapi kalau tidak ya agak sulit sekali,” terangnya.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar
Bagikan:

Iklan