Cegah Konflik Luar Angkasa, Ilmuwan Minta Semua Negara Patuhi Aturan
![]() |
| Ilustrasi luar angkasa. (Pixabay/Free-Photos) |
Suara Kalbar – Donald Trump mengatakan, pada 2019 bahwa luar angkasa
adalah domain perang baru dan diikuti oleh pembentukan Angkatan Luar
Angkasa Amerika Serikat, sebagai komitmen dominasi negaranya di luar
angkasa.
Negara lainnya yang merasa takut dengan percepatan perlombaan senjata di luar angkasa khawatir dengan hal itu.
Pada pertemuan terakhir Komite Perserikatan
Bangsa-Bangsa untuk Penggunaan Luar Angkasa yang Damai, banyak negara
menyatakan dengan waspada bahwa mencegah konflik di luar angkasa dan
menjaga luar angkasa agar tetap tenang telah menjadi hal lebih penting
dari sebelumnya.
Terpilihnya Joe Biden dan Kamala Harris sebagai
presiden dan wakil presiden Amerika Serikat berikutnya, menunjukkan
adanya harapan.

Masa depan antariksa mungkin lebih mirip dengan peluncuran misi SpaceX Crew-1 NASA ke Stasiun Luar Angkasa Internasional baru-baru ini.
Pemerintahan Biden-Harris tampak lebih tertarik
pada kerja sama internasional dalam luar angkasa. Sejak 1967, aktivitas
manusia di luar angkasa telah dipandu oleh prinsip-prinsip yang diterima
secara universal, tertanam dalam Perjanjian Luar Angkasa.
Itu memastikan bahwa tidak akan ada konflik
militer di luar angkasa dan eksplorasi serta penggunaan luar angkasa
untuk kepentingan semua negara.
Di sisi lain, perang luar angkasa tidak akan
memiliki pemenang yang jelas. Dalam arena yang kompleks dan digunakan
bersama secara global seperti luar angkasa, negara-negara harus mematuhi
aturan yang diterima dan praktik yang ditetapkan.
Dilansir dari Space.com, Selasa (5/1/2021), Amerika Serikat memiliki keunggulan ilmiah dan teknologi yang besar.
Alih-alih mencoba menjadi dominasi, Amerika
Serikat dapat melayani dunia dan negaranya sendiri dengan lebih
memfokuskan kepemimpinannya pada pemanfaatan luar angkasa untuk semua
umat manusia.






