Kisah Pilu Semasa Pandemi, Tak Surutkan Usaha Keladi untuk Terus Berkembang dan Berinovasi
Singkawang (Suara Kalbar) – Keladi, menjadi salah satu bahan panganan yang sudah terkenal di Kalimantan Barat. Jenis makanan yang biasa ditemui dipasar tradisional ini tak kalah menarik jika dibandingkan dengan jenis makanan lain yang juga menjadi ciri khas Kota Pontianak, Singkawang dan beberapa kawasan lainnya di Kalbar.
Seperti stik keladi dengan berbagai macam rasa, sudah biasa ditemui dan menjadi salah satu favorite makanan warga Kalimantan Barat.
Keladi juga memiliki manfaat bagi kesehatan dengan kandungan gizi tinggi, sehingga menjadi satu diantara alternatif program devertifikasi pangan non beras. Khusus di Kelurahan Sungai Bulan, Semelagi Kecil dan Setapuk Besar Singkawang, sebelum masa pandemi, produksi yang mereka dapatkan disetiap hari bahkan bulannya dapat mereka kirim ke Negara tetangga seperti Malaysia melalui kawasan perbatasan Aruk Kabupaten Sambas.
Akibat kawasan perbatasan yang ditutup, masyarakat menemui kesulitan dalam memasarkan keladi, sehingga memerlukan solusi untuk memanfaatkan Keladi yang tidak laku dijual namun tetap bermanfaat dan dapat dijual kembali.
Anggota Kelompok Pengolahan Hasil (Poksil) Bulan Purnama Kelurahan Sungai Bulan Singkawang Utara, Tati Haryati menceritakan hal tersebut kepada wartawan saat bersama Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Barat, Agus Chusaini mengunjungi tempat Pengolahan Hasil Keladi mereka.
Sebelum Kasus Covid-19 melanda, Anggota Poksil Bulan Purnama dapat terus memproduksi olahan keladi sehingga dapat menghidupkan seluruh anggota dan keluarganya. Meski hanya disekitar Kota Singkawang, namun hasil pengolahan keladi dapat menjadi sumber perekonomian dikawasan tersebut.
Namun, hingga tiba masa pandemi beberapa kesulitan mereka temui termasuk hasil produksi yang tak lagi dapat mereka lakukan mengingat tak ada lagi orderan keladi hingga kawasan perbatasan yang tutup akibat kasus Covid-19 yang meningkat di Indonesia dan juga di Malaysia.
Tak sering, mereka menemui keladi busuk akibat tak dapat diolah karena roda perekonomian terpaksa berhenti karena tak lagi memiliki modal untuk memproduksi keladi.
“Memanfaatkan lahah seluas 40 hektar lebih di Singkawang Utara dengan produksi rata-rata 209 ton per hektar, kami menemukan kesulitan dimasa pandemi. Singkatnya, karena border ditutup dan kami tidak bisa menyimpan lebih lama maka kami lakukan inovasi dengan mengolah keladi menjadi tepung,” ungkap Tati sembari memperlihatkan hasil tepung keladi yang telah mereka produksi.
Dijelaskan Tati jika Pengolahan Hasil Bulan Purnama dapat memproduksi 50 Kilogram umbi menjadi 10 Kilogram tepung, dengan jenis yang sama dan masa usia yang bebas untuk diolah menjadi tepung.
”Agar tidak mubazir, maka kami mengambil umbi yang memang tidak bisa digunakan untuk kripik yang kalau untuk kripil ada masa umurnya, tidak lewat 8 bulan. Sehingga yang usianya lebih dari 8 bulan kami olah menjadi tepung,” jelasnya.
Dikatakan Tati, tepung talas yang telah dikemas yaitu ukuran 250 gram, 500 gram sampai 1 Kilogram dengan harga Rp50.000 per Kilogramnya.
Kawasan Singkawang dan sekitarnya, dan pernah ada pesanan dari Provinsi, bahkan sudah dikirim ke seluruh Kabupaten Kota di Kalbar. Sementara proses pembuatan tepung talas cukup talas dikupas, kemudian dicuci dan dirajang sesuai ukuran atau dipotong menggunakan alat perajang khusus atau parut atau jika tidak memiliki alat perajang dapat menggunakan pisau dapur.
Selanjutnya rendam irisan talas menggunakan garam 6% selama 2 jam, kemudian bilas, rendam lagi menggunakan air biasa selama 30 menit lalu tiriskan. Selanjutnya keringkan dengan oven suhu 60-70° kurang lebih selama 24 jam atau sampai dirasa cukup kering.
“Setelah kering masukkan irisan talas ke mesin penepung atau giling selama ± 5 menit, atau menggunakan alat penumbuh, selanjutnya saring menggunakan saringan hingga menjadi tepung talas,” jelasnya.
Dukungan akan usaha yang dilakukan Penghasil olahan keladi ini didukung oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Barat, Agus Chusaini. Ia melihat potensi di luar negeri harga tepung talas sangat mahal sehingga sangat optimis pemanfaatan talas tidak hanya membuat tepung, tetapi dapat diolah menjadi makanan lain yang dapat bermanfaat bagi masyarakat banyak.
“Sehingga tidak hanya dapat dibuat tepung tetapi bagaimana memperhatikan kebersihan serta kualitasnya harus dijaga,” tegasnya.
Agus menambahkan bukan hanya menyiapkan kebutuhan orang kemudian dijual, melainkan menciptakan kebutuhan.
“Sama halnya produk baru yang belum banyak dikenal orang, tetapi dengan promosi dan mengikutsertakan di pameran-pameran, pasti produk itu akan dikenal dan diminati banyak orang,” tuturnya.
Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Kalbar,
Ansfridus J Andjoe saat dihubungi Suarakalbar.co.id mendukung upaya usaha kecil dan menengah termasuk Pengolahan Hasil (Poksil) Bulan Purnama Kelurahan Sungai Bulan Singkawang Utara yang ada di Kota Singkawang. Menurutnya dimasa pandemi saat ini, inovasi menjadi salah satu hal penting yang dapat dilakukan agar usaha yang dilakukan dapat terus berjalan.
“Dukungan kepada UKM termasuk kepada mereka yang melakukan pengolahan makanan ini akan kami jadikan bahan contoh untuk seluruh kawasan yang dengan banyak kesulitan ditemui mengolah makanan yang tidak tahan lama untuk dijadikan dan diolah sehingga tetap dapat diproduksi. Seluruh kawasan di 14 Kabupaten/Kota yang ada dapat melakukan hal yang sama sehingga meski menemukan kesulitan dimasa pandemi tapi mereka tetap dapat berproduksi sehingga bermanfaat tidak saja bagi anggota tetapi masyarakat sekitar,” paparnya
Mantan Kaban Balitbang Kalbar inipun melihat jika apa yang dilakukan Pengolahan Hasil Keladi menjadi salah satu modal dasar penguatan ekonomi desa dikawasan Kota Singkawang itu sendiri.“Dasar penguatan ekonomi dikawasan itu sudah kuat sehingga kami sangat mendukung dalam pengolahan keladi menjadi tepung untuk dapat dipasarkan dan diproduksi dengan bahan yang jauh lebih berkembang dari saat ini,” pungkasnya.






