Opini  

Dampak Negatif Media Digital Bagi Anak di Bawah Umur

Danang Arjuna.P, Mahasiswa Universitas Siber Asia Jakarta. SUARAKALBAR.CO.ID/Foto. Dok Pribadi

Oleh: Danang Arjuna.P

Mahasiswa Universitas Siber Asia Jakarta

 

KEMAJUAN teknologi saat ini berkembang sangat pesat, bahkan di luar prediksi sebelumnya. Apalagi kemajuan teknologi informasi berbasis internet, yang sangat memberikan kemudahan dalam untuk mengakses informasi dan berkomunikasi.

Berdasarkan data dari  Internet World Stats (IWS) per Maret 2021, pengguna internet di Indonesia telah mencapai angka 212 juta orang, dan menduduki peringkat ketiga di kawasan Asia.

Di era digital ini, yang kemudian diperparah dengan timbulnya pandemi COVID-19 menyebabkan mobilisasi orang terbatas dan tergantikan dengan sarana teknologi informasi. Pada akhirnya banyak menghabiskan waktu untuk beraktifitas melalui sarana komunikasi berupa gadget.

Bahkan ada beberapa kasus yang terjadi pada usia anak mengalami kecanduan gadget sehingga sulit menghindari dan menghabiskan waktu dengan menggunakan gadget, termasuk kecanduan game online ataupun berselancar di media sosial.

Teknologi digital, seperti pisau bermata dua, selain memberikan dampak yang positif dalam memberikan kemudahan berkomunikasi dan mendapatkan akses informasi, juga memberikan dampak negatif yang dapat mempengaruhi penggunanya.

Anak-anak sangat rentan menerima dampak negatif dari media digital, karena pesan yang diterima, tidak seluruhnya mengandung konten yang baik. Sementara usia anak di bawah umur belum bisa mem-filter atau menyaring, konten, atau muatan pesan media yang baik dan yang buruk.

Maka tidak jarang kelompok usia anak menjadi korban dari media digital atau media sosial, karena tak sedikit anak yang memberikan informasi data diri kepada orang yang baru dikenalnya atau belum dikenalnya. Termasuk fenomena cyber crime pun banyak terjadi pada anak di bawah umur.

Mobilitas orang tua yang cukup padat dan menguras waktu dan tenaga, terkadang saat sang anak menangis, tidak sedikit orang tua yang lebih memilih cara instan dengan memberikan fasilitas gadget, tanpa melakukan pendampingan.

Atau dengan kata lain, memberikan sang anak keleluasaan bermain gadget tanpa memberikan pengawasan secara intensif. Hal ini lah salah satu yang menjadi akar permasalahan dimana saat teknologi berkembang sangat pesat tanpa adanya pengawasan dari orang tua.

Akhirnya anak menjadi korban kejahatan seperti kekerasan dan pelecehan (cyber bullying), informasi sesat dan tidak benar (cyber fraud), pornografi dan ada juga menjadi korban penculikan.

Dampak negatif lainnya pun akan dialami oleh anak-anak jika menggunakan media secara berlebihan, yaitu berupa gangguan psikologis seperti di kutip dari www.alodokter.com yang menerangkan dampak psikologis yang dapat muncul pada anak akibat penggunaan media sosial yang berlebihan meliputi gangguan kecemasan dan depresi.

Akibat seriusnya bermedia sosial juga akan mempengaruhi perkembangan mental anak. Jika tidak segera ditangani tidak menutup kemungkinan akan tumbuh dengan cedera mental dan di masa depan akan mengganggu anak dalam kehidupan bermasyarakat.

Fakta ini tergambar dari kehidupan seorang anak perempuan, sebut saja ‘Bunga’ yang mulai mengenal gadget di umur 5 (lima) tahun. Akibat tidak ada pendampingan dari orang tua, semua pesan atau konten di media sosial yang ia terima tanpa ada proses penyaringan, dan akhirnya pesan atau konten tersebut mempengaruhi karakter anak.

‘Bunga’ pun, mengikuti trend di salah satu media sosial yaitu TikTok, tanpa mengetahui dampak yang akan ditimbulkan dengan mengikuti trend tersebut. Mengingat tren bermain Water Beads maka ia mengawali bermain Tiktok di rumah.

Namun belakangan ‘Bunga’ mencoba bermain Water Beads dengan memasukkan benda kecil tersebut ke dalam telinganya. Sehingga akibatnya menimbulkan tersumbatnya saluran pendengaran.

Dampak negatif lain yang di alami ‘Bunga’ adalah sering merasa tertekan karena selalu mendapat bully-an dari teman online-nya dalam bermain game, yang membuat ‘Bunga’ sering menangis di rumah karena perilaku teman online-nya tersebut.

Tak hanya merasa tertekan, pengaruh dari bermain game pun mulai mengubah diri ‘Bunga’ menjadi pribadi yang sering marah, sensitif, keras kepala, dan bersikap kurang sopan terhadap orang lain.

Berdasarkan penuturan dari Bibi ‘Bunga’ yang menjadi nara sumber pada artikel ini mengatakan “Saya sering kesal ketika anak itu susah untuk disuruh padahal hanya disuruh makan, tapi malahan memilih asik bermain gadget sampai lupa waktu!”.

Dari semua dampak negatif tersebut, diakibatkan oleh penggunaan gadget secara berlebihan tanpa adanya pengawasan serta bimbingan dari orang tua.

Oleh karena itu, peran orang tua sangatlah penting untuk membimbing anak dalam menggunakan gadget, termasuk dalam bermain media sosial.

Dalam membimbing, orang tua dapat membatasi waktu bermain gadget bagi anak, orang tua juga harus tahu media sosial apa yang digunakan anak, dalam pengertian lain, orang tua harus lebih peduli dan perhatian penuh pada anak ketika bermain gadget.

Pengetahuan serta pembelajaran tentang pesan media pun juga harus sering diajarkan kepada anak agar anak tidak salah dalam memilih pesan, mana yang positif dan mana yang negatif.

Salah seorang tokoh agama di Kalimantan Barat, Susanto. SE. ME.,menanggapi dampak negatif akan muncul dan mempengaruhi anak, ketika anak kurang diedukasi atau kurang mendapat perhatian orang tua dalam bermedia digital. Sehingga pesan media yang masuk akan sangat mudah mempengaruhi diri anak.

Arus informasi pada media digital saat ini sangatlah besar, semua orang dapat membuat dan menyebarkan informasi dengan sangat mudah, baik informasi yang hoax/keliru, yang benar, baik atau buruk, sementara penggunaan media sosial sebagai fenomena yang tak bisa dihindari.

Tanpa adanya literasi digital yang baik, maka semua orang dapat hanyut ke dalam arus informasi yang buruk bahkan sampai terpengaruh, terutama pada anak kecil (khususnya generasi alpha) yang notabenenya sudah sangat dekat dengan teknologi.

Jadi literasi digital / ICT literacy sangat penting dan diperlukan bagi orang tua untuk mendidik dan mengarahkan anak-anaknya dalam bermedia digital.

Saatnya orang tua lebih peduli dan melakukan pendampingan terhadap anak saat bermain media sosial atau menggunakan gadget. Kepedulian orang tua hanya akan terjadi manakala orang tua juga memilik literasi yang baik terhadap media digital atau media sosial. (*)