Kasus Ikan Mati di Sungai Retok, Dinas LH Landak Tunggu Hasil Lab
Landak (Suara Kalbar) – Kasus ribuan ekor ikan mati di Desa Retok Kabupaten Kabupaten Kubu Raya yang diduga akibat limbah dari pabrik kelapa sawit dari di wilayah Kecamatan Sebangki Kabupaten Landak hingga saat ini masih menunggu hasil uji sampel laboratorium.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Landak, Banda Kolaga mengaku baru menerima laporan pada 16 April 2022 dari Kepala Desa Agak dan Camat Sebangki dengan dibuat berita acara.
“Kami setelah menerima laporan langsung memerintahkan tim untuk pengambilan sampel berupa air dan ikan yang mati untuk dibawa di laboratorium Barestan,” kata Banda dihubungi Suarakalbar.co.id pada Kamis (21/4/2022) malam.
Banda menegaskan, jika nantinya sudah ada hasil dari Lab, akan dibacakan bersama di kantor camat Sebangki dengan mengundang semua pihak. Jika ternyata hasil lab kematian ikan di sungai akibat limbah pabrik kelapa sawit, maka pihak perusahaaan harus bertanggungjawab.
“Kami juga akan membawa kasus ini ke Gakkum. Tapi jika hasil lab bukan akibat limbah pabrik sawit, silahkan pihak perusahaan menuntut balik ada tuduhan yang dilaporkan dari berbagai pihak. Jadi, kami dari LH juga masih menunggu hasil lab sampel yang kita bawa,” tegas Banda.
Seperti diketahui, ribuan ekor berbagai jenis ikan di Desa Retok, Kabupaten Kubu Raya, mati mengapung di sungai dan membuat warga sekitar heboh. Matinya bermacam jenis ikan tersebut diduga akibat pencemaran limbah pabrik kepala sawit yang berada di sekitar hulu sungai di daerah itu.
Kepala Desa Retok, Sahidin mengatakan dirinya bersama sejumlah tim pun kemudian menelusuri sungai Retok di Kubu Raya. Ditengah perjalan, rombongan Kepala Desa melihat sejumlah ikan mati terlihat mengapung.
Ikan-ikan itu diantaranya ikan Baung, Tilan, Tamparas dan ada pula ikan Buntal. Sahidin katakan, ada juga jenis ikan lainnya yang mati, seperti Tingadak, Kilabo, Tapah, udang, Baung tikus, Belut, Bintutu, Jelawat, Ringau, Kaloi, Lais, Sengarat, Banga, Babungalan, hingga siluk atau arwana.
“Ikan-ikan di Sungai Retok tiba-tiba mengapung dan mati. Kematian seperti ini cenderung aneh,” katanya saat dihubungi suara.com – jaringan suarakalbar.co.id.
Sahidin memastikan, matinya ikan-ikan di sepanjang Sungai Retok dan sekitarnya itu bukan karena racun. Akan tetapi terindikasi pencemaran limbah sawit.
“Saya pastikan ini bukan disebabkan racun ikan. Karena dari ciri-ciri air, air sungai keruh, berbeda jika disebabkan racun ikan. Selain itu, air sungai mengandung minyak,” ujarnya.
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS





