Etos Kartini: Setelah Terang Terbit Keberadaban

  • Bagikan
Eka Hendry

Oleh: Eka Hendry Ar*

KEHADIRAN Raden Ajeng Kartini dalam sejarah perkembangan Indonesia, menjadi catatan penting tentang upaya melepaskan kaum perempuan dari anarkhi patriakhi. Sehingga perempuan mendapatkan kesempatan yang lebih terbuka dalam peran-peran publik, dalam rangka mendokrak posisi perempuan di mata kaum laki-laki. Karena hakekat perjuangan Kartini adalah melepaskan kaum perempuan dari “jeruji” konstruksi sosial hegemoni kaum patriakhi. “Penjara” yang selalu ada dalam setiap episode sejarah umat manusia.

Oleh karenanya, selalu saja lahir para pencerah, yang memperjuangkan pembebasan ini. Termasuk Nabi Muhammad SAW, diantara misi risalah Islam yang dibawa beliau adalah membebaskan praktek perbudakan antara sesama manusia dan diskriminasi terhadap kaum perempuan. Tercatat dalam sejarah jahiliyah Arab, eksploitasi dan penghinaan yang luar biasa terhadap kedudukan dan hak hidup kaum perempuan. Ada satu masa dimana kelahiran anak perempuan tidak dikehendaki dalam keluarga, menjadi aib, sehingga berlaku praktek penguburan bayi perempuan hidup-hidup (wa’dul banat). Kemudian, di pasar perbudakan (slavery), kaum perempuan juga menjadi kelompok rentan (vulnerable) menjadi korban dalam penjualaan manusia, kalau sekarang disebut sebagai women trafficking.

Nabi Muhammad SAW menjadi pelopor penghentian praktek perbudakan, termasuk tindakan diskriminasi terhadap kaum perempuan. Dinyatakan secara eksplisit dalam Quran bahwa Allah telah menciptakan laki dan perempuan, berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, tujuan untuk saling mengenal. Kemudian dinyatakan bahwa yang paling mulia adalah mereka yang paling bertakwa kepada Allah SWT. (Qs. Al Hujurat:13). Quran jelas sekali sikapnya terhadap kedudukan manusia, termasuk antara laki dan perempuan. Kualitasnya tidak ditentukan oleh determinasi kelamin, akan tetapi pada kualitas ketaqwaan (proses pencapaian).

Namun dalam perjalanan waktu, praktek diskriminasi terhadap perempuan terus terjadi, tidak jarang tindakan menjadikan kitab suci sebagai sandaran pembenaran. Seperti contoh, ayat Qs. An Nisa : 34 yang sering dijadikan dasar menempatkan peremuan pada posisi kedua (subordinasi dari laki-laki). Dikatakan bahwa, kaum laki-laki adalah qawamun bagi kaum perempuan. Kata qawam diartikan pemimpin, sehingga mengesankan bahwa perempuan adalah subordinasi kaum laki-laki. Tentu saja penafsiran seperti ini debatable, karena ada juga ulama yang berpendapat kata qawam itu adalah mengayomi, melindungi, sehingga dapat diartikan bahwa tugas kaum laki-laki adalah memelihara dan melindungi kaum perempuan. (Muhammad Asad dalam The Message of the Quran) Tidak dalam makna hirakhis dan hegemonis, tetapi dalam relasi kasing sayang dan melindungi.

Fenomena diskriminasi dengan justifikasi kitab suci maupun hadits Nabi, untuk mendeskriditkan perempuan, ini melahirkan model penafsiran mysoginis, yaitu penafsiran agama yang sarat bias kepentingan laki-laki. Oleh karenanya para sarjana Islam mencoba mengkritisi persoalan tersebut, salah satu yang menonjol adalah Fatima Mernisi. Fatima adalah feminis Islam terkemuka yang banyak melakukan kajian kritik terhadap beberapa hadits yang dijadikan sandaran untuk memojokkan perempuan. Fatimah menggunakan metode sejarah kritis untuk mengungkap apa sebenarnya yang dimaksud oleh Rasulullah SAW. Fatimah meneliti konteks sosio-politik hadits-hadits tersebut, untuk menemukan apa sebenarnya pesan moral dari teks tersebut. Fatima menemukan ternyata ada praktek misoginis tersebut, karena hadits tidak dipahami dalam konteks Nabi berbicara, akan tetapi lebih kepada kepentingan penafsir.

Berbekal kajian yang mendalam para feminis Islam, hingga kini kesadaran gender semakin baik, baik di kalangan kaum perempuan maupun kaum laki-laki terpelajar. Kita sekarang menyaksikan banyak kaum perempuan yang aktif turut serta berkiprah dalam ruang publik, baik sebagai ilmuan, militer, penerbang, pengusaha, maupun politikus. Keseimbangan antara persamaan dan kesejajaran yang diinginkan, dengan tanggung jawab fitrah yang melekat, selalu menjadi catatan sekaligus jadi protes mengapa kebebasan harus bersyarat. Biarkan tugas para feminis memutuskannya, berdasarkan kebebasan mereka memeluk sekian mazhab feminis.

Sebagai orang yang menghormati kedudukan perempuan, penulis hanya mensenaraikan catatan yang menurut hemat penulis penting, sebagai berikut:

Pertama, Perempuan dengan segala pesona dan kelebihannya, hendaknya menyadari bahwa yang bisa mematahkan stigma, mitos dan kontruksi sosial yang memojokkan kaum perempuan adalah kaum perempuan sendiri. Mereka tidak bisa berharap banyak kepada kaum laki-laki. Karena sejatinya watak patriakhi sulit dihilangkan dari kepala kaum laki-laki. Bahkan kadang hegemoni tersebut malah dipertahankan dalam meneguhkan dominasi. Apa yang dilakukan oleh Fatima Mernisi adalah salah satu contoh yang patut ditiru, meskipun barangkali ini contoh yang sedikit elitis.

Kedua, Bergeserlah dari isu “perempuan harus berkiprah di ruang publik atau domestik”, karena itu tidak relevan lagi. Sebagaimana pendapat Julia Kristeva (feminis dan sastrawan Prancis), anda memilih bekerja di ruang publik atau domestik tidak ada persoalan sepanjang itu adalah pilihan bebas anda sendiri. Kata kuncinya adalah kebebasan memilih, tanpa tekanan baik dari orang lain, maupun gengsi akibat paham yang dianut. Bekerja di sektor publik tidak lebih mulia dan terhormat dibandingkan dengan sektor domestik, demikian sebaliknya. Kuncinya adalah sepanjang perempuan dapat memerankan fungsi kemanusian secara bebas, itulah arti penting perjuangan gender.

Ketiga, Jika Kartini membawa kaum peremuan dari kegelapan akal budi menjadi terang benderang arah masa depan dan kebebasan, maka Kartini moderen harusnya dapat membawa kaum perempuan dari terangnya kebebasan menjadi cahaya keberadaban. Perempuan harus membangun keadaban dan mewarnai peradaban kontemporer. Dimensi feminimitas perempuan diperlukan untuk menghadapi pencapaian modern yang cenderung berwatak maskulinitas, seperti ketamakan, eksploitatif, kekerasan, penaklukan, intoleransi dan arogan. Menghidupkan elan vital feminimitas menjadi cara kita mencapai kesimbangan peradaban berkasih sayang (compassion istilah Karen Armstrong).

Demikianlah tulisan ini dihadirkan sebagai bentuk apresiasi terhadap perjuangan kaum perempuan di momentum Hari Kartini. Semoga perjuangan untuk menghadirkan etos Kartini tidak pernah surut, terus bersinar menerangi sisi-sisi gelap praktek penindasan terhadap perempuan yang masih terjadi hinggi kini.

*Penulis adalah Direktur Rumah Moderasi IAIN Pontianak/ Ketua Bidang Keilmuan, Riset dan PT Kahmi Wilayah Kalbar

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

  • Bagikan