Cegah Konflik SARA, Susanto: Sentimen Kesukuan Harus Dihilangkan
Mempawah (Suara Kalbar) – Kalimantan Barat memiliki resistensi yang cukup tinggi terhadap potensi konflik yang bernuansa etnis dan agama, sehingga sangat diperlukan upaya deteksi dini.
Ketua DPW LDII Kalimantan Barat, Susanto sependapat dengan langkah atau upaya antisipatif melalui sistem cegah dini.
“Kehadiran Tim Badan Intelijen dan Keamanan (BIK) Mabes Polri untuk melakukan kajian dan pemetaan potensi konflik merupakan keputusan yang tepat dan sebagai upaya pencegahan dini,” ujarnya ketika ditemui suarakalbar.co.id, sesaat setelah acara Focus Group Discussion (FGD) bersama Tim BIK Mabes Polri di Mapolres Mempawah, Rabu (16/6/2021).
Sebagai salah satu narasumber, dirinya menjelaskan konflik bernuansa SARA dapat terjadi diantaranya karena kuatnya sentimen primordialisme, politik identitas dan nilai-nilai universal ajaran agama tidak diutamakan.
“Sentimen primordialisme sekarang semakin kental, sehingga beberapa kasus kriminal sering digeser menjadi masalah etnisitas. Sering terdengar kalimat “suku apa” jika ada kejadian,” kata dia.
Maka saran Susanto, untuk menghilangkan sentimen kesukuan ini perlu diperkuat forum-forum silaturahim.
“Intensitas silaturahim para tokoh mesti diperkuat, sehingga pesan-pesan kerukunan dan kedamaian secara masif harus disampaikan ke masyarakat,” sarannya.
Pria yang juga mantan anggota DPRD Mempawah ini juga menilai, dengan sering dilakukan silaturahim akan terbangun kesamaan persepsi atau pikiran.
“Jika kita sering silaturahim maka akan timbul diskusi-diskusi. Di sinilah akan terbangun kesamaan ide, pikiran dan gagasan,” lanjutnya.
Bahkan, dengan terbangun kesamaan ide (tansiqul manhaj) akan mudah membangun tansiqul harokah.
“Kalau semua komponen daerah ini sudah satu pendapat maka kesamaan gerak (tansiqul harokah) juga bisa diwujudkan. Dengan demikian, sesama etnis bisa saling kerjasama, termasuk dalam mencegah munculnya konflik,” tegas Susanto.






