Mempawah Gunakan Vaksin Pfizer, Berkelas Sultan asal Amerika, Ampuh Cegah Corona
Mempawah (Suara Kalbar) – Hingga saat ini, perjuangan kita bersama melawan pandemi, sama sekali belum usai.
Kita terus berupaya meminimalisasi penyebaran Coronavirus Diseases 2019, baik dengan cara menerapkan protokol kesehatan, hingga vaksinasi.
Sejauh ini, vaksinasi dianggap sebagai salah satu cara yang paling efektif untuk menekan penyebaran COVID-19.
Dan baru-baru ini pula, Mempawah meluncurkan vaksin baru untuk mewujudkan kekebalan kelompok di masyarakat.
Vaksin itu adalah Pfizer. Sebuah vaksin yang disebut-sebut berkelas “Sultan” karena efektivitasnya yang tinggi dalam melawan Corona.
Sebelumnya, di Mempawah telah digunakan vaksin Sinovac, Astrazeneca dan Moderna.
Khusus Moderna, disebut pula sebagai vaksin yang sekelas dengan Pfizer ini.
Tidak saja karena sama-sama berasal dari Amerika, juga kualitasnya sudah teruji hingga ke benua Eropa.
Tak heran, Arab Saudi sangat merespek adanya Vaksin Moderna dan Pfizer, dan terus digunakan di negeri kaya minyak itu sampai sekarang.
Lalu benarkah vaksin Pfizer benar-benar efektif dan aman untuk melawan Corona?
Di Hari Dokter Nasional ke-71, tepat 24 Oktober 2021 ini, SUARAKALBAR.CO.ID, kembali berhasil mewancarai dokter Sugeng Widodo, Tenaga Medis RSUD dr Rubini Mempawah, tadi siang.
Menurut Sugeng, sapaan akrabnya, bervariasinya jenis vaksin yang diberikan kepada masyarakat merupakan kebijakan pemerintah agar lebih maksimal mengatasi Corona.
“Adanya pemberian vaksin yang semakin bervariasi, merupakan upaya pemerintah agar rakyatnya semakin terlindungi. Jadi, setelah Sinovac, Astrazeneca, dan Moderna, sekarang vaksin Pfizer pun telah tersedia,” jelasnya.
Jadi masyarakat sebaiknya menyambut gembira adanya berbagai jenis vaksin yang disalurkan pemerintah tersebut.
“Bagaimana pun, pemerintah ingin segera mewujudkan herd immunity, sehingga dalam waktu dekat, COVID-19 bukan lah lagi “musuh” bersama yang harus dilawan,” papar alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura Pontianak ini.
Teknologi Rekayasa Genetik
Dipaparkan dokter Sugeng, vaksin Pfizer merupakan merupakan vaksin COVID-19 berbasis mRNA (messenger RNA) yang diproduksi perusahaan Bioteknologi Jerman, BionTech, dan perusahaan farmasi Amerika Serikat, Pfizer.
Daya efektivitas Pfizer sama dengan vaksin Moderna yang terlebih dahulu dipergunakan masyarakat Mempawah.
Vaksin Pfizer akan memicu sistem kekebalan tubuh membentuk spike protein, yang nantinya akan membantu tubuh membentuk antibodi yang dapat melawan virus Corona.
“Jadi Pfizer ini sama sekali tidak mengandung virus Corona yang dilemahkan seperti dalam kandungan Sinovac,” ucapnya lagi.
Platform mRNA dalam Pfizer akan bekerja dengan mengajari sel tubuh cara membuat protein untuk memicu respons imun yang akan menghasilkan antibodi.
“Antibodi inilah yang akan melindungi tubuh dari infeksi virus Corona,” papar dokter Sugeng.
Meski berbasis teknologi genetik, masyarakat tidak perlu khawatir, karena vaksin ini tidak akan mempengaruhi DNA manusia dengan cara apapun.
Vaksin ini diberikan dengan cara injeksi (suntikan) sebanyak dua dosis, dengan interval dosis 1 ke 2 adalah 21 hari.
“Sedikit berbeda dengan Moderna yang punya interval 28 hari, maka vaksin Pfizer cukup 21 hari saja,” jelasnya.
Vaksin Pfizer punya efek perlindungan terhadap COVID-19 sebesar 95%. Dengan demikian, kurang lebih sama dan vaksin Moderna.
Efek yang mungkin dapat terjadi setelah penyuntikan, menurut Sugeng, juga kurang lebih sama dengan vaksin Moderna, yaitu nyeri daerah suntikan, demam, pegal-pegal otot, sakit kepala dan mual.
Teruji Klinis, Disetujui WHO
Vaksin Pfizer telah disetujui Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan sudah mendapatkan WHO EUL (Emergency Use Listing) sejak Desember 2020.
Di Indonesia, vaksin ini juga telah mendapatkan Emergency Use Authorization (EUA) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Vaksin ini sudah pula melewati proses quality control dari BioFarma dan BPOM sebelum digunakan.
Dalam sebuah kajian yang diterbitkan di The New England Journal of Medicine (NEJM), vaksin Pfizer efektif menghadapi varian Alpha dan Beta serta mencegah keparahan yang ditimbulkan infeksi virus kedua varian hingga 97,4%.
Kajian lain yang diterbitkan Public Health England atau PHE Publishing pun menunjukkan, vaksin ini menurunkan risiko dirawat di rumah sakit karena varian Delta.
Terkait keamanan dan efikasi vaksin Pfizer, BPOM telah mengkajinya bersama Tim Ahli Komite Nasional Penilai Vaksin COVID-19 dan Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI).
Penilaian yang mengacu pada pedoman evaluasi mutu vaksin secara internasional ini membuktikan Pfizer telah memenuhi standar persyaratan mutu vaksin.
Lalu siapa saja yang boleh menerima vaksin Pfizer ini?
Berdasarkan literasi nasional, vaksin Pfizer dapat untuk masyarakat umum pada usia 12 tahun ke atas yang belum pernah mendapatkan vaksinasi COVID-19 dosis 1 dan 2.
Selain itu, kelompok prioritas yang dapat menerima vaksin Pfizer adalah remaja, ibu hamil dan juga ibu menyusui.
Kemudian, bisa pula untuk sasaran yang memiliki kondisi immunocompromised seperti autoimun, komorbid berat, penyakit kronis, dan gangguan imunologi lain, yang dibuktikan dengan surat keterangan dokter yang membolehkan vaksinasi.
Di akhir wawancara, Dokter Sugeng Widodo mengucapkan Selamat Hari Dokter Nasional ke-71, tanggal 24 Oktober 2021.
“Jadi lah sosok yang selalu bersemangat untuk mengabdi demi keseahtan negara dan bangsa ini. Jaya selalu Dokter Indonesia!” pungkasnya.






