Melawi  

Mahasiswa KKL IKIP PGRI Pontianak Gali Sejarah Cagar Budaya Rumah Tua Tanjung Lay di Melawi

Mahasiswa IKIP PGRI Pontianak saat kunjungan ke Rumah Tua Tanjung Lay yang dijadikan cagar budaya di Nanga Pinoh Kabupaten Melawi pada Jumat (29 /12/2023) lalu. SUARAKALBAR.CO.ID.

Melawi (Suara Kalbar)- Sebanyak empat mahasiswa dari IKIP PGRI Pontianak melaksanakan kunjungan ke Rumah Tua Tanjung Lay yang dijadikan cagar budaya di Nanga Pinoh Kabupaten Melawi pada Jumat (29 /12/2023) lalu.

Kunjungan ini dilakukan dalam rangka melaksanakan kuliah kerja lapangan (KKL) mahasiswa dari prodi pendidikan sejarah IKIP PGRI Pontianak, dan juga untuk memperluas pengetahuan dalam sejarah.

Mahasiswa KIP PGRI Pontianak dalam kunjungan tersebut di sambut langsung oleh Kepala Desa Tanjung Lay Radiman dan H. Bustami Nurdin yang merupakan pemilik rumah tua tersebut.

Rumah Tua Tanjung Lay yang merupakan fokus dalam kunjungan pelaksanaan kuliah kerja lapangan (KKL) II para mahasiswa program studi Pendidikan Sejarah IKIP PGRI Pontianak diberi kesempatan untuk melihat dan belajar secara langsung sejarah Rumah Tua Tanjung Lay tersebut.

Radiman dan H. Bustami Nurdin menyatakan kesenangannya dalam kunjungan pelaksanaan kuliah kerja lapangan (KKL) II ini dan mereka berharap bahwa artikel yang akan di tulis bisa lebih memperkenalkan dan memperdalam lagi kepada masyakarat luas tentang Rumah Tua Tanjung Lay tersebut yang menjadi cagar budaya di Kabupaten Melawi.

Dia mengatakan menjelaskan bahwa rumah tersebut sudah ada sejak tahun 1935, kemudian di renovasi kembali pada tahun 1977. Beliau mengatakan bahwa Rumah Tua tersebut digunakan untuk melatih veteran merah putih pada zaman penjajahan Belanda.

Bustami Nurdin mengatakan bahwa yang mengurus Rumah Tua tersebut sampai bisa menjadi cagar budaya di Kabupaten Melawi yang dicari langsung oleh Dinas Pariwisata adalah Amir Ranan yang juga merupakan komandan Proton pada saat itu dan juga adalah saudara Bustami Nurdin.

Ia juga mengatakan bahwa dahulu rumah itu bukan milik mereka akan tetapi rumah tersebut dibeli oleh orang tua nya yang bernama Saleh yang merupakan orang tersebut berasal dari daerah Sasak dengan harga Rp 40 rupiah.

Rumah tua tersebut memiliki desain rumah pada zaman dulu, rumah tersebut juga tidak memiliki kamar, karena pada zaman dulu rumah memang tidak memiliki kamar agar rumah tersebut terlihat lebih luas dan cukup untuk menampung orang banyak jika ada acara-acara resmi.

Sekarang rumah tersebut telah menjadi cagar budaya di Kabupaten Melawi, meskipun rumah tersebut sudah menjadi cagar budaya akan tetapi rumah tersebut masih di tempati oleh saudara dari Haji Bustami Nurdin yaitu Aguslan.

“Rumah tersebut selalu di rawat jika ada bahan bangunan rumah yang rusak selalu di ganti, misalnya seperti lantai, yang terbuat dari kayu kemudian atap jika mengalami bocor atau kerusakan untuk dana rumah tua tersebut mendapatkan bantuan langsung dari pemerintah yang bekerja sama langsung dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Melawi setiap bulan dana yang di dapatkan sebesar Rp 1 juta untuk perbaikan bahan bangunan,” jelasnya.

IKUTI BERITA LAINNYA DI  GOOGLE NEWS